Rupiah Melemah, Ekonom Universitas Brawijaya Minta Masyarakat Tak Panik
Samsul Arifin May 28, 2026 09:14 PM

 

Laporan Wartawan TribunJatim.com, David Yohanes

TRIBUNJATIM.COM, MALANG - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat terus mengalami tekanan hingga menembus kisaran Rp17.870 per dolar AS pada Kamis (28/5/2026).

Kondisi tersebut membuat Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Brawijaya (FEB UB), Dr. rer. pol. Wildan Syafitri, mengingatkan masyarakat agar tidak mudah panik atau terpengaruh sentimen negatif yang justru bisa memperburuk kondisi ekonomi.

Menurut Wildan, salah satu faktor yang turut menentukan stabilitas rupiah bukan hanya kondisi ekonomi global, tetapi juga ekspektasi masyarakat dan investor terhadap perekonomian nasional.

"Kalau masyarakat merasa ekonomi sedang tidak baik, mereka cenderung mencari aset yang dianggap aman seperti dolar. Permintaan dolar naik, akhirnya rupiah semakin tertekan," kata Wildan pada Kamis (28/5/2026).

Ia menjelaskan, nilai tukar pada dasarnya bergerak berdasarkan mekanisme permintaan dan penawaran (demand and supply). 

Ketika permintaan terhadap dolar meningkat, sementara permintaan terhadap rupiah melemah, maka kurs rupiah akan mengalami tekanan.

Baca juga: Menkeu Purbaya Sebut Rupiah Rp17.800 per Dolar AS Tak Masuk Akal, Padahal Ekonomi Bagus

Capital Outflow dan Suku Bunga AS Jadi Faktor Utama

Wildan menilai, kondisi ini salah satunya dipicu oleh capital outflow atau arus modal asing yang keluar dari Indonesia. 

Situasi tersebut biasanya terjadi ketika investor melihat negara lain, terutama Amerika Serikat, lebih menarik untuk menempatkan investasinya karena suku bunga lebih tinggi dan dianggap lebih aman.

"Kalau suku bunga di Amerika naik, investor cenderung memindahkan dananya ke sana. Dampaknya, permintaan dolar meningkat dan rupiah melemah,” jelasnya.

Tak hanya faktor ekonomi global, Wildan menyebut gejolak geo politik internasional, konflik antar negara, hingga ketidakpastian pasar saham juga ikut memengaruhi kepercayaan investor terhadap negara berkembang seperti Indonesia.

Menurutnya, ketika pasar saham melemah dan kepercayaan investor turun, potensi capital outflow semakin besar, yang akhirnya kembali memberi tekanan pada nilai tukar rupiah.

Wildan menegaskan, pelemahan rupiah memang tidak selalu langsung dirasakan masyarakat.

Baca juga: Kata Purbaya soal Rupiah Tembus Rp17.800 per Dolar AS, Sebut APBN Aman Tak Perlu Hitung Ulang

Dampak Pelemahan Rupiah Bisa Pengaruhi Harga Barang

Namun, dalam jangka bertahap, dampaknya bisa masuk ke berbagai kebutuhan sehari-hari karena Indonesia masih cukup bergantung pada barang impor, termasuk kedelai, gandum, terigu, hingga sebagian komponen bahan bakar minyak (BBM).

Ketika rupiah melemah, harga bahan baku impor otomatis meningkat. 

Kondisi itu membuat biaya produksi naik dan pada akhirnya dibebankan kepada konsumen.

"Kalau rupiah melemah, biaya produksi meningkat dan akhirnya harga barang di masyarakat ikut naik. Contohnya bahan pangan seperti tempe atau produk berbasis terigu," katanya.

Menurut Wildan, kenaikan harga energi seperti BBM juga bisa memicu efek berantai karena berdampak pada biaya distribusi, transportasi, hingga harga barang secara umum.

"Meningkatnya harga BBM itu karena beberapa komponennya masih impor. Akhirnya biaya produksi naik dan produsen membebankan ke konsumen," jelasnya.

Meski rupiah melemah, Wildan menilai kondisi ekonomi Indonesia saat ini belum mengarah pada krisis besar seperti tahun 1998.

Ia menegaskan, ada perbedaan mendasar antara kondisi saat ini dengan krisis moneter 1998, mulai dari regulasi ekonomi yang lebih kuat, inflasi yang masih terkendali, hingga kemampuan pemerintah menjaga stabilitas harga kebutuhan pokok.

"Kalau dibandingkan 1998 itu berbeda. Regulasi sekarang lebih kuat dan kebutuhan pokok masih bisa dijangkau masyarakat," ujarnya.

Wildan mengakui ada penurunan konsumsi pada kelompok tertentu, khususnya kelas menengah. 

Namun menurutnya, kondisi tersebut masih dalam batas wajar dan belum menjadi sinyal krisis serius.

Ia menyebut ancaman krisis ekonomi biasanya ditandai jika pertumbuhan ekonomi mengalami kontraksi selama dua kuartal berturut-turut, disertai inflasi tinggi dan penurunan daya beli secara drastis.

"Potensi krisis tentu selalu ada, tetapi kondisi sekarang masih relatif aman dan terkendali," katanya.

Wildan menilai, menjaga optimisme masyarakat menjadi salah satu kunci penting agar tekanan terhadap rupiah tidak semakin besar.

Ia menekankan, pemerintah perlu menghadirkan kebijakan yang kredibel, konsisten, serta mampu memberi kepastian hukum dan rasa aman bagi investor.

Menurutnya, penguatan sektor keuangan, kemudahan perizinan, pengendalian korupsi, hingga menjaga stabilitas politik menjadi faktor penting untuk meningkatkan kepercayaan pasar terhadap Indonesia.

"Investor tidak cukup hanya diberi pernyataan optimistis, tetapi juga perlu melihat bukti nyata melalui kebijakan yang konsisten dan memberikan kepastian hukum,” tegas Wildan.

Ia pun mengingatkan bahwa pergerakan dolar ke depan masih sangat bergantung pada berbagai faktor global, mulai dari geo politik internasional, harga minyak dunia, kondisi pasar saham, hingga tingkat kepercayaan investor terhadap Indonesia.

"Naik turunnya dolar tidak bisa diprediksi secara pasti. Itu tergantung kondisi global dan bagaimana kepercayaan investor terhadap Indonesia," tandasnya.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.