TRIBUNMANADO.CO.ID- Membaca Alkitab lalu merenungkannya setip hari akan membuat kita mengerti kehendak Tuhan.
Setelah itu melakukan kehendak Tuhan yang sudah kita baca dan renungkan.
Berikut renungan harian Kristen berjudul pertarungan dua kekuatan.
Baca juga: Renungan Malam Yakobus 3: 1-12, Antara Lidah dan Racun
Ditulis oleh Jopy Malihu dalam moment of inspiration LPMI.
Firman Tuhan dalam Yohanes 18:38-19:16
Maka kata Pilatus kepada-Nya: "Tidakkah Engkau mau bicara dengan aku?
Tidakkah Engkau tahu, bahwa aku berkuasa untuk membebaskan Engkau, dan berkuasa juga untuk menyalibkan Engkau?"
Yesus menjawab: "Engkau tidak mempunyai kuasa apapun terhadap Aku, jikalau kuasa itu tidak diberikan kepadamu dari atas Sebab itu: dia, yang menyerahkan Aku kepadamu, lebih besar dosanya." (Yohanes 19:11-12)
Dalam narasi ini, kita menemukan dua tokoh utama yang sangat kontras: Yesus dan Pilatus.
Keduanya sama-sama tampil di hadapan publik, tetapi dengan identitas dan kuasa yang bertolak belakang.
Yesus tampil sebagai Raja sejati, meski dalam rupa yang penuh penghinaan: mahkota duri, jubah ungu, dan sindiran "raja orang Yahudi" (19:1-3).
Semua ini secara ironis menegaskan kemesiasan-Nya yang telah dinyatakan sejak awal (18:39; bdk. Yoh 1:49; 12:13; 18:37, 39; 19:3, 14, 15, 19).
Ia Raja dari atas, dari kerajaan yang bukan dari dunia ini.
Pilatus tampil sebagai wakil kekuasaan tertinggi Romawi di Yudea.
Sebagai gubernur, ia memegang kuasa militer dan sipil, termasuk lus Gladi, hak untuk menentukan hukuman mati.
Pilatus menjadi simbol kekuatan dunia: penuh kuasa, strategis, dan berfokus pada kestabilan politik.
Ia duduk di kursi pengadilan dan memimpin sidang terhadap Yesus (19:13).
Pilatus sendiri tidak menemukan kesalahan apa pun pada Yesus (18:38; 19:4, 6) dan bahkan berusaha membebaskan-Nya (19:12).
Namun, ia menyerah pada tekanan massa, memilih untuk menyenangkan orang banyak demi mempertahankan kedudukannya (18:39-40; 19:6, 12, 15).
Meski demikian, Yesus menegaskan bahwa bukan Pilatus yang membuat-Nya disalib, tetapi karena Ia sendiri yang menyerahkan diri-Nya sebagai bagian dari ketaatan kepada Bapa (19:11).
Ini potret pertarungan dua kekuatan, antara kerajaan Allah dan kerajaan dunia, antara mengosongkan diri dan mempertahankan kedudukan, antara mengorbankan diri dan menyelamatkan diri, antara kebenaran dan ketidakjujuran, antara rendah hati dan tinggi hati, antara kehendak Allah dan kehendak manusia.
Inspirasi : Sebab, Kristus telah menunjukkan, jalan kemenangan adalah salib, ketaatan kepada Bapa, dan integritas, bukan penindasan, pencitraan, atau kompromi.