TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN - Tim akademisi dari UPN Veteran Yogyakarta dan Universitas Gadjah Mada (UGM) ikut terjun dalam kasus kemunculan api misterius rumah warga di Seyegan, Sleman.
Seperti diketahui, rumah Agus Yani di Seyegan, Sleman dilanda kemunculan titik api misterius dalam sepekan terakhir.
Total, sudah ada puluhan kali titik api muncul secara misterius dan acak di rumah tersebut.
Fenomena misterius itupun memancing perhatian dari sejumlah pihak, mulai dari kepolisian, BPBD, Pemerintah Daerah hingga kalangan akademisi dan ahli.
Tim dari Fakultas Teknologi Mineral dan Energi (FTME) Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Yogyakarta, misalnya, yang ikut melakukan investigasi ke rumah Agus Yani.
Hal yang sama dilakukan Fakultas Teknik UGM yang menerjunkan Tim Pusat Kajian Pelambatan Entropi (PKPE) guna melakukan observasi di lapangan.
Dekan FTME UPN “Veteran” Yogyakarta, Basuki Rahmad, mengatakan indikasi sementara adalah adanya gas di bawah permukaan.
Dalam investigasi yang dilakukan, pihaknya menyusuri sungai yang berada sekitar 300 meter dari rumah Agus.
Di sungai tersebut, ia mengamati ada sebuah singkapan batuan lanau berwarna gelap. Dalam singkapan batuan tersebut, ia melihat adanya genangan air.
“Kami sisir, kami lacak indikasi gelembung-gelembung gas. Akhirnya ketemu gelembung-gelembung gas yang indikasi kuat itu gas metana, gas CH 4, tepat di bawah Jembatan Nepen,” katanya, Sabtu (30/5/2026).
Baca juga: Sumber Teror Api di Rumah Warga Seyegan Sleman, Metana dari Bekas Rawa
“Kemudian kami cek dengan paralon untuk ngecek seberapa besar secara manual lah. Ternyata gas itu memang lemah. Tapi ketika paralon kita cabut, gas itu langsung nyembur di bawah air. Jadi indikasi kuat sumber gas ini adalah gas metana dari rawa,” sambungnya.
Batuan lanau yang ditemukan juga menjadi indikasi kuat wilayah tersebut dahulu merupakan bekas rawa.
Warna batuan lanau yang gelap menjadi tempat tersimpannya gas metana.
Batuan lanau tersebut pun diambil sebagai sampel untuk diteliti lebih lanjut.
Basuki menerangkan gas yang tersimpan di batuan jenuh akan terus bergerak dan bermigrasi.
Dari investigasinya, ada indikasi jalur semacam patahan yang mengarah ke utara.
“Dan diindikasikan kuat juga, migrasi ini nyasar ke rumah Pak Agus. Sampai sekarang kelihatannya gas sudah menurun, tidak ada gejala api,” ujarnya.
Sebagai langkah awal, ia menyarankan penghuni rumah untuk mengosongkan sementara rumah di lantai satu selama satu bulan.
Sementara para penghuni rumah dapat menempati lantai dua, mengingat rumah tersebut terdiri dari dua lantai.
Pihaknya juga akan turut memantau perkembangan yang terjadi selama sebulan ke depan.
Sebagai langkah mitigasi yang lebih komprehensif, ia mendorong dilakukannya rekaman geofisika.
Tujuannya untuk melihat kondisi bawah permukaan tanah, seberapa besar reservoir gas yang tersimpan, luasan, hingga tebal tanah.
Rekaman geofisika ini juga menjadi upaya mitigasi agar kejadian serupa tidak terjadi lagi.
“Kalau kemungkinan (terjadi di wilayah yang sama), itu serba kemungkinan. Cuma kita tidak tahu kapan. Jadi gas itu terus bermigrasi. Maka saran kami kalau memang harus lebih rindi dilakukan rekaman geofisika,” imbuhnya.
Dosen Departemen Teknik Geologi UGM, Sarju Winardi, mengatakan dugaan yang paling kuat penyebab kebakaran di rumah Agus Yani adalah gas metana.
Pihaknya juga mengukur suhu di rumah tersebut dengan kamera thermal. Hasilnya suhu tempat yang terbakar memiliki suhu relatif tinggi.
“Ya itu wajar karena ketika dia terbakar suhunya naik. Ke depan kami rencananya akan membawa alat untuk mengukur kandungan gas metana yang ada di tempat ini,” katanya usai observasi, Sabtu (30/5/2026).
“Dan juga sampel air, karena beberapa waktu yang lalu, keluarnya gas itu juga bersamaan dengan jalur-jalur pipa air, ada sumur keluar api. Maka kami juga mengukur sampel air, apakah terkontaminasi metana atau tidak,” sambungnya.
Sarju menerangkan benda-benda terbakar di dalam rumah karena akumulasi gas.
Benda yang berpori seperti pakaian, sofa, akan menyimpan gas. Ketika kadarnya mencukupi dan terkena oksigen, maka benda tersebut akan terbakar dengan sendirinya.
“Sifat gas itu kalau jumlahnya tertentu, dia kena oksigen, O2, CH 4, itu dia akan nyala. Mungkin perantaranya air, atau dia keluar lewat lantai yang bocor. Semua yang berpori, tanah kan juga berpori, itu juga bisa bisa (meresap). Seperti air itu kan waktu di bawah tidak terbakar, tetapi ketika sudah keluar (kran) terbakar, karena kena oksigen,” terangnya.
Guna mencegah kebakaran berulang, pihaknya menyarankan penghuni rumah untuk memperbaiki sirkulasi udara.
Selain itu, penghuni rumah juga bisa memasang kipas angin atau blower udara bisa keluar dan menurunkan kadar gas metana di dalam rumah.
Ia menambahkan secara prinsip gas metana bersifat mengambang, naik ke udara.
Jika terbawa angin, kadarnya biasanya sangat menurun, sehingga relatif aman.
“Makanya begitu sirkulasi dibuka, kemudian ada kipas angin, keluar (udara), bercampur dengan udara (luar), kadarnya sudah sangat berkurang. Sehingga mengurangi potensi terbakar,” imbuhnya.
(tribunjogja.com/maw)