TRIBUN-SULBAR.COM, MAMUJU - Momen Hari Raya Idul Adha membawa berkah bagi penyedia jasa penggilingan daging di Kabupaten Mamuju, Sulawesi Barat.
Sulfahri, pemilik usaha penggilingan daging di Kompleks Pasar Baru, Mamuju mengatakan, H+4 Lebaran, tepatnya Minggu (31/5/2026), tempat usahanya masih terus dipadati warga yang ingin mengolah daging kurban mereka.
Sulfahri mengaku mengalami lonjakan pelanggan yang sangat drastis dibandingkan hari-hari biasa.
Baca juga: 2 Coffee Shop di Mamuju Tengah Sudah Daftar untuk Nobar Piala Dunia 2026
Baca juga: Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global
Jika pada hari biasa ia hanya menggiling sekitar 20 kilogram daging per hari, kini jumlahnya melonjak hingga lebih dari 300 kilogram dalam sehari.
“Iya, rata-rata per hari lebih dari 300 kilogram kalau saat Idul Adha. Biasanya hanya 20 kilogram per hari,” ujar Sulfahri saat diwawancarai di sela-sela kesibukannya.
Antrean Mengular, Didominasi Ibu-ibu membawa Kantong Plastik
Berdasarkan pantauan di lokasi, suasana di Kompleks Pasar Baru Mamuju tampak sangat ramai.
Antrean warga mengular hingga ke area luar kios "Penggilingan Daging Bakso Cahaya Belawa".
Para pelanggan yang didominasi ibu-ibu dan sebagian pria tampak berdiri merapat di depan meja kasir dan area mesin giling.
Mereka rela mengantre dengan sabar sambil menjinjing kantong plastik berisi potongan daging kurban segar.
Beberapa di antara mereka bahkan tetap mengenakan helm sepeda motor karena enggan kehilangan tempat dalam antrean yang padat.
Kondisi serupa juga terlihat di kios "Penggilingan Daging Setyani (Mas Tukio)".
Di sana, warga tampak berinteraksi langsung dengan petugas penggilingan di balik sekat kios yang sederhana.
Beberapa warga yang kelelahan berdiri memilih untuk menunggu sambil duduk di bangku panjang yang disediakan di samping kios, sementara kantong-kantong plastik berisi daging diletakkan rapi di dekat mereka menanti giliran.
Sulfahri menambahkan, sebagian besar masyarakat sengaja datang untuk menggiling daging agar bisa diolah menjadi pentol bakso.
Fenomena ini telah menjadi tren tersendiri di masyarakat pasca-Idul Adha.
Menurut warga, mengolah daging kurban menjadi bakso dinilai jauh lebih praktis untuk disajikan dan memiliki daya simpan yang lebih tahan lama di dalam lemari es dibandingkan jika hanya disimpan dalam bentuk daging segar atau diolah menjadi masakan bersantan.
Untuk menikmati layanan ini, Sulfahri mematok tarif sebesar Rp 40.000 per kilogram.
Harga tersebut sudah merupakan paket komplit, di mana pelanggan tidak perlu repot lagi meracik bumbu.
“Jadi tinggal diolah jadi bakso atau makanan lainnya,” jelas Sulfahri.
Hal yang menarik pada Idul Adha tahun ini adalah durasi keramaian yang bertahan lebih lama.
Jika pada tahun-tahun sebelumnya puncak keramaian hanya terjadi pada hari pertama dan kedua lebaran, tahun ini antusiasme warga tetap tinggi hingga hari keempat.
Konsetrasi warga yang konstan ini tentu saja mendongkrak pendapatan para pemilik jasa giling.
Dengan tarif Rp 40.000 per kilogram untuk volume rata-rata 300 kilogram per hari, maka dalam jangka waktu empat hari pasca-lebaran saja, omzet yang berhasil dikantongi penyedia jasa penggilingan daging ini diperkirakan mencapai Rp 48 juta.(*)
Laporan Wartawan Tribun-Sulbar.com, Suandi