Api Masih Intens Muncul di Rumah Seyegan Sleman
Yoseph Hary W May 31, 2026 06:14 PM

 

TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN - Di ruang depan rumah itu, jarum jam berdetak menunjukkan pukul 12.47 WIB. Bagi Agusyani, setiap detik adalah pertaruhan. Tepat di menit itu, sebuah kardus berisi buku tiba-tiba mengepulkan asap hitam dan memantik api. 

Itu adalah nyala api ke-66,-- dari akumulasi lebih dari sepekan,-- yang harus ia padamkan. Pemilik rumah di Padukuhan Mriyan X, Kasuran, Margomulyo, Seyegan, Kabupaten Sleman ini merasa lelah telah lama menghantui mata, tenaga dan pikirannya.

"Titik lokasinya mungkin ada sekitar 60, karena ada satu titik yang terbakar sampai dua atau tiga kali," ujar Agusyani dengan raut wajah, yang tak bisa menyembunyikan rasa letihnya, Minggu (31/5/2026).

Menguras energi penghuni rumah

Kemunculan api di rumah dua lantai ini seolah sengaja menguras energi penghuni rumah tanpa jeda. Bayangkan saja, sejak kemarin sore, Agusyani harus berkejaran dengan waktu demi menjinakkan 10 kali kemunculan api yang muncul secara acak. 

Pola waktu dan lokasinya tak pernah bisa ditebak. Suatu waktu, sepotong kaos yang tersampir di kursi kamar tengah hangus menghitam. Sofa, helm, handuk, gulungan kabel, karpet, hingga tas berisi wadah telur tiba-tiba terbakar.

Di waktu lain, api melalap tumpukan kayu di area belakang rumah,-- bahkan di lokasi tersebut, api kembali berkobar dengan nyala yang jauh lebih tinggi. 

"Api kemarin menyala hampir bersamaan, ada di ruang tengah dan belakang," ucap Agus. 

"Lelah ya lelah, tidur ya sak kenane (sebisanya)," imbuh Agus, menggambarkan bagaimana setiap hari tak bisa tenang. Mata dipaksa terus terbuka demi menjaga rumah dan keluarganya. 

Delapan hari kini telah berlalu, sejak api kali pertama muncul pada Jumat (22/5/2026) dinihari. Selama itu pula, Agusyani dan keluarganya harus rela hidup dalam kondisi darurat. Mereka terpaksa mengungsi di sebuah ruko tepat di samping rumahnya.

Pintu, rolling door, hingga jendela rumah mereka saat ini dipaksa menganga lebar sepanjang hari. Deretan ember berisi air dan handuk basah, serta Alat Pemadam Api Ringan (APAR) harus selalu siap di sudut rumah. 

Di antara dinding-dinding yang menghitam terbakar api, mereka kini terus terjaga, berharap agar api yang muncul misterius ini bisa segera menemui titik padam selamanya. Jika dikalkulasi, keluarga Agusyani, dari rentetan musibah ini telah menderita kerugian materil maupun immateril hingga Rp 40an juta rupiah. 

Mencari Penyebab Nyala Api

Fenomena aneh dan tak biasa ini telah mengubah rumah tinggal Agusyani menjadi seperti laboratorium lapangan.

Berbagai instansi lintas sektoral kini telah turun tangan langsung. Mulai dari Tim Gegana Sat Brimob Polda DIY, BPBD Sleman, Basarnas, hingga Dinas PUPESDM DIY.

Mereka datang untuk mencari tahu penyebab sekaligus menganalisa dari potensi bahaya yang lebih besar.

Analisis sementara dari Tim Gegana Polda DIY, sumber api diduga akibat gas metana yang bocor dari Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) rumah tangga.

Gas metana ini sementara masih berpotensi muncul dalam kurun waktu sekitar satu minggu hingga satu bulan pasca-penanganan karena gas sudah menyebar di bawah lantai. 

Sementara, ahli Universitas Pembangunan Nasional (UPN) menduga kuat adanya akumulasi gas metana rawa yang telah terperangkap di bawah tanah selama bertahun-tahun. Gas purba ini disinyalir bersumber dari kawasan jembatan Nepen di aliran Sungai Konteng.

Lokasi sungai ini dengan rumah Agusyani berjarak sekitar 300-500 meter di sisi timur. Gas tersebut merembes naik melalui patahan atau pori-pori tanah, lalu menyulut secara spontan begitu bergesekan dengan suhu ruang yang tinggi atau pemantik sekecil apa pun di dalam rumah.

Fakultas Teknik dari Universitas Gadjah Mada (UGM) juga telah menerjunkan tim ahli multidisiplin. Para pakar di bidang Teknik Mesin dan Industri, Geologi, Nuklir, Fisika, hingga Teknik Sipil dan Lingkungan berjibaku memetakan fluktuasi suhu menggunakan pengukur thermal gun.

Tim UGM ini baru tahap observasi awal untuk memperoleh data dasar sebelum dilakukan penelitian mendalam demi menemukan jawaban di balik penyebab fenomena aneh ini.

Upaya mencegah kebakaran

Di tengah ketidakpastian penyebab sumber api, keluarga Agusyani bukan berdiam diri. Mereka telah berupaya dengan sebaik-baiknya dan sehormat-hormatnya untuk mencegah kebakaran.

Anak Agusyani, Mutfiana mengungkapkan, segala ikhtiar atau upaya telah mereka tempuh demi mengurangi potensi munculnya api. Misalnya dengan pengosongan barang-barang. Lantai dasar rumah kini lebih terbuka karena seluruh barang-barang yang rawan terbakar dievakuasi keluar.

 Lukisan-lukisan yang semula menghias dinding dan dianggap mudah terbakar telah diturunkan. Di kamar dan sudut ruangan, beberapa unit kipas angin dipasang dan menderu tanpa henti. Ini adalah debuah ikhtiar darurat untuk mengurai konsentrasi kepekatan gas metana agar tidak memadat dan memicu munculnya api baru. 

Tak hanya itu, mereka juga telah menguras septic tank, mengganti paralon-paralon yang dicurigai bocor, hingga meninggikan pipa saluran pernapasan limbah domestik mereka. 

"Segala apa pun yang bisa kami lakukan, sudah kami lakukan," ucap Mutfiana.(*) 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.