TRIBUNTRENDS.COM - Masyarakat Bali belakangan merasakan suhu udara yang lebih dingin dibandingkan biasanya, terutama pada malam hingga pagi hari.
Fenomena ini dipastikan sebagai kondisi alam yang normal dan rutin terjadi setiap tahun saat memasuki musim kemarau.
Balai Besar Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BBMKG) Wilayah III Denpasar menjelaskan bahwa penurunan suhu tersebut dipengaruhi oleh pergerakan massa udara dingin dari Australia yang saat ini sedang mengalami musim dingin.
Baca juga: Bale Slambiangan di Pura Beji Taman Tiga Badung Bali Terbakar, Kerugian Ditaksir Sampai 110 Juta
Prakirawan BBMKG Wilayah III Denpasar, Wayan Gita Giriharta, mengatakan tekanan udara tinggi di Benua Australia mendorong aliran udara dingin bergerak menuju Indonesia, termasuk melintasi wilayah Bali dan sekitarnya.
BMKG menjelaskan ada beberapa faktor yang menyebabkan suhu udara di Bali terasa lebih dingin pada periode ini.
Pertama, masuknya massa udara dingin dari Australia yang aktif bergerak ke wilayah Indonesia.
Kedua, pengaruh monsun Australia yang mulai dominan saat musim kemarau. Ketiga, posisi matahari yang berada di Belahan Bumi Utara sehingga wilayah Indonesia bagian selatan khatulistiwa menerima penyinaran matahari yang lebih sedikit.
Selain itu, langit yang relatif cerah dan minim tutupan awan membuat panas yang tersimpan di permukaan bumi lebih cepat terlepas ke atmosfer pada malam hari.
Baca juga: Ribut Turis Bule di Tempat Hiburan Malam Kuta Bali, Pengunjung Baku Hantam & Saling Lempar Botol
Berdasarkan prakiraan BBMKG Denpasar, suhu minimum di Bali pada 30–31 Mei 2026 berada di kisaran 20 derajat Celsius, sementara suhu maksimum mencapai sekitar 32 derajat Celsius.
Angka tersebut menunjukkan penurunan dibandingkan pekan sebelumnya ketika suhu minimum masih berada di sekitar 21 derajat Celsius.
Di kawasan dataran tinggi seperti Bedugul, Kabupaten Tabanan, dan Kintamani, Kabupaten Bangli, suhu udara bahkan diperkirakan berada pada rentang 19 hingga 30 derajat Celsius.
Kondisi ini membuat udara di kawasan wisata pegunungan tersebut terasa jauh lebih sejuk dibandingkan daerah pesisir.
Baca juga: WN Belanda Ketahuan Tanam Ganja di Kontrakan Denpasar Bali, Dilakukan dengan Peralatan Hidroponik
Di tengah kekhawatiran terhadap melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat, sektor pariwisata justru melihat peluang yang cukup besar untuk meningkatkan kunjungan wisatawan mancanegara.
Melemahnya rupiah membuat biaya liburan di Indonesia menjadi lebih murah bagi wisatawan asing yang menggunakan dolar AS maupun mata uang kuat lainnya.
Bali sebagai destinasi wisata utama nasional menjadi salah satu daerah yang paling berpotensi merasakan manfaat dari situasi tersebut.
Dengan biaya liburan yang lebih murah, wisatawan cenderung memiliki anggaran lebih besar untuk menikmati berbagai aktivitas wisata selama berada di Pulau Dewata.
Meningkatnya jumlah wisatawan asing diperkirakan akan memberikan efek berganda bagi perekonomian daerah.
Tidak hanya hotel dan maskapai penerbangan yang memperoleh manfaat, tetapi juga restoran, jasa transportasi lokal, pusat oleh-oleh, pelaku ekonomi kreatif, hingga pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Ketika wisatawan memiliki daya beli yang lebih tinggi, pengeluaran mereka untuk akomodasi, kuliner, hiburan, serta produk lokal cenderung meningkat.
(TribunTrends.com/Talitha)