Proyek Ambisius Google: Lepas 32 Juta Nyamuk Hasil Rekayasa Genetik Selama Dua Tahun
Hasiolan Eko P Gultom May 31, 2026 11:35 PM

 

Program tersebut bertujuan menekan populasi nyamuk pembawa penyakit, bukan menambah jumlah serangga yang mengganggu masyarakat.

Menurut laporan Yahoo, nyamuk yang akan dilepas telah direkayasa agar tidak efektif dalam membawa penyakit dan diharapkan dapat mengganggu siklus perkembangbiakan nyamuk yang menjadi vektor berbagai penyakit menular.

Pelepasan nyamuk tidak akan dilakukan sekaligus.

Sebaliknya, program dirancang berlangsung secara bertahap selama dua tahun sehingga para peneliti dapat memantau hasilnya dan melakukan penyesuaian jika diperlukan.

California dan Florida dipilih sebagai lokasi utama karena kedua negara bagian tersebut memiliki aktivitas nyamuk yang tinggi serta riwayat wabah penyakit yang ditularkan melalui gigitan nyamuk.

Meski demikian, proyek tersebut belum dapat dijalankan sebelum memperoleh persetujuan dari otoritas federal AS.

Regulator akan mengevaluasi data keamanan, dampak lingkungan, serta mekanisme pemantauan sebelum memberikan keputusan.

Penilaian tersebut bertujuan memastikan manfaat kesehatan masyarakat yang dihasilkan lebih besar dibandingkan potensi risiko terhadap ekosistem setempat.

Ilustrasi nyamuk pembawa virus
Ilustrasi nyamuk pembawa virus (Sky News)

Nyamuk Mampu Beradaptasi

Usulan ini muncul di tengah meningkatnya penelitian mengenai perilaku nyamuk dan strategi pengendalian penyakit.

Sebuah studi yang diterbitkan dalam Journal of Experimental Biology menemukan bahwa nyamuk memiliki kemampuan beradaptasi terhadap lingkungan, termasuk belajar mengaitkan aroma obat antinyamuk dengan sumber makanan.

Dalam penelitian tersebut, sebagian nyamuk yang berulang kali terpapar aroma penolak serangga bahkan menunjukkan kecenderungan lebih toleran terhadap bau tersebut dan dalam beberapa kasus tetap tertarik menggigit manusia yang menggunakan repelan.

Penulis utama studi, Claudio Lazzari, mengatakan respons nyamuk terhadap bahan penolak serangga tidak semata-mata ditentukan oleh sifat kimia zat tersebut, tetapi juga oleh cara nyamuk menafsirkan sinyal di lingkungannya.

Temuan itu menunjukkan tantangan yang dihadapi ilmuwan dalam mengendalikan populasi nyamuk, sekaligus menjadi alasan mengapa pendekatan baru, termasuk penggunaan nyamuk rekayasa genetik, terus dikembangkan untuk memerangi penyakit yang ditularkan serangga tersebut.



© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.