BANJARMASINPOST.CO.ID - Penyebab kematian mantan polisi yang tembak warga di Kalteng mulai terungkap.
Anton Kurniawan setelah gagal kabur dari Lapas Kelas II A Palangka Raya, ditempatkan di sel isolasi.
Selama di sel isolasi diketahui Anton menolak makanan maupun minuman yang diberikan pihak lapas.
Hingga akhirnya kondisinya melemah dan dugaan serangan jantung terungkap.
Baca juga: Mama Muda Tewas Dianiaya Suami, Pelaku Bergairah Lihat Istri Kesakitan Disiksa, Hasil Otopsi Terkuak
Baca juga: Kompleks Pasar Berguncang Hebat, 5 Korban Dikabarkan Tewas, Diduga Bom Perang Dunia II Meledak
Anton Kurniawan adalah mantan anggota polisi yang dihukum penjara seumur hidup di kasus penembakan sopir ekspedisi pada November 2024 lalu.
Eks anggota Polresta Palangka Raya yang menembak sopir ekspedisi asal Kalsel, Budiman Arisandi.
Kasus kematian Anton di Lapas Kelas II A Palangka Raya ini menjadi perhatian publik. Pasalnya, ia juga sempat mencoba melarikan diri satu minggu sebelum ditemukan tak berdaya tepatnya Sabtu (23/5/2026) lalu.
Anton Kurniawan, narapidana yang dihukum penjara seumur hidup, ditemukan meninggal dunia di sel isolasi pada Lapas Kelas II A Palangka Raya, Sabtu (30/5/2026).
Ia ditemukan petugas jaga sudah tak berdaya sekira pukul 23.35 WIB.
Berdasarkan hasil pemeriksaan awal, Kepala Kanwil Ditjenpas Kalteng, I Putu Murdiana membeberkan penyebab kematian Anton adalah gagal jantung, bukan karena percobaan bunuh diri.
Saat ini, pihak Ditjenpas Kalteng sudah membentuk tim investigasi guna untuk memastikan apakah ada kelalaian atau kesalahan prosdur dalam kasus kematian Anton.
Kerabat Anton dari Wonosobo, Sugi mengungkapkan, Anton sempat menghubungi keluarga di hari yang sama sebelum dinyatakan meninggal dunia.
"Pagi harinya dia menghubungi keluarga," ujar Sugi saat ditemui di RS Bhayangkara, Minggu (31/5/2026).
Sugi menyebut, saat menghubungi keluarga Anton berpesan agar kedua anaknya disekolahkan di kampung halamannya, Wonosobo, Jawa Tengah.
Baca juga: Dicurigai Kiriman Menantu, Nenek A Tewas Usai Makan Sate Diduga Beracun, Kuburannya Kini Dibongkar
"Pesannya kalau terjadi apa-apa dengan saya minta kedua anakku sekolah di Wonosobo, begitu saja katanya," ucap Sugi mengulang pesan dari Anton.
Selain itu, Sugi mengatakan, Anton tak pernah mengeluh sakit atau mendapat kekerasan selama berada di lapas.
Sementara itu, Kepala Kanwil Ditjenpas Kalteng mengungkapkan, Anton tak pernah ada upaya menyakiti diri, namun ia menolak makan beberapa hari sebelum ditemukan meninggal dunia.
Murdiana menegaskan, pihaknya sudah berupaya untuk memenuhi kebutuhan dasar Anton termasuk makan dan minum.
"Kecuali kalau kami tidak menyiapkan, itu baru kami melanggar," ungkapnya.
Kepala Kanwil Ditjenpas Kalteng, I Putu Murdiana mengatakan, setelah percobaan kabur itu, Anton dimasukkan ke ruang isolasi.
"Di sel isolasi yang bersangkutan satu kamar sendiri tidak ada warga binaan lainnya," ujar Murdiana saat melaksanakan jumpa pers, Minggu (31/5/2026).
Murdiana membeberkan, pihaknya mengecek kondisi Anton di sel isolasi setiap satu jam sekali.
"Sedangkan untuk kebutuhannya, makan, minum, pengontrolan kesehatan dilakukan secara rutin," kata dia.
Berdasarkan laporan Lapas Kelas II A Palangka Raya, Murdiana mengungkapkan, Anton diketahui tak bergerak sekira pukul 20.32 WIB. Saat itu petugas lapas sedang mengecek kondisi Anton di sel isolasi.
"Saat pengecekan itu yang bersangkutan masih ada pergerakan," ungkapnya.
Setelah satu jam berikutnya, petugas kembali mengecek kondisi dan memanggil nama Anton dari depan pintu sel. Namun ia tak merespon.
"Di situlah ada kecurigaan petugas, lalu dilaporkan ke atasannya masing-masing yang berpiket pada saat itu," jelasnya.
Kemudian, sekira pukul 23.35 kembali dilakukan pengecekan bersama komandan jaga. Saat itu, posisi Anton sudah dalam posisi telungkup dengan kepala menghadap ke lantai.
Baca juga: TERPOPULER KALSEL- Penempuan Mayat Terluka di Pengaron dan Waspada Begal Payudara Martapura
Mengetahui kondisi Anton itu, petugas kemudian berkoordinasi dengan Kalapas serta pihak kepolisian.
"Sambil menunggu petugas tiba di Lapas yang bersangkutan masih di dalam isolasi," ungkapnya.
Setelah dipastikan Anton meninggal dunia, kepolisian langsung melaksanakan olah TKP. Lalu, jenazah Anto dibawa ke RS Bhayangkara sekira pukul 03.00 WIB, Minggu (31/5/2026). Selanjutnya, dilakukan oautopsi terhadap jenazah Anton.
"Dari hasil sementara ada gagal jantung di situ," tegas Murdiana.
Untuk memastikan kepastian dugaan gaga jalntung itu, sampel hasil autopsi terhadap jenazah Anton dibawa ke Lab Forensik di Banjarmasin.
Sementara itu, jenazah Anton dibawa ke rumah duka di Jalan Pasir Panjang, Palangka Raya dan akan dimakamkan di kampung halamannya di Wonosobo, Jawa Tengah. (Tribunkalteng/banjarmasinpost.co.id)
.