Keimanan dan ketakwaan mendukung berkembangnya penalaran kritis, kreativitas, dan kemandirian

Jakarta (ANTARA) - Pancasila yang hari lahirnya diperingati setiap tanggal 1 Juni menjadi dasar negara dan pandangan hidup bangsa Indonesia serta sumber nilai atau fondasi dalam penyelenggaraan pendidikan yang inklusif, adil, humanis, dan berkualitas.

Sebagai ideologi yang terbuka (open ideology), Pancasila memiliki nilai dasar, nilai instrumental, dan nilai praksis yang dapat dikembangkan sesuai dengan dinamika internal bangsa Indonesia serta tuntutan perkembangan global sehingga terwujud cita-cita hidup berbangsa dalam mencapai harkat dan martabat kemanusiaan (human dignity).

UU Sisdiknas Nomor 20 tahun 2003 Pasal 3 secara tegas menyatakan pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk mengembangkan potensi murid agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

Pendidikan bermutu yang menjadi visi Kemendikadasmen di era Presiden Prabowo merupakan salah satu pilar penting dalam pembangunan bangsa.

Dalam era globalisasi dan persaingan yang semakin ketat, pendidikan bermutu tidak hanya menjadi kebutuhan, tetapi juga menjadi keharusan untuk menciptakan generasi yang berdaya saing. Dalam pelaksanaannya, pendidikan bermutu tidak hanya berorientasi pada pencapaian akademik semata, tetapi juga pada pembentukan karakter murid yang berlandaskan nilai-nilai Pancasila.

Korelasi nilai-nilai

Permendikdasmen Nomor 10 tahun 2025 tentang Standar Kompetensi Lulusan (SKL) memuat delapan dimensi profil lulusan yang berakar dari nilai-nilai Pancasila yang harus dimiliki oleh lulusan murid di level pendidikan dasar dan menengah, yaitu keimanan dan ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, kewargaan, penalaran kritis, kreativitas, kolaborasi, kemandirian, kesehatan dan komunikasi.

Dimensi keimanan dan ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa menjadi landasan utama dalam pembentukan karakter murid. Hal ini terkait dengan keyakinan dan pengamalan ajaran agama/kepercayaannya, berakhlak mulia, serta menjaga hubungan dengan Tuhan Yang Maha Esa, sesama manusia, dan lingkungan sehingga mendorong murid untuk memiliki integritas, kejujuran, tanggung jawab, serta kepedulian terhadap sesama.

Landasan moral ini berkaitan erat dengan dimensi kewargaan karena murid yang beriman dan bertakwa akan menghormati hak dan kewajiban sebagai warga negara, memiliki rasa bangga akan identitas dan budayanya, menghargai keberagaman, menjaga persatuan bangsa, menaati aturan bernegara dan bermasyarakat, serta menjaga keberlanjutan kehidupan, lingkungan, dan harmoni antarbangsa. Dengan demikian, keimanan dan ketakwaan tidak hanya membentuk hubungan manusia dengan Tuhan, tetapi juga memperkuat perannya sebagai warga negara yang baik.

Keimanan dan ketakwaan mendukung berkembangnya penalaran kritis, kreativitas, dan kemandirian. Murid dengan nilai-nilai spiritual kuat akan terdorong untuk memiliki rasa ingin tahu, mampu berpikir logis dan analitis, serta mampu menganalisis dan menyelesaikan permasalahan, berargumentasi logis, dan memanfaatkan literasi dan numerasi untuk memecahkan masalah.

Kreativitas yang dilandasi keimanan memungkinkan murid berperilaku produktif, menciptakan inovasi, dan merumuskan solusi bagi permasalahan di sekitarnya, atau dengan kata lain, menghasilkan gagasan dan karya yang bermanfaat bagi masyarakat. Hal ini akan mendukung kemandirian murid di mana mereka mampu bertanggung jawab, berinisiatif, dan beradaptasi dalam pembelajaran dan pengembangan diri.

Dimensi kolaborasi dan kesehatan memiliki hubungan yang erat dengan dimensi keimanan dan ketakwaan. Ajaran agama mengajarkan pentingnya gotong royong, saling menghormati, dan bekerja sama untuk mencapai tujuan kolektif, sehingga memperkuat kemampuan kolaboratif murid. Nilai syukur dan tanggung jawab terhadap anugerah Tuhan juga mendorong murid menjalankan pola hidup bersih dan sehat berdasarkan pemahaman tentang kebugaran, kesehatan fisik dan mental, dan berkontribusi secara positif terhadap lingkungannya.

Pribadi yang beriman akan memiliki etika komunikasi yang santun, jujur, dan penuh empati. Mereka diarahkan memiliki kemampuan menyimak, membaca, berbicara, dan menulis dengan baik dan benar, sesuai etika dalam beragam konteks dan moda sehingga dapat menyampaikan gagasan secara efektif sekaligus menghargai pandangan orang lain.

Strategi penguatan

Pembiasaan nilai-nilai karakter dalam kehidupan sehari-hari di sekolah sangat efektif untuk menguatkan dimensi keimanan dan ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa serta kewargaan.

Kegiatan keagamaan, refleksi diri, keteladanan guru, serta pembelajaran mendalam yang menanamkan nilai Pancasila dan semangat kebhinekaan sangat penting untuk membentuk murid yang berakhlak mulia, toleran, dan bertanggung jawab sebagai warga negara.

Selain itu, partisipasi murid dalam kegiatan sosial, organisasi, dan pengabdian kepada masyarakat dapat memperkuat rasa kepedulian, empati, dan komitmen terhadap kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.

Penguatan dimensi penalaran kritis, kreativitas, dan kemandirian dapat dilakukan melalui penerapan pembelajaran mendalam yang berpusat pada murid, seperti pembelajaran berbasis masalah dan pembelajaran berbasis proyek.

Melalui kegiatan tersebut, murid dimotivasi untuk mengidentifikasi masalah, menganalisis informasi, menemukan solusi, serta menghasilkan karya yang inovatif dan bermanfaat. Murid harus diberikan kesempatan untuk merencanakan, melaksanakan, dan mengevaluasi proses belajarnya sendiri sehingga akan membantu mengembangkan sikap mandiri, tanggung jawab, dan kemampuan belajar sepanjang hayat.

Sementara itu, untuk menguatkan dimensi kolaborasi, kesehatan, dan komunikasi dapat direalisasikan melalui kegiatan pembelajaran kelompok, proyek kolaboratif, olahraga, serta berbagai aktivitas yang mendorong interaksi positif antarmurid.

Sekolah perlu menciptakan lingkungan yang inklusif, bebas dari kekerasan dan perundungan, serta melindungi seluruh warga sekolah secara fisik, psikologis, maupun di ruang digital sehingga murid dapat berkembang secara optimal, baik secara fisik maupun mental.

Kemampuan komunikasi dapat ditingkatkan melalui diskusi, presentasi, lomba debat, dan pemanfaatan media digital secara bertanggung jawab. Dengan pendekatan yang terpadu dan berkelanjutan, seluruh dimensi tersebut dapat berkembang secara seimbang sehingga menghasilkan lulusan yang berkarakter, kompeten, sehat, dan siap menghadapi tantangan abad ke-21.

Refleksi

Implementasi nilai-nilai Pancasila dalam pendidikan bermutu untuk semua merupakan langkah strategis. Pendidikan yang berpijak pada nilai ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, demokrasi, dan keadilan sosial akan menciptakan lingkungan belajar yang inklusif, berkualitas, dan berkeadaban.

Nilai-nilai Pancasila menjadi fondasi utama dalam penguatan delapan dimensi profil lulusan sehingga diharapkan dapat menumbuhkan generasi yang cerdas, berkarakter, kompeten, dan mampu menghadapi tantangan global tanpa kehilangan jati diri bangsa Indonesia.

Melalui kolaborasi seluruh pihak; pemerintah, sekolah, guru, orang tua, dan masyarakat, nilai-nilai Pancasila dapat diwujudkan secara nyata dalam kehidupan pendidikan sehari-hari demi tercapainya Indonesia yang maju, adil, dan berdaya saing global.

*) Unu Nurahman, Pengawas SMA KCD Wilayah VIII Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat, Dosen FIB Universitas Sebelas April Sumedang