SURYA.CO.ID - Kasus kematian wanita paruh baya berinisial A (57), warga Dukuh Sindon, Desa Sindon, Kecamatan Ngemplak, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah, mulai menemukan titik terang.
A diduga meninggal dunia setelah keracunan memakan sate ayam misterius yang dikirim orang tak dikenal melalui jasa ojel online (ojol).
Jenazah A ditemukan di rumahnya pada Selasa (19/5/2026) pagi.
Berawal saat anak kedua korban hendak menitipkan cucu seperti rutinitas biasanya.
Namun, ia melihat lampu rumah sang ibu masih menyala terang benderang—sesuatu yang sangat tidak biasa dilakukan oleh korban di pagi hari.
Baca juga: Gelagat Anton Kurniawan Pecatan Polisi Sebelum Meninggal di Penjara, Pesan Soal Anak ke Keluarga
Setelah berkali-kali pintu diketuk tanpa jawaban, anak korban meminta bantuan tetangga sebelah rumah bernama Mutarom.
Warga terpaksa mendobrak pintu rumah secara paksa.
Begitu pintu terbuka, korban ditemukan sudah dalam kondisi telentang tidak bernyawa di lantai.
Kondisi jasad korban A saat pertama kali dievakuasi dinilai sangat tidak wajar oleh pihak keluarga dan mengindikasikan gejala keracunan makanan yang hebat.
"Kondisi saat ditemukan, kondisinya terlentang, tangannya mengepal, terus di kaos itu ada bekas muntahan yang keluar dari mulut," ungkap kakak kandung korban, Widodo dikutip dari Tribun Jateng.
Ia menambahkan, posisi tangan yang mengepal kaku memicu kecurigaan mendalam.
"Kalau orang meninggal wajar itu tidak mengepal. Itu mungkin menahan sakitnya karena memakan racun," lanjutnya.
Selain pakaian yang dipenuhi muntahan, mulut korban tampak mengeluarkan busa, serta bagian mulut dan daun telinga korban berubah warna menjadi membiru.
Melihat kondisi korban yang tidak wajar, keluarga mulai mencari penyebabnya.
Kecurigaan muncul dari paket sate ayam misterius yang dimakan korban.
Berdasarkan penelusuran pihak hukum keluarga, paket sate ayam maut tersebut diketahui dibeli di wilayah Pandean, Kecamatan Ngemplak.
Makanan itu kemudian dikirim ke rumah korban menggunakan jasa ojek online (ojol).
Anehnya, pesanan ojol tersebut menggunakan akun atas nama Luriyanti, yang tidak lain adalah anak kedua korban.
Namun, Luriyanti mengaku sama sekali tidak pernah memesan maupun mengirimkan makanan apa pun kepada ibunya hari itu.
Sebelum menyantap hidangan tersebut pada Senin (18/5/2026) sore, korban A sempat menelepon Luriyanti untuk memastikan asal-usul kiriman.
Karena merasa tidak memesan, Luriyanti menaruh curiga dan sempat melarang ibunya untuk memakan sate ayam tersebut.
"Oleh anak, orang tuanya diminta tidak memakan sate. Yang semula tidak tahu siapa yang mengirim," jelas Widodo mengingat percakapan telepon malam itu.
Sate ayam misterius yang diduga kuat mengandung racun berbahaya kini memicu fenomena ayam mati mendadak di sekitar kediaman korban.
Bumbu dari sisa sate ayam kiriman misterius yang dibuang oleh korban ternyata dipatok oleh sejumlah unggas.
Akibatnya, sebanyak lima ekor ayam mati secara massal dengan gejala yang tidak wajar setelah mengonsumsi sisa makanan tersebut.
Kuasa hukum keluarga korban, Wiwik Dwi Habsari, mengungkapkan bahwa salah satu bangkai dari lima ekor ayam mati tersebut kini telah disita oleh aparat kepolisian.
Langkah ini diambil sebagai salah satu bukti kasus keracunan sate untuk diteliti lebih lanjut oleh tim laboratorium forensik.
"Selain barang bukti berupa pakaian korban yang terkena muntahan, penyidik juga telah mengamankan satu ekor ayam yang mati setelah memakan sisa sate tersebut," ujar Wiwik saat mendampingi pemeriksaan saksi di Polres Boyolali, Sabtu (30/5/2026) malam.
Penemuan lima ekor ayam mati mendadak ini memperkuat dugaan pihak keluarga bahwa sate ayam yang dikonsumsi korban mengandung zat beracun mematikan.
Kakak kandung korban, Widodo (61), membenarkan bahwa sisa bumbu sate yang dibuang di sekitar pekarangan langsung membuat ayam-ayam milik warga terkapar tidak bernyawa.
"Ada 5 ekor ayam mati setelah memakan sate sisa dari korban, kemudian untuk sampel satu ekor ayam yang mati itu kita simpan," kata Widodo, Minggu (31/5/2026).
Kondisi ini menambah daftar panjang kejanggalan dalam kronologi keracunan sate Boyolali.
Pihak keluarga kini menyerahkan sepenuhnya proses pembuktian ilmiah kepada Polres Boyolali dan Tim Laboratorium Forensik (Labfor) Polda Jawa Tengah.
Merasakan banyak kejanggalan, keluarga sempat berkonsultasi ke Polsek Ngemplak pada Kamis (21/5/2026) sebelum akhirnya melayangkan laporan resmi ke Polres Boyolali pada Senin (25/5/2026).
Merespons laporan tersebut, Polres Boyolali bergerak cepat dengan melakukan proses ekshumasi atau pembongkaran makam korban di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Desa Sindon pada Sabtu (30/5/2026) siang.
Pembongkaran makam yang melibatkan tim Dokkes Polda Jawa Tengah ini dilakukan setelah korban sempat dimakamkan selama 11 hari sejak Selasa (19/5/2026).
Langkah ekshumasi dan otopsi ini dinilai krusial guna memastikan zat kimia atau jenis racun apa yang bersarang di tubuh korban sekaligus mencocokkannya dengan sampel ayam mati yang mematok bumbu sate tersebut.
Pihak kepolisian masih menunggu hasil resmi otopsi dan uji laboratorium forensik untuk mengungkap dalang serta motif di balik pengiriman sate maut ini.
Di bagian lain, keluarga mencurigai sosok menantu korban berinisial P.
Kakak kandung korban, Widodo (61), mengungkapkan selama ini hubungan antara korban dan P tidak harmonis.
Menurutnya, P kerap meminta uang kepada korban dengan berbagai alasan yang belakangan diketahui tidak benar.
“Terduga pelaku P sering meminta uang ke korban dengan cara berbohong. Jadi P ini tidak merasa bersalah, tidak merasa dosa, dan tidak punya malu,” ujar Widodo, Minggu (31/5/2026).
Menurut Widodo, hubungan antara korban dan menantunya semakin memburuk setelah sejumlah kebohongan yang dilakukan P diketahui oleh korban.
Sejak saat itu, komunikasi keduanya disebut tidak lagi berjalan baik.
Ia juga menilai rekam jejak P selama ini kurang baik.
Selain disebut sering meminjam uang kepada sejumlah teman, P juga diduga memiliki kebiasaan bermain judi online.
“Track record P ini sudah jelek. Tiap hari cari utang ke teman-temannya dan sering main judi online,” katanya.