TRIBUNTRENDS.COM - Kematian seorang perempuan paruh baya berinisial A (57), warga Dukuh Sindon, Desa Sindon, Kecamatan Ngemplak, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah, terus menyisakan tanda tanya besar.
Peristiwa yang semula dianggap sebagai kematian biasa kini berkembang menjadi kasus yang menyita perhatian publik setelah muncul dugaan kuat bahwa korban meninggal akibat mengonsumsi sate ayam misterius yang dikirim secara anonim ke rumahnya.
Berbagai fakta yang terungkap belakangan semakin memperkuat kecurigaan keluarga. Mulai dari asal-usul kiriman makanan yang tidak jelas, kematian sejumlah ayam peliharaan usai memakan sisa bumbu sate, hingga dugaan keterlibatan orang terdekat korban.
Seluruh rangkaian peristiwa itu kini tengah menjadi fokus penyelidikan aparat kepolisian.
Sebagai bagian dari upaya mengungkap penyebab pasti kematian korban, tim Dokkes Polda Jawa Tengah bersama Polres Boyolali melakukan ekshumasi atau pembongkaran makam korban di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Desa Sindon pada Sabtu (30/5/2026).
Autopsi dilakukan untuk mencari jawaban ilmiah atas dugaan keracunan yang selama ini berkembang di tengah masyarakat.
Baca juga: Curhatan Terakhir Korban Pembunuhan di Yasmin Bogor, Janji ke Kakaknya Akan Pulang ke Makassar
Kuasa hukum keluarga korban, Wiwik Dwi Habsari, mengungkapkan bahwa sate ayam yang diduga berkaitan dengan kematian korban dibeli di wilayah Pandean, Kecamatan Ngemplak, sebelum dikirim ke rumah korban menggunakan jasa ojek online.
"Kecurigaan muncul setelah diketahui sate ayam itu dibeli di wilayah Pandean, Ngemplak, lalu dikirim ke rumah korban menggunakan jasa ojek online oleh seseorang yang diduga berinisial P," ujar Wiwik saat mendampingi pemeriksaan saksi di Polres Boyolali, Sabtu (30/5/2026) malam.
Informasi tersebut menjadi salah satu petunjuk penting yang kini sedang ditelusuri penyidik untuk mengungkap siapa sebenarnya pengirim makanan tersebut dan apa motif di balik pengiriman sate ayam yang berujung tragedi itu.
Fakta lain yang membuat kasus ini semakin rumit adalah penggunaan identitas anak korban dalam proses pemesanan layanan pengiriman makanan.
Menurut hasil penelusuran keluarga, pesanan sate ayam tersebut dikirim menggunakan akun ojek online atas nama Luriyanti, anak kedua korban. Namun, perempuan tersebut membantah keras pernah melakukan pemesanan ataupun mengirim makanan kepada ibunya.
"Setelah ditelusuri, ternyata anak kedua korban yang namanya digunakan dalam pemesanan itu merasa tidak pernah mengirim sate ayam kepada ibunya yang tinggal sendirian di Sindon," kata Wiwik.
Karena merasa curiga dengan paket makanan yang datang tanpa diketahui pengirimnya, korban sempat menghubungi sang anak untuk meminta penjelasan.
Bahkan, sebelum sate tersebut disantap, anak korban telah memperingatkan agar makanan itu tidak dimakan.
"Awalnya tidak tahu siapa yang mengirim. Bahkan anak korban sempat meminta agar sate itu tidak dimakan karena pengirimnya tidak jelas," tutur Wiwik.
Meski telah diperingatkan, korban diduga tetap mengonsumsi makanan tersebut.
Baca juga: Deretan 11 Warung Sate Kelinci Terpopuler di Tawangmangu Karanganyar yang Kelezatannya Bikin Nagih
Kecurigaan keluarga semakin menguat setelah terjadi peristiwa yang dianggap tidak lazim di sekitar rumah korban.
Lima ekor ayam peliharaan milik korban dilaporkan mati mendadak setelah memakan sisa bumbu sate yang dibuang.
Kejadian tersebut membuat keluarga semakin yakin bahwa terdapat zat berbahaya dalam makanan yang dikonsumsi korban.
Kakak kandung korban, Widodo (61), mengatakan pihak keluarga sengaja menyimpan salah satu bangkai ayam untuk dijadikan sampel pemeriksaan.
"Ada lima ekor ayam yang memakan sisa sate korban. Untuk sampel, satu ekor ayam yang mati kami simpan," jelas Widodo.
Saat ini, bangkai ayam tersebut telah diamankan penyidik bersama sejumlah barang bukti lain, termasuk pakaian terakhir korban yang terkena muntahan.
"Selain barang bukti berupa pakaian korban yang terkena muntahan, penyidik juga telah mengamankan satu ekor ayam yang mati setelah memakan sisa sate tersebut," ucap Wiwik.
Dalam perkembangan kasus ini, keluarga korban mengaku memiliki kecurigaan terhadap seorang pria berinisial P yang merupakan menantu korban dan berdomisili di Kartasura, Kabupaten Sukoharjo.
Menurut Widodo, hubungan antara korban dan P selama ini tidak berjalan harmonis. Ia menyebut pria tersebut kerap meminjam uang kepada korban dengan berbagai alasan yang dinilai tidak jujur.
"Terduga pelaku P sering meminta uang ke korban dengan cara berbohong. Jadi P ini tidak merasa bersalah, tidak merasa dosa, dan tidak punya malu," ungkap Widodo.
Widodo juga menyinggung kebiasaan P yang disebut memiliki masalah keuangan dan diduga terlibat judi online.
"Track record P ini sudah jelek. Tiap hari cari utangan ke teman-temannya dan sering main slot judi online," imbuhnya.
Yang membuat keluarga semakin curiga, pada malam hari setelah sate tersebut dikirim, P disebut sempat datang menjenguk korban sambil membawa roti.
Baca juga: Pengakuan IRT Asal Karanganyar yang Gagal Selundupkan Sabu Senilai Jutaan Rupiah ke Lapas Sragen
Keesokan paginya, Selasa (19/5/2026), korban ditemukan meninggal dunia di dalam rumahnya.
Penemuan jasad bermula ketika anak korban merasa curiga karena lampu teras rumah ibunya masih menyala hingga pagi. Upaya menghubungi korban melalui telepon tidak mendapat respons.
Karena khawatir terjadi sesuatu, keluarga meminta bantuan tetangga untuk membuka pintu rumah secara paksa. Saat masuk ke dalam rumah, mereka mendapati korban sudah tidak bernyawa.
"Kondisi saat ditemukan, kondisinya terlentang, tangannya mengepal, terus di kaos itu ada bekas muntahan yang keluar dari mulut," papar Widodo.
Menurut keluarga, kondisi korban saat ditemukan terlihat tidak wajar. Selain terdapat bekas muntahan dan busa di area mulut, bagian telinga serta mulut korban juga disebut mengalami perubahan warna menjadi kebiruan.
Kondisi tangan yang mengepal kuat juga memunculkan dugaan bahwa korban sempat mengalami rasa sakit hebat sebelum meninggal dunia.
Merasa ada kejanggalan dalam kematian tersebut, keluarga akhirnya melaporkan kasus ini kepada kepolisian.
Sejauh ini, Polres Boyolali telah memeriksa sedikitnya tiga orang saksi dan masih mendalami berbagai keterangan, termasuk peran pengemudi ojek online yang mengantarkan paket makanan ke rumah korban.
Meski sejumlah dugaan telah mengarah kepada pihak tertentu, keluarga dan kuasa hukum menegaskan bahwa mereka tetap menghormati proses hukum yang sedang berlangsung.
"Kami tidak menuduh siapa pun dan tetap menjunjung asas praduga tak bersalah. Kami berharap hasil laboratorium forensik dari tim Dokkes Polda Jawa Tengah segera keluar sehingga penyebab kematian korban dapat terungkap dengan jelas," pungkas Wiwik.
Kini, publik menanti hasil autopsi dan pemeriksaan laboratorium forensik yang diharapkan dapat mengungkap apakah sate ayam misterius tersebut benar-benar menjadi penyebab kematian tragis perempuan paruh baya di Boyolali itu.
***
(TribunTrends/Kompas)