AS dan Iran Kembali Saling Serang, Selat Hormuz Jadi Titik Panas Konflik
SERAMBINEWS.COM – Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali meningkat setelah kedua negara melaporkan serangkaian serangan udara baru di kawasan Teluk selama akhir pekan.
Perkembangan ini terjadi di tengah upaya diplomatik yang masih berlangsung untuk memperpanjang gencatan senjata dan mencapai kesepakatan yang lebih permanen terkait konflik yang telah berlangsung selama berbulan-bulan.
Dikutip Serambinews.com melalui BBC News (1/6/2026), militer Amerika Serikat dan Iran sama-sama mengklaim telah menyerang target militer lawan di sekitar kawasan strategis Selat Hormuz.
Jalur pelayaran tersebut merupakan salah satu rute energi terpenting di dunia karena menjadi lintasan utama pengiriman minyak dan gas alam cair global.
Baca juga: Somaliland, Negara yang Membuat Iran Selalu Waspada, Ternyata Diam-diam Mau Kendalikan Hal Ini
Komando Pusat Amerika Serikat (Centcom) menyatakan bahwa pihaknya melancarkan serangan udara terhadap sejumlah fasilitas militer Iran yang berada di wilayah Goruk dan Pulau Qeshm.
Menurut Centcom, sasaran serangan meliputi situs radar, pusat komando dan kendali drone, serta beberapa sistem pertahanan udara milik Iran.
Militer AS menyebut operasi tersebut sebagai tindakan bela diri yang dilakukan sebagai respons terhadap aktivitas militer Iran yang dianggap mengancam keamanan pasukan Amerika dan lalu lintas maritim internasional.
Dalam pernyataannya, Centcom juga mengatakan bahwa pesawat tempur AS menyerang dua drone Iran yang dinilai menimbulkan ancaman bagi kapal-kapal yang melintas di kawasan perairan regional.
Amerika Serikat menegaskan tidak ada personel militer mereka yang terluka dalam operasi tersebut.
Selain itu, Washington menyebut serangan tersebut merupakan respons atas insiden penembakan jatuh pesawat tanpa awak MQ-1 milik AS yang sedang beroperasi di atas perairan internasional.
Baca juga: Jet Tempur F-16 AS hampir Kehabisan BBM Saat Serang Iran
Di sisi lain, Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengklaim telah melakukan serangan balasan terhadap pangkalan udara yang digunakan pasukan Amerika Serikat.
Meski tidak menyebutkan lokasi secara spesifik, IRGC mengatakan pangkalan tersebut digunakan untuk melancarkan serangan terhadap menara komunikasi Iran di Pulau Sirri yang berada di kawasan Teluk.
Pulau Sirri sendiri terletak sekitar 65 kilometer dari garis pantai selatan Iran dan menjadi salah satu wilayah strategis di sekitar Selat Hormuz.
Pernyataan tersebut semakin mempertegas bahwa hubungan kedua negara masih berada dalam situasi yang sangat sensitif meskipun gencatan senjata secara resmi masih berlaku.
Baca juga: Mantan Mata-mata: Israel Targetkan Mesir dan Turki untuk Perang Berikutnya setelah Iran
Ketegangan juga dirasakan negara-negara Teluk lainnya.
Militer Kuwait mengungkapkan bahwa sistem pertahanan udaranya berhasil menghadapi serangan rudal dan pesawat tanpa awak musuh.
Namun pihak Kuwait tidak menjelaskan secara rinci lokasi maupun asal serangan tersebut.
Pekan sebelumnya, Iran diketahui mengklaim telah menargetkan pangkalan udara di Kuwait sebagai balasan atas serangan Amerika Serikat terhadap fasilitas militer Iran.
Langkah tersebut menimbulkan kekhawatiran bahwa konflik dapat meluas dan melibatkan lebih banyak negara di kawasan Teluk.
Baca juga: AS Klaim Iran Siap Berdamai, Selat Hormuz Akan Dibuka Penuh
Di tengah meningkatnya aksi militer, upaya diplomatik antara Washington dan Teheran masih terus berlangsung.
Presiden AS Donald Trump berulang kali menyatakan bahwa kedua negara hampir mencapai kesepakatan permanen.
Namun hingga kini belum ada perjanjian resmi yang berhasil ditandatangani.
Menurut laporan CBS News yang dikutip BBC, rancangan terbaru kesepakatan mencakup penghentian kekerasan selama 60 hari, pembukaan kembali Selat Hormuz, serta dimulainya kembali negosiasi mengenai program nuklir Iran.
Meski demikian, sejumlah perbedaan penting masih menjadi hambatan utama dalam pembahasan tersebut.
Iran tetap bersikeras bahwa program nuklirnya bertujuan damai, sementara Amerika Serikat terus menuntut pembatasan terhadap aktivitas pengayaan uranium Teheran.
Baca juga: Garda Revolusi Iran Klaim Serang Pangkalan Udara AS di Kuwait
Selat Hormuz memiliki peran vital dalam perdagangan energi dunia.
Sekitar seperlima pasokan minyak dan gas alam cair global melewati jalur pelayaran ini setiap harinya.
Karena itu, setiap gangguan di kawasan tersebut dapat langsung memengaruhi harga energi internasional.
Sejumlah analis menilai bahwa keberhasilan atau kegagalan kesepakatan antara Amerika Serikat dan Iran akan sangat menentukan stabilitas kawasan Teluk dalam beberapa bulan ke depan.
Sementara itu, dunia internasional terus memantau perkembangan situasi dengan cermat karena meningkatnya ketegangan berpotensi memicu dampak ekonomi dan keamanan yang lebih luas di tingkat global.
Baca juga: VIDEO - Sirine Bahaya Menggema di Kuwait, Drone Iran Hujani Basis Militer AS
(Serambinews.com/Sri Anggun Oktaviana)