TRIBUN-SULBAR.COM,PASANGKAYU-Antrean panjang truk pengangkut tandan buah segar (TBS) kelapa sawit yang sebelumnya dikeluhkan sopir dan petani di Kabupaten Pasangkayu kini mulai terurai.
Pantauan Tribun-Sulbar.com, Senin (1/6/2026), aktivitas bongkar muat di pabrik kelapa sawit (PKS) PT Toscano berjalan lebih lancar dibanding beberapa pekan sebelumnya.
Jika sebelumnya sopir harus menunggu hingga tiga hari tiga malam untuk mendapatkan giliran membongkar muatan, dalam empat hari terakhir antrean panjang tidak lagi terlihat di area pabrik.
Baca juga: Petani Bernafas Lega, Harga TBS Sawit di Mamuju Tengah Kini Tembus Rp2.000 per Kilogram
Baca juga: Libur Hari Lahir Pancasila, Wisata Batu Alam Pasangkayu Dipadati Ratusan Pengunjung
Sejumlah truk yang datang dapat langsung masuk sesuai jadwal tanpa harus berhari-hari mengantre di sekitar pabrik maupun timbangan pengepul.
Salah satu sopir truk sawit, Galib, mengaku kondisi saat ini jauh lebih baik dibanding beberapa waktu lalu.
Menurutnya, antrean yang sempat mengular hingga menyebabkan sopir bermalam berhari-hari di dalam kendaraan kini sudah tidak terjadi lagi.
“Alhamdulillah sudah lancar. Biasanya kami bisa menunggu sampai tiga hari baru dapat giliran bongkar, sekarang sudah tidak lagi seperti itu,” ujar Galib saat ditemui di Pasangkayu, Senin.
Ia mengatakan, berkurangnya antrean membuat sopir lebih nyaman bekerja karena tidak perlu mengeluarkan biaya tambahan untuk kebutuhan selama menunggu.
Selain itu, kualitas buah sawit yang diangkut juga lebih terjaga karena dapat segera masuk ke pabrik setelah dipanen dan diangkut dari kebun.
Sebelumnya, banyak sopir mengeluhkan lamanya antrean karena menyebabkan buah sawit mengalami penyusutan berat dan penurunan kualitas.
Bahkan tidak sedikit tandan buah segar yang mulai membusuk akibat terlalu lama menunggu giliran bongkar.
Kondisi tersebut berdampak pada kerugian petani maupun sopir karena berat timbangan berkurang dan sebagian buah berisiko ditolak pabrik.
Namun, seiring lancarnya proses penerimaan buah di PT Toscano dalam beberapa hari terakhir, kekhawatiran tersebut mulai berkurang.
Galib juga mengaku senang karena perbaikan kondisi antrean terjadi bersamaan dengan naiknya harga sawit di Pasangkayu.
Menurutnya, harga TBS yang sebelumnya sempat berada di kisaran Rp800 hingga Rp1.100 per kilogram kini mulai merangkak naik.
“Sekarang harga sudah lebih bagus. Di beberapa tempat bahkan sudah di atas Rp2.000 per kilogram,” katanya.
Kenaikan harga tersebut disambut positif oleh petani karena memberikan harapan membaiknya pendapatan setelah beberapa waktu terakhir menghadapi harga rendah.
Sejumlah pengepul di Pasangkayu juga mulai memasang informasi harga baru yang menunjukkan tren kenaikan dibanding pekan sebelumnya.
Petani berharap kondisi lancarnya antrean di pabrik dapat terus dipertahankan sehingga hasil panen bisa segera diproses tanpa mengalami penurunan kualitas.
Mereka juga berharap harga sawit tetap stabil atau terus meningkat agar dapat menutupi biaya perawatan kebun yang selama ini terus bertambah.
Dengan berkurangnya antrean dan membaiknya harga TBS, aktivitas perkebunan sawit di Kabupaten Pasangkayu mulai kembali menggeliat dan memberikan optimisme bagi petani maupun sopir angkutan sawit.(*)
Laporan wartawan Tribun-Sulbar.com Taufan