Protes Harga Telur Anjlok, Peternak Blitar Raya Bagikan Sejuta Butir Telur Gratis ke Masyarakat
Eko Darmoko June 01, 2026 05:35 PM

SURYAMALANG.COM, KABUPATEN BLITAR - Peternak ayam petelur menggelar aksi damai dan bagi-bagi telur gratis kepada masyarakat di depan Kantor Bupati Blitar, Kanigoro, Kabupaten Blitar, Senin (1/6/2026).

Aksi tersebut digelar sebagai bentuk keprihatinan para peternak dengan kondisi harga telur dari kandang saat ini turun drastis.

Dalam aksi itu, para peternak sempat berorasi menyampaikan aspirasinya kepada pemerintah.

Selesai berorasi, para peternak rakyat dari Blitar Raya, Tulungagung, Kediri, dan Trenggalek membagikan telur gratis kepada masyarakat.

Korlap Aksi, Suyanto mengatakan, ada sekitar 1 juta butir telur yang dibagikan secara gratis kepada masyarakat.

"Hari ini, kami membagikan 1 juta butir telur yang diangkut dalam 200 unit mobil pikap secara gratis kepada masyarakat. Ini bentuk keprihatinan kami dengan harga telur yang terus turun," kata Suyanto kepada SURYAMALANG.COM.

Dikatakannya, sudah dua bulan ini, harga telur di tingkat peternak terus turun, sedang harga bahan baku pakan terus naik.

Baca juga: Menelusuri Jejak Bung Karno, Sensasi Staycation Bernuansa Sejarah di Hotel Tugu Blitar

Ditambah lagi, ada wacana dari Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia yang akan menggandeng investor asing untuk budidaya ayam petelur.

"Wacana dari Kadin ini kami tolak, karena akan menjadikan kami peternak rakyat semakin sengsara. Semua peternak menolak," ujarnya.

Menurutnya, saat ini, harga telur di tingkat peternak Rp 21.000 per kilogram.

Padahal harga acuan pemerintah (HAP) telur di peternak Rp 24.500 sampai Rp 26.500.

"Kami berharap harga pakan standar dan harga telur sesuai HAP yaitu Rp 24.500 per kilogram sampai Rp 26.500 per kilogram," katanya.

Harga Bahan Baku Pakan Naik

Perwakilan peternak, Suryono mengatakan, ada beberapa hal yang perlu disampaikan soal situasi kurang kondusif bagi peternak rakyat hari ini, terutama soal ketersediaan pakan.

Dikatakannya, efek perang global, saat ini impor gandum terhenti dan efeknya perusahaan besar menyerap jagung sangat luar biasa.

Sehingga para peternak harus berbagi jagung dengan pabrik. Peternak kecil sangat keberatan kalau harus bersaing dengan pabrik.

"Untuk itu, kami berharap kepada pemerintah pusat supaya program SPHP jagung tetap dilanjutkan. Kalau bisa kapasitasnya ditambah, karena peternak yang mendapat SPHP jagung masih terbatas," katanya.

Peternak juga berharap kebijakan dari pemerintah pusat soal bahan baku pakan impor, khususnya bungkil kacang kedelai (BKK) yang dikendalikan satu pintu oleh BUMN.

Sebab, harga bahan baku pakan yang dikeluarkan BUMN berbeda jauh dengan importir yang ada.

Kondisi ini membuat harga konsentrat atau pakan jadi naik sekitar 2.000 per kilogram.

"Ini mencekik peternak karena bahan baku pakan melambung. Sekali lagi kami berharap ada kebijakan meringankan untuk peternak, bukan malah menambah beban," ujarnya.

Tak hanya itu, ia juga berharap pemerintah bisa mengontrol terhadap integrator atau perusahaan besar baik asing maupun nasional yang melakukan budidaya ayam petelur.

Karena, peternak rakyat tidak akan mampu bersaing dengan integrator atau perusahaan peternakan besar.

"Peternak rakyat salah satu penopang ekonomi nasional yang digerakan oleh masyarakat. Kami minta pemerintah tetap konsen menjaga stabilitas peternak rakyat agar tetap hidup berkembang," katanya.

Perwakilan peternak lain, Eti Marlina memohon kepada pemerintah agar menjadi wasit yang adil kepada peternakan.

Ketika harga telur di atas HAP, peternak bersama pemerintah berkolaborasi untuk membantu menekan harga.

Sebaliknya, saat harga di bawah HAP, pemerintah diharapkan membantu peternak mikro kecil dengan program-programnya.

"Misalnya, pemerintah menyerap telur untuk bantuan sosial atau program stunting. Pemerintah juga bisa menggerakkan ASN belanja telur agar harganya kembali stabil," katanya.

Bupati Blitar, Rijanto mengatakan, informasi terakhir harga telur dari kandang peternak Rp 21.000 per kilogram.

Kalau kondisi ini terus terjadi, para peternak rakyat terancam gulung tikar. Apalagi harga bahan baku pakan terus naik.

"Kami minta pemerintah pusat segera merumuskan kebijakan agar peternak ayam rakyat tetap bertahan. Ada instruksi dari BGN agar SPPG mengambil telur dari peternak lewat KDKMP," katanya. 

Baca juga: Pedagang di Kota Malang Sebut Kenaikan Harga Telur Dipicu Biaya Pakan

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.