TRIBUNJATENG.COM, BATANG - Sejarawan Universitas Gadjah Mada (UGM) Sri Margana bersama tim peneliti kembali menelusuri jejak sejarah Kabupaten Batang dengan mendatangi kediaman keturunan Adipati Batang pertama di kawasan Dracik, Kabupaten Batang, Senin (1/6/2026).
Penelusuran dilakukan untuk mencari bukti otentik terkait kapan sebenarnya Kadipaten Batang berdiri, sekaligus menguatkan dugaan bahwa 8 April 1966 bukan hari lahir Kabupaten Batang, melainkan Hari Kembalinya Kabupaten Batang.
Penelusuran terbaru dilakukan di kediaman R. Widi Permana, keturunan langsung Kanjeng Pangeran Soerodiningrat atau yang dikenal sebagai Mbah Kyai Sedo Rawuh, sosok yang diyakini sebagai Adipati Batang pertama pada masa pemerintahan Pakubuwono I.
Baca juga: Kronologi Bentrok 2 Kelompok di Boyolali, Paksa Warga Ngumpet di Minimarket
Baca juga: Memburu Jejak Sejarah dari Rumah ke Rumah, Perjalanan Po Han Mengumpulkan Arsip yang Nyaris Hilang
Di rumah yang berada di kawasan Dracik, Kabupaten Batang itu, tim menemukan berbagai dokumen keluarga, foto-foto lawas, hingga silsilah keturunan yang masih tersimpan rapi dan terawat.
“Ini menjadi temuan penting karena keluarga masih menyimpan arsip dan jejak sejarah yang sangat kuat. Walaupun sebagian foto tidak memiliki keterangan tahun, tetapi sangat membantu menggambarkan kehidupan keluarga adipati Batang pada masa lampau,” kata Sri Margana kepada Tribunjateng, Senin (1/6/2026).
Menurutnya, seluruh dokumen tersebut akan dipadukan dengan arsip lain dari sumber Belanda maupun Arsip Nasional untuk memperkuat penelitian mengenai awal mula berdirinya Batang.
Sri Margana menyebut, penelitian ini bukan sekadar mencari tanggal sejarah, tetapi juga mengungkap identitas dan akar pemerintahan Batang sebelum masa kemerdekaan Indonesia.
“Selama ini masyarakat hanya mengenal 8 April 1966 sebagai hari jadi Kabupaten Batang. Padahal itu lebih tepat disebut Hari Kembalinya Kabupaten Batang. Nah, penelitian ini ingin mencari kapan sesungguhnya Kadipaten Batang berdiri,” tegasnya.
Sementara itu, R. Widi Permana mengaku keluarganya merasa memiliki tanggung jawab moral untuk membantu membuka sejarah Batang yang sebenarnya.
Dia mengatakan, cerita mengenai kekeliruan penetapan hari jadi Batang telah diwariskan turun-temurun di keluarganya.
“Dari cerita eyang buyut kami, Batang itu sudah ada jauh sebelum tahun 1966. Jadi kami ingin membantu agar sejarah Batang tidak keliru dipahami generasi sekarang,” ungkapnya.
Ia pun menunjukkan sejumlah foto leluhur dan silsilah keluarga yang berkaitan dengan R. Abdul Razak, Wedana Doro pada masa lalu yang masih memiliki garis keturunan dengan Trah Sedo Rawuh.
Di sisi lain, Ketua DPC Perkumpulan Masyarakat Batang, Sukirman, berharap hasil penelitian ini nantinya dapat menjadi tonggak baru dalam penulisan sejarah lokal Batang secara lebih utuh dan ilmiah.
Menurutnya, hasil penelitian tersebut direncanakan akan disusun menjadi buku induk sejarah Batang yang dapat menjadi rujukan resmi bagi masyarakat maupun generasi muda.
“Kita ingin anak-anak muda Batang memahami sejarah daerahnya sendiri secara benar, mulai dari karakter masyarakat, budaya, hingga perjalanan pemerintahannya,” tuturnya.
Penelusuran sejarah ini pun menjadi harapan baru bagi masyarakat Batang untuk menemukan identitas daerah yang lebih autentik, sekaligus meluruskan pemahaman mengenai sejarah lahirnya Kabupaten Batang yang selama ini diyakini publik. (Ito)