TRIBUNJATIMTIMUR.COM, Lumajang - Intensitas hujan abu vulkanik dari Gunung Semeru yang dalam beberapa bulan terakhir, membuat hasil panen durian di Desa Senduro, Kecamatan Senduro, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur menurun.
Salah satu petani, Lukman (42), mengatakan panen durian tahun ini turun cukup tajam dibanding musim sebelumnya. Dari total 17 pohon yang dimilikinya, hanya sebagian yang mampu menghasilkan buah.
“Kalau sekarang, satu pohon paling hanya tujuh buah. Pohon lainnya tidak berbuah sama sekali. Rasanya juga hambar, tidak seperti biasanya,” ujar Lukman, Senin (1/6/2026).
Menurut Lukman, sebelum wilayahnya sering terdampak abu vulkanik, kebun durian miliknya dikenal cukup produktif. Dalam satu hari panen, ia mengaku pernah memperoleh hingga 112 buah dengan karakter rasa pahit-manis dan tekstur yang lembut.
Baca juga: Jadi Komoditi Unggulan di Lumajang, Produksi Pisang Mas Kirana Capai 368 Ton Selama 2025
Namun pada musim kali ini, perubahan tidak hanya terjadi pada jumlah panen.
“Sekarang selain jumlah buah yang menurun, warna daging durian juga mengalami perubahan, warnanya agak bening, tidak seperti dulu,” katanya.
Perubahan kualitas tersebut berdampak langsung terhadap hubungan dengan pelanggan. Lukman mengaku memilih tidak menawarkan hasil panennya karena khawatir konsumen kecewa.
Baca juga: Meresahkan, Sindikat Pencurian Rel Kereta Api Ditangkap di Lumajang, Besi Dijual Rp 4000 per Kg
“Banyak pelanggan tanya, tapi saya harus bilang tidak ada. Kalau ada pun rasanya sudah tidak enak,” jelasnya.
Penurunan kualitas buah juga dirasakan pedagang durian musiman di Lumajang. Asmadi mengaku sementara waktu memilih tidak berjualan karena kesulitan menemukan durian dengan kualitas rasa yang konsisten.
“Kalau sekarang saya tidak berani jual durian, kecuali saya tahu sendiri kualitasnya. Kalau hanya sekadar informasi, saya tidak berani menjamin,” ujarnya.
Menurut Asmadi, kondisi di wilayah lereng yang kerap terkena abu vulkanik membuat kualitas durian menjadi sulit diprediksi.
“Tidak berjualan untuk sementara waktu karena kualitas buah yang tidak menentu. Abu vulkanik yang hampir setiap hari turun dalam beberapa bulan terakhir telah mengubah rasa dan tekstur durian secara signifikan,” tuturnya.
Baca juga: Tradisi Unik Idul Adha di Lumajang, Warga Hias Kambing dan Diarak Keliling Kampung
Keluhan serupa juga datang dari Sutris (47), seorang tengkulak asal Desa Kandangtepus, Kecamatan Senduro. Ia mengaku mengalami kerugian karena durian yang dibeli dari petani memiliki kualitas rasa dan tampilan yang menurun.
“Sekarang kulak durian, tentu sangat rugi. Alternatifnya ya tetap kulak, tapi harus tahu kondisi buahnya. Kalau tidak tahu lebih baik tidak usah,” katanya.
Sutris menceritakan pernah membeli hasil dari satu pohon durian seharga Rp 250 ribu dengan total sekitar 30 buah. Namun karena kualitas rasa tidak sesuai harapan pasar, ia kesulitan menjualnya kembali.
“Rasanya tidak enak, akhirnya saya jual ke tukang es, harganya hanya Rp 5.000 sampai Rp 7.000 per buah,” ujarnya.