Laporan Wartawan TribunJatim.com, Danendra Kusuma
TRIBUNJATIM.COM, NGANJUK - Kabupaten Nganjuk memiliki wayang khas, namanya wayang timplong. Berbeda dengan wayang kulit, wayang tersebut berbahan dasar papan kayu.
Untuk karakter, sama halnya dengan wayang kulit. Hanya saja, sebagian tokoh, penyebutan dan bentuknya punya identitas tersendiri, seperti semar.
Ada pula tokoh lain yang menyesuaikan lakon atau cerita yang disajikan dalam pertunjukkan.
Salah satu perajin wayang timplong yang hingga kini masih bertahan, yakni Sulianto.
Ditemui di kediamannya, Dusun Ngrajek, Desa Sambirejo, Kecamatan Tanjunganom, Kabupaten Nganjuk, pria 60 tahun itu tampak sibuk membuat wayang timplong.
Aktivitas itu dilakukan di studio mini sekira berukuran 6x4 meter samping rumahnya.
Matanya tak berkedip tatkala tangannya menggoreskan alat pahat di atas permukaan papan kayu.
Baca juga: Kesaktian Wayang Topeng Jatiduwur Jombang yang Tak Lekang Zaman, Penjaga Nyala Tradisi Lokal
Sesekali dia menyibak serpihan kayu dan mengamati garis pahatan.
Lengkungan garis itu menghasilkan detail wajah dan busana khas pewayangan.
"Wayang timplong ini terbuat dari papan kayu mentaos. Bahannya bukan dari kulit. Ketebalan kayu sekira tiga sentimeter. Bahannya bisa saya peroleh di Nganjuk," katanya, Senin (1/6/2026).
Sulianto menyebut, pembuatan wayang timplong memakan waktu cukup lama.
Paling sebentar wayang timplong tuntas dibikin 10 hari.
Menurutnya, lama durasi dalam pembuatan wayang timplong ini dipengaruhi kerumitan prosesnya.
Baca juga: Sejarah dan Peran Museum Gubug Wayang Mojokerto dalam Melestarikan Budaya Wayang Nusantara
Dia lebih dulu harus menggambar pola di kertas, memahat, mengamplas, dan memberi warna dengan cat.
"Minimal 10 hari jadi. Bisa juga lebih 10 hari, tergantung kedetailan garis ornamen dan ukuran wayang timplong. Seperti karakter Kumbakarna bisa sampai dua bulan," sebutnya.
Ia menjual wayang timplong sedari harga Rp 1 juta sampai 3 juta.
Penjualan wayang timplong karyanya juga sudah merambah luar Nganjuk, antara lain, Yogyakarta serta Bali.
Sejauh ini, dalam memasarkan wayang timplong, Sulianto belum memanfaatkan e-commerce.
Umumnya, pembeli langsung datang ke rumahnya.
"Tak hanya itu, ada pejabat yang membeli wayang timplong buatan saya. Pada 2020, Bupati Nganjuk saat itu, Novi Rahman Hidayat, membeli 10 karakter. Selain itu, Pj Bupati Sri Handoko Taruna pada 2023 yang memborong 25 wayang untuk dijadikan oleh-oleh untuk tamu," terangnya.
Sulianto bercerita, sebetulnya dia tak punya keinginan terjun sebagai perajin wayang timplong.
Padahal, sang ayah sudah mengarahkannya. Sang ayah, Jamiran merupakan dalang sekaligus perajin wayang timplong ternama asal Desa Nglawak, Kecamatan Prambon, Kabupaten Nganjuk.
Sulianto anak kedua dari tiga bersaudara.
"Sejak muda saya membantu ayah membuat wayang timplong. Saya tugasnya mengamplas. Tapi waktu saya sering kabur saat diminta mengamplas. Maklum saja anak muda," ungkapnya seraya tertawa.
Kemudian, pada 80an, Sulianto menikah dan dikarunia anak.
Seketika itu pula Sulianto berubah pikiran. Ia kembali membuat wayang timplong demi mencukupi kebutuhan keluarga.
"Tepatnya 1986, saya menekuni kerajinan wayang timplong. Saya pilih menjadi perajin untuk menafkahi keluarga dan berlanjut sampai sekarang," ucapnya.
Di sisi lain, ia bercerita sejarah wayang timplong.
Wayang timplong lahir karena bunyi gamelan pengiring.
"Alat musiknya berbunyi timplang timplong. Dari situ disebut wayang timplong," terangnya.
Ada perbedaan bunyi gamelan pengiring wayang timplong dengan wayang kulit.
Hal tersebut karena instrumen gamelan wayang timplong lebih sedikit, tidak sebanyak gamelan wayang kulit.
Alat musik yang digunakan hanya empat sampai enam macam instrumen saja, kendang, gong, gambang, dan kenong.
"Pertunjukan wayang timplong lebih sering pagi atau siang," paparnya.
Menurutnya, asal mula wayang timplong dipercaya berasal dari Dusun Kedungbajul, Desa Jetis, Kecamatan Pace, Kabupaten Nganjuk.
Kala itu, Mbah Bancol yang mulai mengenalkan wayang timplong pada 1910.
Lantas, kesenian tersebut menyebar ke berbagai desa dan kecamatan di Nganjuk.
Ia melanjutkan, wayang timplong karakter semar punya ciri khas lain jika dibandingkan wayang kulit.
Semar dalam wayang timplong disebut Kedrah, atau Sabdo Palon Noyo Genggong.
Bentuknya juga beda, berwarna hitam serta rambut kuncir terurai ke belakang.
"Juga ada karakter minakjinggo. Karakter wayang timplong disesuaikan cerita yang dibawakan. Lakonnya seputar kerajaan Majapahit, Kediri, dan sebagainya," urainya.
Ia berharap wayang timplong tetap terus lestari.
Sebab, perajin wayang timplong saat ini minim regenerasi.
"Anak muda terbilang sedikit yang terjun sebagai perajin wayang timplong. Anak saya kemungkinan tak meneruskannya. Sebab, kerumitan dalam proses pembuatan. Meski demikian saya berharap ada anak muda yang meneruskan seni wayang timplong ini," terangnya.