TRIBUNGORONTALO.COM – Sejumlah mahasiswa asal Kabupaten Banggai menggelar aksi penggalangan dana untuk korban banjir bandang di Kecamatan Biau, Kabupaten Gorontalo Utara, Provinsi Gorontalo, Senin (1/6/2026).
Mereka berkumpul di simpang empat SMP Negeri 6 Kota Gorontalo.
Pantauan TribunGorontalo.com di lapangan, para mahasiswa terlihat berdiri di sejumlah titik strategis persimpangan jalan sambil membawa kotak donasi.
Mereka menyapa para pengendara roda dua, roda tiga, maupun roda empat yang melintas di Jalan Arif Rahman Hakim, Jalan Jenderal Sudirman, dan Jalan Jaksa Agung Soeprapto.
Cuaca yang cerah membuat aktivitas penggalangan dana berlangsung lancar. Sejumlah pengguna jalan tampak memberikan sumbangan secara sukarela sebagai bentuk solidaritas terhadap warga yang sedang menghadapi musibah banjir.
Aksi tersebut dilaksanakan oleh Aliansi Mahasiswa Kabupaten Banggai yang terdiri dari beberapa organisasi kedaerahan, yakni Ikatan Mahasiswa Indonesia Kabupaten Banggai (IMIKB), Kerukunan Pemuda Mahasiswa Indonesia Balantak (KPMIB), dan Forum Komunikasi Mahasiswa Kecamatan Bualemo (FKMKB).
Ketua IMIKB, Moh Fadelansyah Lakita, saat diwawancarai di lokasi mengatakan bahwa aksi tersebut lahir dari rasa kemanusiaan dan kepedulian terhadap masyarakat yang terdampak banjir di Kecamatan Biau.
Baca juga: Lowongan 3 Instansi Pusat Dibuka Juni 2026, Cek Syarat Magang di Kemenkeu hingga KemenPANRB
Ia menyebutkan, aliansi paguyuban mahasiswa asal Kabupaten Banggai yang saat ini sedang menempuh studi di Gorontalo.
"Kami tidak hanya dari satu organisasi. Ada beberapa paguyuban yang tergabung dalam aksi ini. Yang pertama dari Ikatan Mahasiswa Indonesia Kabupaten Banggai, kemudian Kerukunan Mahasiswa Balantak, dan Forum Komunikasi Mahasiswa Kecamatan Bualemo," ungkapnya kepada TribunGorontalo.com.
Menurut Fadelansyah, kegiatan tersebut sudah dipersiapkan sejak pagi hari. Para mahasiswa mulai berkumpul dan melakukan berbagai persiapan sebelum turun ke jalan untuk menggalang dana.
"Kami sebenarnya sudah melakukan persiapan sejak sekitar pukul 10.00 Wita. Namun untuk turun melakukan penggalangan dana di lokasi ini dimulai sekitar pukul 14.00 Wita," kata dia.
Lebih lanjut ia menjelaskan, untuk hari pertama ini, penggalangan dana dipusatkan di kawasan simpang empat SMP Negeri 6 Kota Gorontalo. Lokasi tersebut dipilih karena merupakan salah satu titik dengan arus lalu lintas yang cukup ramai.
Sementara untuk hari-hari berikutnya, pihak aliansi masih akan melakukan evaluasi dan mempertimbangkan sejumlah lokasi lain yang dinilai potensial untuk pelaksanaan aksi serupa.
"Untuk hari ini kami fokus dulu di titik ini. Nanti kami akan melihat kemungkinan lokasi-lokasi lain yang bisa dijadikan tempat penggalangan dana," tegasnya.
Fadelansyah mengaku pihaknya belum menentukan sampai kapan aksi kemanusiaan tersebut akan berlangsung. Menurutnya, durasi kegiatan akan disesuaikan dengan kondisi di lapangan serta jumlah bantuan yang berhasil dihimpun.
"Kami belum mematok sampai berapa hari. Ketika menurut kami bantuan yang terkumpul sudah cukup dan layak untuk disalurkan kepada masyarakat yang terdampak, maka akan segera kami salurkan. Jadi belum ada batas waktu yang pasti," ungkapnya.
Selanjutnya, ia mengatakan bahwa aksi ini merupakan bentuk tanggung jawab moral mahasiswa terhadap masyarakat yang sedang menghadapi bencana.
Meskipun berasal dari Kabupaten Banggai, Sulawesi Tengah, para mahasiswa merasa memiliki kedekatan dengan masyarakat Gorontalo karena selama ini menempuh pendidikan dan menjalani kehidupan sehari-hari di daerah tersebut.
"Kami menuntut ilmu di Gorontalo. Ketika mendengar ada saudara-saudara kami yang tertimpa musibah banjir di Gorontalo Utara, tentu kami merasa terpanggil untuk membantu semampu kami," katanya.
"Data yang kami terima dari teman-teman di lapangan, ada sekitar 500 lebih keluarga yang terdampak akibat bencana banjir ini," tambahnya.
Sementara itu, Ketua Umum Kerukunan Pemuda Mahasiswa Indonesia Balantak (KPMIB), Putra Rifael Asamin, mengatakan bahwa keterlibatan mahasiswa dalam aksi sosial ini menjadi bentuk nyata solidaritas terhadap masyarakat yang sedang mengalami kesulitan.
Menurutnya, bantuan yang diberikan mungkin tidak mampu menyelesaikan seluruh persoalan yang dihadapi korban banjir. Namun, setidaknya aksi ini menjadi wujud nyata kepedulian mahasiswa terhadap sesama.
"Kami ingin menunjukkan bahwa mahasiswa tidak hanya hadir di ruang kuliah, tetapi juga hadir ketika masyarakat membutuhkan bantuan," ujarnya.
Putra menjelaskan, saat ini terdapat sekitar 18 mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi Mahasiswa Kabupaten Banggai untuk menjalankan kegiatan penggalangan dana tersebut.
Para mahasiswa yang terlibat berasal dari berbagai kampus di Gorontalo dan tergabung dalam tiga paguyuban yang sepakat bersatu demi misi kemanusiaan.
Ia berharap masyarakat Gorontalo dapat ikut memberikan dukungan terhadap kegiatan yang sedang mereka lakukan.
Menurutnya, sekecil apa pun bantuan yang diberikan akan sangat berarti bagi warga yang sedang berjuang memulihkan kondisi pascabanjir.
"Kami berharap aksi yang kami lakukan ini bisa membantu saudara-saudara kami yang berada di Gorontalo Utara. Mungkin bantuan yang terkumpul nantinya tidak terlalu besar, tetapi kami memberikan dengan penuh ketulusan hati," harapnya.
Putra juga mengajak seluruh elemen masyarakat untuk terus menumbuhkan rasa kepedulian terhadap sesama, terutama saat terjadi bencana yang menimpa warga di daerah lain.
Baginya, semangat gotong royong dan solidaritas menjadi modal penting dalam membantu masyarakat bangkit dari kesulitan akibat bencana alam.
Melalui aksi yang berlangsung di tengah aktivitas masyarakat Kota Gorontalo tersebut, para mahasiswa berharap bantuan yang terkumpul dapat segera disalurkan kepada warga terdampak banjir di Kecamatan Biau untuk meringankan beban mereka dalam masa pemulihan pascabencana.
Sebelumnya, Bupati Gorontalo Utara, Thariq Modanggu, yang menjelaskan bahwa penanganan banjir telah dilakukan sejak hari pertama bencana terjadi.
Pemerintah daerah langsung bergerak melakukan penanganan darurat, termasuk menyiapkan dapur umum dan mendistribusikan air bersih bagi warga terdampak.
“Pada hari pertama sudah ada penanganan darurat disusul dapur umum air bersih dan terus dimaksimalkan,” ujarnya.
Memasuki hari kedua kunjungan, Thariq bersama sejumlah pimpinan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) turun langsung meninjau wilayah yang diduga menjadi sumber persoalan banjir.
Ia menyoroti kondisi tanggul di Desa Didingga yang mengalami kerusakan.
“Pada hari kedua saya bersama OPD melakukan peninjauan irigasi yang diduga sebagai penyebab banjir, yaitu bobolnya tanggul Didingga,” katanya.
Thariq juga mengaku bahwa pada malam sebelumnya, ia telah melakukan evaluasi menyeluruh terhadap langkah-langkah yang diambil pemerintah daerah, sekaligus merancang penanganan lanjutan.
Sejak pukul 02.00 Wita ia sudah terbangun untuk memikirkan langkah penanganan banjir yang lebih menyeluruh.
“Sampai sekarang sudah tidak tidur lagi, memikirkan bagaimana cara penanganan yang lebih konferhensip,” ungkapnya.
Dari hasil evaluasi tersebut, Thariq memperkenalkan desain kebijakan yang diberi nama H2PB (Hulu Hilir Pasca Banjir di Biau).
Ia memperlihatkan beberapa lembar kertas konsep penuh tulisan tangan sebelum menunjukkan satu lembar desain final yang memuat tiga fokus utama penanganan.
Fokus pertama adalah penanganan darurat yang saat ini masih terus berjalan di lokasi banjir.
Selain itu, pemerintah daerah juga mulai memikirkan langkah perbaikan infrastruktur irigasi yang rusak akibat terjangan banjir.
“Selain penanganan darurat, kita sudah memikirkan untuk penanganan tanggul irigasi yang bobol,” jelasnya.
Fokus ketiga menyasar persoalan di wilayah hulu yang dinilai perlu mendapat perhatian serius untuk mencegah banjir bandang kembali berulang.
Sebagai informasi, banjir di Kecamatan Biau melanda 5 desa, yakni Desa Bualo, Biawu, Luhuto, Omuto, dan Didingga, serta berdampak pada 820 kepala keluarga dengan total 3.034 jiwa. (*)