TRIBUNJAKARTA.COM - Nama Dino Patti Djalal dan Sekretaris Kabinet (Seskab) Teddy Indra Wijaya tengah menjadi perbincangan di media sosial.
Hal tersebut terjadi setelah Teddy Indra Wijaya mengungkit masa jabatan Dino Patti Djalal sebagai Wakil Menteri Luar Negeri selama tiga bulan.
Teddy menyampaikan itu saat merespons kritik Dino Patti Djalal terkait Presiden Prabowo Subianto yang sering kunjungan ke luar negeri.
"Sebelumnya, terima kasih atas masukan yang telah diberikan," kata Teddy melalui akun Instagram Sekretariat Kabinet @sekretariat.kabinet, dikutip Senin (1/6/2026).
"Sangat cermat dan terstruktur. Saya pikir beliau adalah diplomat hebat. Pernah menjadi wakil menteri luar negeri, walaupun hanya diberi kesempatan sekitar tiga bulan," tambahnya.
Sontak ucapan Teddy mengenai masa jabatan Dino ramai dinilai tidak relevan dengan substansi kritik yang sedang dibahas dan justru berpotensi dimaknai sebagai sindiran personal.
Mantan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan bahkan ikut merespons.
Anies memberikan pembelaan terhadap Dino.
Ia menegaskan bahwa Dino memiliki rekam jejak panjang dalam dunia diplomasi internasional dan bukan sosok yang muncul secara instan dalam birokrasi pemerintahan.
Dino Patti Djalal lahir di Belgrade, Yugoslavia, pada 10 September 1965.
Ia merupakan putra dari diplomat senior Indonesia, Hasjim Djalal, sehingga sejak kecil telah akrab dengan kehidupan internasional.
Karena mengikuti penugasan sang ayah, Dino menghabiskan masa tumbuh kembangnya di berbagai negara. Ia pernah tinggal di Jakarta, Guinea, Singapura, Amerika Serikat, hingga Kanada.
Pengalaman hidup lintas negara tersebut turut membentuk wawasan global yang kemudian mengantarkannya meniti karier di bidang diplomasi.
Untuk pendidikan, Dino menempuh sekolah dasar di SD Muhammadiyah dan melanjutkan pendidikan menengah di SMP Al-Azhar.
Setelah itu, ia bersekolah di McLean, Virginia, Amerika Serikat, sebelum melanjutkan studi Ilmu Politik di Carleton University, Ottawa, Kanada.
Ia kemudian meraih gelar Magister Ilmu Politik dari Simon Fraser University, Vancouver, Kanada. Pendidikan akademiknya mencapai puncak setelah memperoleh gelar doktor Hubungan Internasional dari London School of Economics and Political Science (LSE), Inggris.
Dino mulai berkarier di Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia pada 1987, atau saat Teddy Indra Wijaya masih berusia 2 tahun.
Teddy Indra Wijaya diketahui lahir pada 14 April 1989, di Manado, Sulawesi Utara.
Selama bertugas sebagai diplomat, ia pernah ditempatkan di sejumlah perwakilan Indonesia di luar negeri, termasuk London, Dili, dan Washington DC.
Namanya mulai dikenal luas ketika dipercaya menjadi juru bicara pemerintah Indonesia dalam referendum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di Timor Timur pada 1999.
Kariernya terus menanjak hingga menduduki berbagai posisi strategis di lingkungan pemerintahan.
Pada era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), Dino dipercaya sebagai Staf Khusus Presiden bidang Hubungan Internasional sekaligus juru bicara kepresidenan.
Ia kemudian ditunjuk menjadi Duta Besar Republik Indonesia untuk Amerika Serikat pada 2010 hingga 2013.
Setahun kemudian, tepatnya pada 2014, Dino dipercaya mengemban tugas sebagai Wakil Menteri Luar Negeri RI.
Sepanjang kariernya, Dino Patti Djalal telah menorehkan berbagai capaian penting, di antaranya:
Dino Patti Djalal dikenal luas sebagai salah satu tokoh yang berperan besar dalam menghubungkan masyarakat Indonesia yang tinggal di luar negeri.
Ia menjadi penggagas Kongres Diaspora Indonesia pertama yang digelar di Los Angeles, Amerika Serikat, pada 2012.
Tak hanya itu, Dino juga disebut sebagai pencetus istilah "Diaspora Indonesia" dan berperan dalam pembentukan jaringan Indonesia Diaspora Network (IDN) yang kini tersebar di berbagai negara.
Atas kontribusinya tersebut, ia kerap mendapat julukan sebagai "Bapak Diaspora Indonesia".
Salah satu pencapaian unik Dino adalah keberhasilannya menyelenggarakan pertunjukan angklung terbesar di Washington DC pada 2011.
Kegiatan tersebut bahkan tercatat dalam Guinness World Records dan menjadi salah satu upaya diplomasi budaya Indonesia di kancah internasional.
Aktivitasnya yang cukup intens di media sosial juga membuatnya sempat dijuluki sebagai "Duta Twitter" Indonesia.