SERAMBINEWS.COM, MAGETAN — Badan Gizi Nasional (BGN) memperingatkan seluruh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) atau dapur Program Makan Bergizi Gratis (MBG) agar membeli kebutuhan telur langsung dari peternak lokal.
BGN bahkan mengancam akan menghentikan sementara operasional dapur MBG yang tidak mematuhi ketentuan tersebut.
Peringatan itu disampaikan Wakil Kepala BGN Bidang Komunikasi Publik dan Investigasi, Nanik Sudaryati Deyang, saat menghadiri kegiatan Sinergi Ekonomi Kerakyatan Strategi Pemberdayaan Peternak dan Usaha Mikro dalam Mendukung Program Makan Bergizi Gratis di Kabupaten Magetan, Jawa Timur, Senin (1/6/2026).
Menurut Nanik, pihaknya menerima laporan dari peternak ayam petelur yang mengeluhkan harga telur di tingkat kandang tidak mengalami kenaikan meskipun permintaan telur di pasar dan tingkat konsumen meningkat.
"Barusan saya mendapat laporan dari para peternak bahwa harga telur di tingkat retail naik, tetapi harga di tingkat peternakan tidak ikut naik. Ini menunjukkan ada persoalan dalam rantai distribusi yang perlu segera diperbaiki," ujarnya.
Ia menegaskan bahwa BGN telah berulang kali menginstruksikan seluruh pengelola dapur MBG untuk menyerap hasil produksi peternak lokal secara langsung tanpa melalui terlalu banyak perantara. Langkah tersebut dinilai penting agar manfaat ekonomi dari program MBG benar-benar dirasakan oleh masyarakat, khususnya peternak.
"Seluruh SPPG, khususnya di Magetan, harus membeli telur langsung dari peternak. Kalau tidak membeli langsung dari peternak, dapurnya akan kami suspensi," tegas Nanik yang dikutip dari Kompas.com
BGN Beri Tenggat Satu Minggu
Selain memberikan peringatan, BGN juga meminta koperasi, pengelola SPPG, dan seluruh mitra penyedia bahan pangan segera melakukan intervensi pasar dengan meningkatkan penyerapan telur peternak lokal.
BGN menetapkan tenggat waktu satu minggu untuk melihat efektivitas kebijakan tersebut terhadap perbaikan harga telur di tingkat peternak. Apabila dalam kurun waktu tersebut tidak terjadi perubahan signifikan, BGN mengancam akan mengambil tindakan tegas terhadap dapur MBG yang tidak menjalankan instruksi.
"Saya minta beli langsung ke peternak sampai harga stabil. Dalam satu minggu harus ada pergerakan harga. Kalau tidak ada pergerakan, 71 SPPG di Magetan bisa kami tutup sementara. Mereka harus menggunakan telur asal Magetan dan membeli langsung dari petani atau peternak," kata Nanik.
Baca juga: Kepala BGN Sebut Anak PMI di Arab Saudi Ingin Ikut Program MBG, Kini Menunggu Keputusan Presiden
Wajib Libatkan Minimal 15 Pemasok Lokal
Dalam kesempatan yang sama, BGN kembali mengingatkan bahwa setiap dapur MBG wajib melibatkan sedikitnya 15 pemasok lokal sebagaimana diatur dalam petunjuk teknis program.
Kebijakan tersebut dibuat untuk memastikan program MBG tidak hanya berfungsi sebagai program pemenuhan gizi masyarakat, tetapi juga menjadi instrumen penggerak ekonomi daerah melalui pemberdayaan pelaku usaha lokal, petani, peternak, dan UMKM.
"Kalau ditemukan dapur tidak menggunakan minimal 15 supplier lokal, maka dapurnya akan kami suspend. Tujuan utama program ini adalah menciptakan perputaran ekonomi di masyarakat," ujarnya.
Peternak Keluhkan Serapan Telur Masih Minim
Sementara itu, sejumlah peternak ayam petelur di Magetan mengaku belum merasakan dampak signifikan dari pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis.
Mereka menilai sebagian besar dapur MBG hanya membeli telur dalam jumlah kecil sebagai formalitas, padahal kebutuhan telur setiap dapur sebenarnya cukup besar.
Teguh, salah seorang peternak ayam petelur di Magetan, mengatakan kebutuhan telur untuk satu dapur MBG diperkirakan mencapai sekitar 150 kilogram atau 1,5 kuintal per hari. Namun dalam praktiknya, banyak dapur hanya membeli satu hingga dua kotak telur.
"Seharusnya kebutuhan MBG sekitar satu setengah kuintal per hari. Tetapi yang diambil hanya satu kotak sekitar 15 kilogram atau dua kotak sekitar 30 kilogram. Jauh dari kebutuhan sebenarnya," ungkap Teguh.
Akibat rendahnya serapan tersebut, stok telur di tingkat peternak masih menumpuk dan harga jual belum mengalami perbaikan.
Harga Telur Masih Jauh di Bawah HAP
Kondisi peternak semakin tertekan karena harga telur di tingkat kandang masih berada di bawah Harga Acuan Pembelian (HAP) yang ditetapkan pemerintah sebesar Rp26.500 per kilogram.
Menurut Teguh, saat ini harga telur di tingkat peternak Magetan berkisar Rp22.800 per kilogram. Bahkan sebagian peternak masih harus menjual telur dengan harga sekitar Rp21.000 per kilogram.
Di sisi lain, biaya produksi terus meningkat seiring kenaikan harga pakan ternak yang menjadi komponen terbesar dalam usaha peternakan ayam petelur.
"Sekarang harga telur di peternak sekitar Rp22.800 per kilogram, bahkan ada yang masih menjual Rp21.000 per kilogram. Sementara harga pakan terus naik," katanya.
Para peternak berharap instruksi tegas dari BGN dapat segera dijalankan oleh seluruh pengelola dapur MBG. Dengan meningkatnya penyerapan telur lokal, mereka optimistis harga telur di tingkat peternak dapat membaik sekaligus meningkatkan kesejahteraan peternak rakyat.
Program Makan Bergizi Gratis yang menjadi salah satu program prioritas pemerintah diharapkan tidak hanya berkontribusi terhadap peningkatan gizi masyarakat, tetapi juga mampu menciptakan dampak ekonomi yang nyata bagi sektor pertanian, peternakan, dan pelaku usaha lokal di daerah.