TRIBUNNEWSMAKER.COM - Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, memiliki banyak desa yang menyimpan sejarah panjang dan kisah menarik yang terus diwariskan dari generasi ke generasi.
Salah satunya adalah Desa Krecek yang berada di Kecamatan Delanggu.
Meski kini berkembang sebagai wilayah permukiman dan aktivitas masyarakat, Desa Krecek ternyata memiliki latar belakang sejarah yang masih menjadi bagian dari cerita lisan warga setempat hingga saat ini.
Desa ini dikenal sebagai salah satu desa tua di Kabupaten Klaten yang telah eksis sejak lama.
Meskipun tidak memiliki dasar penamaan resmi yang dituangkan dalam peraturan daerah, keberadaan Desa Krecek tetap diakui sebagai bagian dari wilayah administratif Kabupaten Klaten yang memiliki perjalanan sejarah cukup panjang.
Berbagai cerita yang berkembang di tengah masyarakat menyebutkan bahwa Desa Krecek telah ada sejak masa penjajahan Belanda.
Kisah-kisah tersebut terus diceritakan secara turun-temurun oleh warga dan menjadi bagian dari identitas desa yang masih dipertahankan hingga sekarang.
Baca juga: Kasta Tertinggi Mie Ayam Paling Enak di Kota Klaten Dekat Alun-alun, Mi & Bakso Roma Jadi Primadona
Keberadaan desa ini juga menarik perhatian karena lokasinya yang cukup strategis.
Desa Krecek berada di Kecamatan Delanggu, salah satu kawasan yang dikenal sebagai daerah penyangga antara Klaten dan Solo.
Dari pusat Kota Solo, jarak menuju Desa Krecek sekitar 21 kilometer. Perjalanan dapat ditempuh menggunakan kendaraan pribadi dalam waktu kurang lebih 45 menit, tergantung kondisi lalu lintas.
Selain menyimpan sejarah panjang, Desa Krecek juga menjadi contoh bagaimana cerita lokal dan tradisi lisan tetap hidup di tengah perkembangan zaman.
Berbagai kisah mengenai asal-usul desa masih menjadi bagian dari ingatan kolektif masyarakat dan terus diwariskan kepada generasi berikutnya.
Lantas, bagaimana sebenarnya asal-usul nama Desa Krecek dan cerita apa yang melatarbelakangi terbentuknya desa yang konon sudah ada sejak era kolonial Belanda tersebut? Simak ulasan selengkapnya.
Nama “Krecek” dalam bahasa Jawa disebut Krècèk.
Berdasarkan cerita dari para sesepuh desa, nama ini diyakini berasal dari istilah “ece-ece nan” yang berarti saling mengejek.
Konon, pada masa lampau wilayah ini dihuni oleh dua kelompok masyarakat yang tinggal di sisi timur dan barat jalan.
Kedua kelompok tersebut kerap berselisih hingga saling mengejek, bahkan pernah terjadi bentrokan antarwarga.
Karena konflik yang terus terjadi, sebagian warga di wilayah timur kemudian membangun benteng pertahanan sederhana.
Jejak kawasan tersebut kini dikenal sebagai Dukuh Beteng, meski wujud bentengnya sudah tidak lagi terlihat.
Seiring waktu, sebutan “Krecek” tetap melekat dan digunakan untuk menyebut wilayah tersebut hingga sekarang, meskipun kebenaran sejarahnya masih menjadi cerita lisan yang belum sepenuhnya terdokumentasi secara resmi.
Baca juga: Harga Aspal Naik, Pemprov Jateng Keberatan Aspal Jalanan di Blora Sampai Jauh, Hanya Bisa 500 Meter
Sepanjang sejarahnya, Desa Krecek telah mengalami pergantian kepemimpinan kepala desa sebanyak lima periode.
Para pemimpin tersebut antara lain:
Pergantian kepemimpinan ini menjadi bagian dari perjalanan panjang Desa Krecek dalam membangun wilayahnya, baik dari sisi administrasi, sosial, maupun pembangunan masyarakat.
Desa dengan Identitas Tradisional yang Masih Terjaga
Hingga kini, Desa Krecek tetap dikenal sebagai desa dengan nuansa tradisional yang kuat.
Kehidupan masyarakatnya masih erat dengan nilai kebersamaan dan gotong royong, meskipun telah mengalami perkembangan seiring waktu.
Sebagai bagian dari Kecamatan Delanggu, Desa Krecek juga berada di kawasan yang cukup strategis karena dekat dengan berbagai destinasi wisata pedesaan yang mulai berkembang di Klaten.
Selain memiliki sejarah lokal yang menarik, wilayah sekitar Desa Krecek juga menyimpan sejumlah destinasi wisata yang cocok untuk rekreasi keluarga maupun edukasi.
1. Taman Sehat Rejosari (Tasero)
Salah satu destinasi terdekat adalah Taman Sehat Rejosari yang berada di Rejosari, Sabrang, Delanggu.
Tempat ini menawarkan suasana pedesaan yang asri dengan fasilitas yang cukup lengkap, termasuk kolam renang dan area bersantai yang nyaman.
Pengunjung juga dapat menikmati berbagai kuliner khas Nusantara seperti nasi bancakan, nasi langgi, hingga nasi campur yang disajikan dengan nuansa tradisional.
Taman ini sering menjadi pilihan untuk kegiatan keluarga maupun kunjungan edukasi sekolah karena suasananya yang tenang dan ramah anak.
2. Desa Wisata Segaran
Destinasi lainnya adalah Desa Wisata Segaran yang juga berada di Kecamatan Delanggu, Klaten.
Tempat ini menawarkan pemandangan hamparan sawah hijau yang indah serta suasana pedesaan yang masih alami.
Pengunjung dapat menikmati udara segar, berjalan di antara area persawahan, hingga bersantai di gazebo yang tersedia.
Selain itu, wisatawan juga bisa melihat langsung aktivitas pertanian masyarakat setempat, sehingga memberikan pengalaman edukatif tentang kehidupan pedesaan.
(Tribunnewsmaker.com/TribunSolo.com/Hanang Yuwono)