Fenomena FOMO dan Healing Irit: Wisatawan di Lembang dan Bandung Kini Lebih Berhitung
Muhamad Syarif Abdussalam June 02, 2026 08:11 PM

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Putri Puspita

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Meski kawasan wisata di Bandung dan Lembang masih ramai dikunjungi saat musim liburan, pelaku industri pariwisata mulai merasakan perubahan perilaku wisatawan. 

Jika sebelumnya pengunjung datang untuk berwisata sekaligus berbelanja dan menghabiskan waktu lebih lama, kini mereka cenderung lebih berhitung dalam mengeluarkan uang.

Kondisi tersebut diungkapkan Public Relation PT Perisai Group, Intania Setiati. Perusahaan tersebut menaungi sejumlah destinasi wisata populer di Lembang seperti Farm House, The Great Asia Africa, dan Floating Market.

Menurut Intania, setiap musim libur memang selalu membawa peningkatan jumlah kunjungan dibandingkan hari biasa. Namun jika dibandingkan dengan beberapa tahun lalu, daya beli wisatawan saat ini mengalami penurunan.

Ia bahkan menyebut masa terbaik industri wisata justru terjadi pada 2023, ketika masyarakat mulai bebas bepergian setelah pandemi Covid-19.

“Kalau dilihat, sebenarnya yang paling bagus itu setelah Covid, yaitu tahun 2023. Waktu itu orang-orang sudah lama menahan diri untuk tidak bepergian, sehingga ketika sudah diperbolehkan wisata, mereka langsung ramai-ramai jalan-jalan,” ujar Intan saat ditemui di Sekertariat Apindo, Jalan Merdeka, Selasa (2/6/2026).

Saat itu, wisatawan memadati berbagai destinasi wisata, baik saat musim libur maupun hari biasa. Pelaku usaha pariwisata pun optimistis tren tersebut akan terus berlanjut pada tahun-tahun berikutnya.

Namun kenyataannya berbeda, memasuki 2024, kunjungan mulai melambat. Saat itu, pelaku industri wisata menganggap kondisi tersebut dipengaruhi tahun politik dan penyelenggaraan pemilu. Harapan agar sektor wisata kembali pulih pada 2025 pun tidak sepenuhnya terwujud.

Menurut Intania, penurunan justru berlanjut hingga 2026 seiring kondisi ekonomi yang belum stabil.

“Kita pikir setelah 2023 akan semakin baik, ternyata malah turun. Tahun 2024 turun, 2025 turun lagi, dan 2026 juga belum membaik seperti yang diharapkan,” katanya.

Meski demikian, ia menilai masyarakat tetap membutuhkan wisata sebagai sarana rekreasi dan pelepas stres. Hanya saja, mereka kini lebih selektif dalam mengatur pengeluaran.

Perubahan tersebut terlihat dari pola kunjungan wisatawan. Jika sebelumnya pengunjung bisa menghabiskan waktu dua hingga tiga jam di satu lokasi wisata, kini rata-rata hanya sekitar satu jam.

Mereka lebih banyak berjalan-jalan dan berfoto tanpa terlalu banyak berbelanja.

“Orang tetap butuh healing, tetap butuh jalan-jalan. Tapi sekarang mereka lebih berhitung. Jadi datang tetap datang, hanya belanjanya lebih sedikit dibandingkan dulu,” ujar Intania.

Selain tekanan ekonomi, industri wisata juga menghadapi tantangan baru berupa menjamurnya destinasi wisata skala kecil, kafe, hingga tempat nongkrong yang terus bermunculan.

Menurut Intania, tren tersebut turut memengaruhi kunjungan ke destinasi wisata besar. Banyak masyarakat, khususnya generasi muda, tertarik mendatangi tempat-tempat baru yang sedang viral di media sosial.

Fenomena fear of missing out (FOMO) membuat wisatawan berlomba mengunjungi lokasi yang sedang ramai diperbincangkan, meski belum tentu menjadi destinasi yang akan mereka kunjungi kembali.

“Kalau ada tempat baru yang viral, biasanya orang datang dulu. Yang penting sudah pernah ke sana, sudah foto-foto dan bisa eksis di media sosial. Itu tentu berpengaruh bagi destinasi wisata besar seperti kami,” katanya.

Menghadapi kondisi tersebut, PT Perisai Group terus melakukan berbagai inovasi untuk mempertahankan minat pengunjung. Berbagai wahana baru, konsep wisata baru, hingga pembaruan menu makanan dan minuman terus dilakukan agar tetap relevan dengan tren yang berkembang.

Produk-produk yang sedang digemari masyarakat, seperti minuman berbasis kopi maupun matcha, menjadi salah satu contoh inovasi yang dihadirkan untuk mengikuti perubahan selera pasar.

Menariknya, Intania juga mengungkapkan bahwa libur panjang tidak selalu berdampak positif terhadap jumlah wisatawan di Bandung dan Lembang.

Menurutnya, justru libur pendek selama dua hingga tiga hari lebih menguntungkan bagi destinasi wisata di Jawa Barat.

“Kalau liburnya terlalu panjang, banyak yang langsung lanjut ke Jawa Tengah atau Jogja. Jadi justru untuk wisata di Bandung dan Lembang, kami lebih senang kalau liburnya maksimal tiga hari karena biasanya mereka memilih berwisata ke Jawa Barat,” ujarnya.

Di tengah berbagai tantangan tersebut, pelaku industri wisata berharap kondisi ekonomi dapat kembali membaik sehingga daya beli masyarakat meningkat dan sektor pariwisata kembali bergairah seperti saat masa pemulihan pascapandemi.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.