SURYA.co.id, BANGKALAN - Semangat Universitas Trunojoyo Madura (UTM) mengikis kesenjangan jumlah dokter di Pulau Madura akhirnya berbuah hasil.
Ini setelah Mendiktisaintek RI menerbitkan SK izin pembukaan Prodi Kedokteran Program Sarjana dan Prodi Profesi Dokter Program Profesi untuk UTM, Selasa (2/6/2026) malam.
Rasio satu dokter melayani 7.000 penduduk di Pulau Madura tak hanya menjadi perhatian Rektor UTM, Prof Dr Safi', SH, MH namun juga mendapat atensi Direktur Pengadaan Tenaga Kesehatan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI saat mengunjungi Kampus Negeri UTM yang berlokasi di Desa Telang, Kecamatan Kamal, pada 17 April 2024.
Baca juga: UTM Resmi Buka Fakultas Kedokteran, Torehkan Sejarah Baru di Madura
Kala itu, Kemenkes RI melakukan visitasi untuk mengecek dokumen-dokumen persyaratan pendukung, kesiapan SDM, sarana dan prasarana.
Rangkaian visitasi terakhir ke UTM oleh tim assesor digelar pada 20 Mei 2026.
Saat itu, yang hadir di antaranya Kepala LLDIKTI Wilayah VII, Direktorat Kelembagaan Diktisaintek, KKI, Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya, Universitas Kristen Maranatha, LAMPTKes, ARSPI, dan dari pihak AIPKI.
Wakil Ketua Humas Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI), dr Farhat Suryaningrat SpKK, FINSDV mengaku bangga UTM telah mendapatkan izin menyelenggarakan kegiatan akademik Prodi Kedokteran Program Sarjana dan Prodi Profesi Dokter Program Profesi.
"Ini bagus untuk peningkatkan SDM dokter. Sekarang di puskesmas-puskesmas masih kekurangan SDM dokter, termasuk di beberapa titik layanan kesehatan juga masih kekurangan dokter," ungkap dr Farhat kepada Tribun Madura, Rabu (3/6/2026).
Catatan Tribun Madura per April 2024, rasio satu dokter melayani 7.000 penduduk di Pulau Madura, sebagaimana disampaikan Rektor UTM Prof Safi' dalam setiap kesempatan.
Sementara secara nasional, rata-rata rasio dokter dan penduduk disebut Prof Safi' berada di angka 1 banding 3.000 penduduk.
"Warga Madura juga tidak perlu jauh-jauh belajar keluar karena di Bangkalan melalui UTM sudah ada Fakultas Kedokteran," jelas dr Farhat yang juga menjabat Ketua Dewan Penasehat IDI Jawa Timur itu.
Ketua IDI Kabupaten Bangkalan, dr Nurul Hidayat, MSi, Med, SpB, FINACS.
Selaku pribadi dan ketua organisiasi, pria yang akrab disapa dokter Yayak itu menyambut bahagia atas SK yang sudah diterbitkan Mendiktisaintek RI untuk Fakultas Kedokteran UTM.
"Ini adalah momentum dan saya menukung penuh. Misalnya dibutuhkan kerjasama di segala bidang kedokteran, IDI Bangkalan siap," ungkapnya.
Dengan berdirinya Fakultas Kedokteran UTM, lanjutnya, SDM-SDM di Pulau Madura perlu keluar untuk mendalami ilmu kedokteran.
Sehingga pemerataan layanan kesehatan di daerah-daerah terpencil bisa lekas tercapai.
"Ada perbandingan jumlah pasien dan tenaga medis, jumlah dokter masih kurang. Tentu saja momentum ini akan mengiskis kesenjangan perbedaan dokter dan masyarakat yang memerlukan ayanan kesehatan," pungkas dr Yayak.
RSUD Syamrabu Bangkalan di tahun 2024 dipilih sebagai Rumah Sakit Pendidikan (RSP) Satelit bersama RSIA Aisyiyah Bangkalan dan RS BHC di Kabupaten Sumenep.
Sementara untuk RSP Utama, UTM telah menjalin kontrak perjanjian kerjasama atau Memorandum of Agreement (MoA) bersama rumah sakit di Kabupaten Pamekasan.
Dirut RSUD Syamrabu Bangkalan sekaligus Wakil Ketua Humas PB IDI, dr Farhat Suryaningrat, SpKK, FINSDV mengungkapkan, rumah sakit yang dipimpinnya saat ini sebagai RSP Utama Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Islam (Unisma) Malang terhitung sejak 2017.
"Apabila nanti kami suah selesai dengan Unisma dan di sana (FK Unisma) sudah jalan, kami bisa pindah sebagai RSP Utama FK UTM," ungkap dr Farhat kepada Tribun Madura melalui sambungan selulernya.
Meski sebagai RSP Satelit, lanjutnya, RSUD Syamrabu telah mendukung FK UTM dengan mengirim sediktinya 10 dokter spesialis sebgai tenaga dosen serta memberikan ruang seluas-luas kepada FK UTM untuk kegiatan pelatihan-pelatihan mahasiswa.
"Prakteknya juga bisa di RSUD Syamrabu Bangkalan," pungkas dr Farhat.
Rektor UTM, Prof Dr Safi', SH, MH menjelaskan, status rumah sakit sebagai RSP Utama hanya boleh dipakai satu fakultas kedokteran dan sudah terdaftar di Kementerian Kesehatan.
Sehingga FK UTM memilih RS di Pamekasan sebagai RSP Utama.
"Keberadaan RSP Utama merupakan salah satu syarat khusus untuk pendirian Fakultas Kedokteran. RSUD Syamrabu Bangkalan akan berperan sebagai RSP Satelit untuk mendukung RSP Utama dalam kegiatan praktek mahasiswa Fakultas Kedokteran UTM," jelas Prof Safi'.
Ia menambahkan, sebagaimana yang telah menjadi ketentuan, jumlah mahasiswa baru Prodi Kedokteran UTM di tahun pertama dan kedua maksimal sebanyak 50 orang yang akan dibagi menjadi dua kelas, masing-masing kelas berjumlah 25 mahasiswa.
"Jadi kami masih ada kesempatan membuka pendaftaran mahasiswa baru prodi kedokteran di jalur mandiri karena jalur nasional sudah lewat. SDM Prodi Kedokteran maupun sarana prasarana dan kurikulum sudah siap," pungkas Prof Safi'.