TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR – Suasana kedatangan jamaah haji Kloter 3 Debarkasi Makassar asal Kabupaten Bone tampak berbeda.
Sejumlah jamaah perempuan terlihat mengenakan busana bling-bling yang tampak meriah.
Hiasan payet yang berkilau, menciptakan kesan elegan dan kompak bagi para jamaah perempuan saat berada di Aula Arafah Asrama Haji Sudiang, Makassar.
Kloter 3 Debarkasi Makassar baru saja tiba di Asrama Haji Sudiang Makassar, Rabu (3/6/2026).
Dimana, Jamaah kloter 3 berasal dari Kabupaten Bone dengan jumlah 387 jamaah.
Penampilan para jamaah menjadi pusat perhatian saat berada di Asrama Haji Sudiang.
Seperti penampilan dari salah saru jamaah haji asal Sitti Rosmiati bersama rombongannya.
Ia berangkat dengan Jamaah Haji Andriani dan Hamsiah Baila.
Busana yang dikenakan sengaja dipersiapkan sebagai ciri khas rombongan keluarga yang berangkat menunaikan ibadah haji bersama.
“Disiapkan pakaiannya empat hari sebelum berangkat ke tanh suci,” kata Sitti kepada Tribun Timur di lokasi.
Menurutnya, busana tersebut dirancang dan dijahit secara khusus agar memiliki identitas tersendiri dibanding jamaah lainnya.
“Ini disiapkan sendiri, kita jahit. Kita belinya di Sengkang," ungkapnya.
Rosmiati mengungkapkan dirinya bersama dua sepupunya sengaja mengenakan pakaian seragam karena berangkat haji dalam satu keluarga.
“Kita mau ada ciri khas tersendiri. Karena yang lain kan mungkin ada pakai baju begitu, tapi satu-satu. Kita bertiga sepupuan," ujarnya.
“Jadi kita naik haji bertiga keluarga semua," tambah dia
Tak hanya tampil kompak, jamaah asal Bone tersebut juga membawa sejumlah oleh-oleh untuk keluarga yang menanti di kampung halaman.
“Bawa oleh-oleh ada boneka unta untuk anak-anak di rumah. Ada juga pernak-pernik yang saya beli," kata dia.
Untuk mewujudkan busana seragam tersebut, Rosmiati mengaku harus mengeluarkan biaya hingga jutaan rupiah, termasuk perlengkapan yang dikenakan.
“Biaya bajunya jutaan termasuk mispanya semua," ungkapnya.
Di balik kebahagiaan menyelesaikan rukun Islam kelima, Rosmiati juga mengenang perjalanan panjang yang harus dilaluinya sebelum berangkat ke Tanah Suci.
Ia mengaku telah menunggu selama 15 tahun untuk dapat menunaikan ibadah haji.
Momen paling berkesan baginya terjadi saat berada di Padang Arafah.
Di tempat yang menjadi puncak pelaksanaan ibadah haji itu, ia teringat kepada kedua orang tuanya dan adiknya yang baru saja meninggal dunia.
“Perasaan saya saat berada di Arafah, teringat orang tua. Teringat dengan adik. Kan baru-baru meninggal," jelasnya.(*)