Peternak di Kabupaten Blitar Minta Pemerintah Lakukan Intervensi Agar Harga Telur Tidak Terus Turun
Eko Darmoko June 03, 2026 07:35 PM

SURYAMALANG.COM, KABUPATEN BLITAR - Peternak ayam rakyat Kabupaten Blitar meminta pemerintah segera melakukan intervensi terkait kondisi harga telur di tingkat peternak yang terus turun.

Hampir sekitar dua bulan ini, harga telur di tingkat peternak terus turun di bawah harga acuan pemerintah (HAP).

Harga acuan pemerintah telur di tingkat peternak kisaran Rp 24.500 per kilogram sampai Rp 26.500 per kilogram.

Ketua Koperasi Berkah Telur Blitar, Yesi Yuni Astuti mengatakan, ketika harga telur naik, pemerintah punya instrumen legal untuk menekan harga melalui operasi pasar maupun menggelar pangan murah.

Sebaliknya ketika harga telur turun, pemerintah belum mempunyai tindakan yang legal untuk menjaga harga agar tidak terus turun.

"Kami meminta hadirnya pemerintah agar memberikan intervensi yang seimbang dan berkeadilan."

"Pada waktu harga naik, ditahan agar tidak naik, pada waktu harga turun seharusnya juga ditahan agar tidak terus turun," kata Yesi ditemui di rumahnya, Desa Wonorejo, Kecamatan Talun, Kabupaten Blitar, Rabu (3/6/2026).

Baca juga: Jalan Keluar saat Harga Telur Anjlok, Pemprov Jatim Gelontor Jagung SPHP, Sudah Tersalur 1691 Ton

Dikatakannya, kalau ketika harga naik ditahan agar tidak terus naik dan ketika harga turun dibiarkan, kondisi ini tidak seimbang dan tidak adil bagi peternak.

"Maka itu, kami memohon ada intervensi pemerintah yang seimbang dan berkeadilan terkait kondisi harga telur," ujarnya perempuan yang juga menjadi ketua Pusat Koperasi Gugus Ternak Jawa Timur itu.

Harga Telur Turun Hampir 2 Bulan

Menurut Yesi, harga telur mulai tertekan dan turun di bawah HAP pada 30 Maret 2026 atau pasca Hari Raya Idulfitri.

Kondisi itu terus bertahan pada April, berlanjut sampai Mei dan hingga awal Juni ini.

"Hampir dua bulan ini, harga telur di peternak masih di bawah HAP."

"Harganya fluktuatif di angka Rp 21.000 - Rp 23.000 per kilogram. Hari ini harga di kisaran Rp 21.000 - Rp 22.000 per kilogram," katanya.

Ia menyampaikan, harga telur di bawah HAP, otomatis membuat para peternak rakyat galau.

Apalagi, harga pakan pabrikan dan bahan baku pakan impor semua naik di tengah harga telur anjlok.

"Alhamdulillahnya, dalam hal ini, pemerintah hadir dengan menggelontorkan jagung SPHP."

"Jagung subsidi ini di jual ke peternak dengan harga maksimal Rp 5.500 per kilogram."

"Sedang harga jagung di pasaran sekitar Rp 6.500 per kilogram. Ini sangat membantu kami," katanya.

Menurutnya, dengan kondisi saat ini, para peternak hanya bisa bertahan agar tetap produksi.

Cara bertahan para peternak, kata Yesi, antara lain dengan melakukan afkir dini ayam atau mengurangi populasi dan menurunkan standar pakan dari great 1 ke great 2.

Sebagian peternak, berkreasi agar tetap hidup dengan cara menjual telur langsung ke konsumen dan mengecer ke toko-toko.

"Karena kalau dijual ke tengkulak harganya rendah dan peternak semakin merugi," katanya.

Over Populasi Sebabkan Produksi Melimpah

Menurut Yesi, harga telur di tingkat peternak anjlok karena terjadi over populasi yang membuat produksi telur melimpah, sedang penyerapan telur tetap.

"Pandangan kami, harga telur anjlok karena over populasi. Telur ini masuk barang komoditas yang tergantung suplai dan demand."

"Kalau harga turun otomatis suplai berlebih. Suplai berlebih karena over populasi," jelasnya.

Ia menjelaskan, penyebab terjadi over populasi salah satunya karena isu program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Banyak pemain baru dan pemain lama yang menambah populasi ayam ketika program MBG mulai bergulir.

"Mungkin ada yang menghitung kurang cermat sehingga muncul isu kebutuhan telur kurang untuk program MBG."

"Akhirnya, banyak pemain baru dan pemain lama menambah populasi. Pada masa puncak produksi akhirnya suplai melimpah dan demand tetap itu saja," katanya.

Dikatakannya, sampai sekarang serapan telur untuk program MBG masih belum maksimal.

Dapur SPPG program MBG menyerap telur hanya seminggu sekali, bahkan ada yang tidak pakai telur.

"Tapi, dua hari ini, program MBG mulai turun memberikan arahan dan imbauan untuk menyerap telur dari peternak."

"Memang butuh waktu, mudah-mudahan telur peternak diserap maksimal untuk program MBG," katanya.

Baca juga: Protes Harga Telur Anjlok, Peternak Blitar Raya Bagikan Sejuta Butir Telur Gratis ke Masyarakat

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.