TRIBUNMANADO.CO.ID- Sosok almarhum Prof Jan LL Lombok SH MSi merupakan sosok pendidik sejati.
Dalam kondisi terbaring lemah di rumah sakit, mantan Rektor IKIP dan Rektor Unima ini masih punya kerinduan pada dunia kampus.
Putra semata wayang Prof Lombok, Billy Lombok mengungkapkan kisah hari saat tengah dirawat di RS. Almarhum pernah memintanya untuk pulang.
Baca juga: KABAR DUKA: Rektor Pertama Unima Prof Jan Lombok Meninggal Dunia
"Saat masih sadar, papa bertanya, berapa biaya untuk naik taksi online. Saya bilang kalau mobil sekitar Rp 40 ribu. Papa kemudian bilang, ambil ATM saya lalu kasih Rp 10 juta ke dokter biar diizinkan pulang. Papa mau ke Tondano, mau mengajar," kata Billy di rumah duka, Jalan Bukit Zaitun, Kelurahan Kleak, Kecamatan Malalayang, Manado, Rabu 2 Juni 2026.
Apa yang diceritakan Billy merupakan kenangan betapa cintanya Prof Lombok pada dunia pendidikan.
"Meski sakit, dia masih telpon dosen-dosen, tanya kelasnya bagaimana, jangan lupa mengajar, kasihan mahasiswa," kata Billy lagi.
Kata anggota DPRD Provinsi Sulawesi Utara ini mengungkapkan, meski berusia lanjut, Prof Lombok tetap mengajar.
Bahkan ia masih tercatat sebagai dosen tamu di sebuah perguruan tinggi di Batam.
Prof Lombok benar-benar menjadi sosok pendidik teladan.
Kecintaannya pada dunia pendidikan tak pernah luntur sampai akhir hayat.
Ada begitu banyak kenangan yang ditinggalkan Prof Lombok bagi Billy dan keluarga besarnya.
Billy mengenang pada pertengahan era 2000-an, Prof Lombok sakit.
Di tengah perawatan, ia selalu berdoa.
"Salah satu pokok doanya, Tuhan, jika boleh saya mau lihat anak saya menjadi anggota DPRD," ujar Billy.
Harapan itu terkabul. Billy kini tercatat sebagai anggota DPRD Sulawesi Utara untuk periode ketiga.
Mantan Ketua Pemuda GMIM ini mengungkapkan, ayahnya punya kerinduan merayakan HUT ke-82 secara spesial.
Tapi harapan tinggal harapan.
"Saat di rumah sakit, papa bilang, ia mau HUT ke-82 dibuat khusus, seperti usia 80 tahun," ujar Billy lagi.
Prof Lombok, menghembuskan nafas terakhir Rabu 2 Juni 2026 sekitar pukul 02.00 Wita di RS Siloam Manado. Ia tutup usia 81 tahun, 3 bulan 29 hari.
Sebelumnya, Prof Lombok menjalani perawatan intensif di RS Siloam Manado.
Billy mengungkapkan, sang ayah berjuang dengan sakit beberapa tahun terakhir.
"Kurang lebih satu tahun ini papa beberapa kali masuk keluar rumah sakit dan ini yang terakhir," katanya.
Guru besar yang dinobatkan sebagai peletak dasar Unima modern ini lahir di Baubau, Buton, Sulawesi Tenggara pada 5 Februari 1945.
Saat ini jenazah Prof Lombok disemayamkan di rumah duka di Kleak, Malalayang Manado. Jenazah akan diberangkatkan dari Manado menuju Desa Kumelembuai, Minahasa Selatan pada Jumat 5 Juni 2026.
Disemayamkan semalam di kampung halaman, jenazah Prof Lombok dibawa ke Manado pada Sabtu 6 Juni.
Ibadah pemakaman akan dilaksanakan Sabtu siang di GMIM Musafir Kleak. Jenazah tokoh pendidikan Sulawesi Utara ini rencananya akan dimakamkan di Pekuburan Arimatea Manado.(ndo)