TRIBUNNEWS.COM - Nama Henry Nowak kembali menjadi sorotan di Inggris setelah detail baru mengenai kematiannya diungkap ke publik.
Pemuda berusia 18 tahun itu menarik perhatian setelah rekaman kamera tubuh polisi yang dirilis pada Selasa (2/6/2026) menunjukkan dirinya diborgol saat berulang kali mengatakan ia baru saja ditikam dalam sebuah insiden pada Desember 2025.
Vickrum Digwa (23), pria yang menikam Henry Nowak, diketahui berbohong kepada petugas dengan mengklaim dirinya menjadi rasisme oleh mahasiswa tersebut.
Digwa kemudian dijatuhi hukuman penjara seumur hidup pada Senin (1/6/2026).
Kasus ini memicu gelombang kritik terhadap kepolisian.
Aksi unjuk rasa juga pecah di Southampton, dekat lokasi Nowak tewas.
Mengutip Sky News, Henry Nowak merupakan anak ketiga dari empat bersaudara yang dibesarkan di Chafford Hundred, Essex.
Ia adalah mahasiswa tahun pertama jurusan akuntansi dan keuangan di Universitas Southampton.
Dalam putusan yang dibacakan Hakim William Mousley, Nowak digambarkan sebagai pemuda yang baik hati, pekerja keras, ambisius, dan sangat mencintai keluarganya.
Ayah Henry Nowak, Mark Nowak, menangis saat membacakan sebuah pernyataan di pengadilan.
"Ada lubang berbentuk Henry di keluarga kami selamanya dan tidak ada yang akan bisa mengisinya," katanya.
"Jika saya bisa bertukar tempat agar mereka berempat bisa bersama lagi, saya akan melakukannya tanpa ragu."
Ibu Henry, Lucy Ross, mengatakan kondisi kematian putranya begitu tragis dan sulit dibayangkan sehingga rasa sakit yang ia rasakan melampaui apa pun yang pernah dialaminya.
Ia juga mengatakan Henry merupakan cucu pertama dalam keluarganya yang berhasil masuk universitas, sebuah pencapaian yang menjadi sumber kebanggaan besar bagi keluarganya.
Ibu baptis Henry, Kelly Hatchard, menulis dalam unggahan Facebook bahwa Henry adalah remaja yang penyayang, perhatian, cerdas, dan pekerja keras.
Baca juga: Kronologi Remaja di Bekasi Tewas Ditikam Setelah Cekcok Soal Wanita, Pelaku Sengaja Siapkan Pisau
"Dia adalah putra sahabat saya yang lucu, perhatian, dan nakal."
"Henry memiliki cara untuk membuat orang tersenyum tanpa perlu berusaha. Dia memiliki begitu banyak kehidupan di depannya, begitu banyak rencana, dan begitu banyak cinta untuk diberikan."
Saudarinya, Olivia Nowak, mengatakan ia bangga menjadi kakak Henry.
Dalam unggahan Facebook pada Januari lalu, Olivia mengungkapkan sekitar 600 pelayat dari komunitas lokal menghadiri pemakaman Henry, sementara banyak lainnya berbaris di jalan dekat sekolah lamanya untuk memberikan penghormatan terakhir.
"Besarnya kasih sayang yang ada di satu ruangan menunjukkan betapa baiknya Henry menjalani hidupnya," katanya.
Henry Nowak meninggal dunia pada 3 Desember 2025.
Menurut laman penggalangan dana yang dibuat untuk mengenangnya, malam itu Henry sedang keluar bersama rekan-rekan dari tim sepak bola universitasnya.
Nowak dan Digwa kemudian berpapasan di Belmont Road dan sempat berinteraksi.
Menurut putusan hakim, Nowak sempat bertanya kepada Digwa apakah ia orang jahat.
Komentar tersebut kemungkinan dipicu oleh belati bersarung yang dibawa Digwa sebagai penganut Sikh.
"Nada suaranya tidak agresif atau mengancam, tetapi, seperti yang kemudian terbukti, itu merupakan kesalahan penilaian yang tragis," kata Hakim Mousley.
Perkelahian kemudian terjadi.
Dalam insiden itu, Digwa menusuk dada Nowak hingga tewas dan juga menusuk bagian belakang kakinya sebanyak dua kali.
Digwa lalu mengatakan kepada polisi bahwa dirinya menjadi korban rasisme dari Nowak, sehingga polisi justru menangkap mahasiswa tersebut.
Dalam rekaman video, Nowak yang sudah diborgol berulang kali mengatakan kepada polisi dirinya telah ditikam.
Ia juga mengeluhkan kesulitan bernapas.
Namun, petugas tidak mempercayainya.
“Kamu ditusuk? Di mana?” tanya petugas tersebut dalam rekaman video.
“Kurasa tidak, kawan.”
Menurut hakim, polisi menangkap dan memborgol Nowak selama sekitar satu menit sebelum akhirnya menyadari bahwa benar Nowak mengalami luka serius dan mulai memberikan pertolongan pertama.
Dilansir The New York Times, Independent Office for Police Conduct (IOPC), lembaga pengawas independen kepolisian Inggris, mengonfirmasi bahwa mereka sedang menyelidiki tindakan para petugas yang terlibat dalam kasus tersebut.
Kasus ini kemudian semakin dipolitisasi di media sosial.
Politikus populis sayap kanan Inggris, Nigel Farage, mengklaim bahwa respons awal polisi merupakan bukti adanya prasangka anti-kulit putih.
Ia juga mendorong para pengikutnya di media sosial untuk merespons kasus tersebut dengan kemarahan yang terkendali.
Sementara itu, Elon Musk telah beberapa kali mengomentari kasus ini dalam unggahannya selama beberapa pekan terakhir.
Setelah Digwa divonis pada Senin, Mark Nowak mengatakan di luar pengadilan bahwa putranya tidak meninggal dengan bermartabat dan mengkritik cara polisi memperlakukannya.
Namun, ia menegaskan bahwa keluarganya tidak ingin kematian Henry digunakan untuk memicu perpecahan, kebencian, atau ketegangan lebih lanjut.
Digwa dinyatakan bersalah atas pembunuhan oleh Pengadilan Mahkota Southampton.
Mengutip NBC News, Hakim William Mousley mengatakan kepada Digwa ia tidak percaya Nowak pernah mengucapkan kata-kata rasis kepadanya.
“Anda adalah satu-satunya orang yang membuat klaim itu dan itu sama sekali bertentangan dengan karakternya selama ini,” katanya.
Di Inggris, kepemilikan senjata api diatur secara ketat.
Karena itu, pisau sering digunakan dalam tindak kejahatan kekerasan dan juga dikenai pembatasan hukum.
Secara umum, masyarakat tidak diperbolehkan membawa senjata tajam, kecuali pisau saku dengan panjang mata pisau kurang dari 3 inci.
Namun, umat Sikh diizinkan membawa pisau upacara yang dikenal sebagai kirpan untuk keperluan keagamaan.
Hakim mengatakan Digwa memang memiliki pisau kirpan berukuran kecil, tetapi ia juga membawa belati Sikh bersarung sepanjang 8 inci yang digunakan untuk membunuh Nowak.
Mousley menilai keterkaitan senjata tersebut dengan simbol keagamaan telah berdampak negatif terhadap komunitas Sikh secara lebih luas.
“Tindakan Anda telah memicu ketegangan rasial di Southampton dan di seluruh negeri yang membuat banyak umat Sikh khawatir akan keselamatan mereka sendiri, padahal mereka sama sekali tidak bersalah,” kata hakim kepada Digwa.
Polisi telah meminta maaf kepada keluarga Nowak dan menyatakan bahwa kebohongan yang disampaikan Digwa telah menyesatkan petugas di lapangan.
“Sangat menyedihkan bahwa petugas tidak mempercayai Henry ketika dia mengatakan bahwa dia telah ditikam dan tidak bisa bernapas,” kata Komisaris Polisi dan Kejahatan Donna Jones.
“Rincian tanggapan polisi menimbulkan kekhawatiran serius mengenai ketidakberpihakan, keadilan, dan penilaian yang dilakukan polisi.”
Sementara itu, ibu Digwa, Kiran Kaur (53), dinyatakan bersalah karena membantu pelaku kejahatan setelah berupaya menyembunyikan senjata yang digunakan dalam pembunuhan tersebut.
Ia dijadwalkan menjalani sidang vonis pada 17 Juli 2026.
(Tribunnews.com, Tiara Shelavie)