TRIBUNNEWS.COM - Sebuah studi nasional terbaru mengungkap 87 persen warga Lebanon masih memandang Israel sebagai musuh, menjadikannya salah satu isu yang paling menyatukan masyarakat negara tersebut di tengah polarisasi politik yang mendalam.
Al Mayadeen melaporkan penelitian dilakukan oleh Profesor Jad Melki bersama tim dari Institut Penelitian dan Pelatihan Media di Universitas Lebanon Amerika selama perang Israel-Lebanon 2026.
Survei melibatkan 1.000 responden dari berbagai wilayah dan kelompok masyarakat Lebanon.
Hasil penelitian menunjukkan meskipun terdapat perbedaan tajam dalam pandangan mengenai diplomasi, Iran, Amerika Serikat (AS), dan perlawanan bersenjata, sikap terhadap Israel relatif konsisten di hampir seluruh kelompok responden.
Sebanyak 87 persen responden menyatakan Israel merupakan musuh mereka.
Sementara itu, 51 persen responden juga menganggap AS sebagai musuh, sedangkan 38 persen memiliki pandangan serupa terhadap Iran.
Mengenai jalan keluar konflik, 54 persen responden menilai diplomasi merupakan satu-satunya cara untuk mencapai pembebasan dan mengakhiri perang.
Baca juga: Sempat Kena Semprot Trump, Israel Akhirnya Mau Berunding dengan Lebanon
Sebaliknya, 35 persen menyatakan perlawanan bersenjata tetap menjadi satu-satunya pilihan yang realistis.
Studi tersebut juga menemukan 51 persen responden mendukung gagasan penghancuran Israel, sedangkan 34 persen mendukung penandatanganan perjanjian damai.
Sebanyak 47 persen warga menyatakan pembebasan Palestina merupakan tanggung jawab mereka, sementara 39 persen tidak sependapat.
Penelitian itu menunjukkan faktor usia, agama, dan tingkat pendapatan berpengaruh besar terhadap pandangan politik masyarakat.
Responden Syiah dan Sunni mencatat tingkat permusuhan tertinggi terhadap Israel.
Sementara itu, responden Kristen menunjukkan tingkat penolakan yang sedikit lebih rendah dibanding kelompok lainnya.
Dukungan terhadap Iran juga memperlihatkan perbedaan paling tajam.
Responden Syiah cenderung memiliki pandangan lebih positif terhadap Iran, sedangkan responden Sunni dan Kristen menunjukkan tingkat dukungan yang lebih rendah.
Generasi muda Lebanon tercatat lebih mendukung perlawanan bersenjata, lebih simpatik terhadap Iran, serta lebih aktif mendukung perjuangan Palestina.
Sebaliknya, kelompok usia yang lebih tua cenderung mendukung diplomasi dan penyelesaian konflik melalui jalur politik.
Baca juga: 5 Populer Internasional: Trump Memaki Netanyahu Soal Lebanon - Iran Umumkan Pemakaman Ali Khamenei
Selain aspek politik, penelitian ini juga mencatat perubahan besar dalam pola konsumsi media masyarakat Lebanon selama perang.
Untuk pertama kalinya, televisi kehilangan statusnya sebagai sumber informasi utama dan digantikan oleh platform media sosial.
Angka tersebut melampaui televisi yang hanya digunakan oleh 63 persen responden.
Radio hanya digunakan oleh sekitar 1 persen responden.
"Untuk pertama kalinya, televisi kehilangan posisinya sebagai sumber informasi utama selama perang dan digantikan oleh platform media sosial, khususnya WhatsApp," demikian temuan penelitian yang dipublikasikan Institut Penelitian dan Pelatihan Media Universitas Lebanon Amerika.
Sebanyak 82 persen responden mengaku tidak pernah membagikan atau mempublikasikan konten terkait perang di media sosial.
Baca juga: WHO Ungkap 190 Serangan ke Sektor Kesehatan Lebanon, 128 Nakes Tewas
Di antara kelompok yang aktif membagikan informasi, WhatsApp menjadi platform paling populer dengan porsi 53 persen.
Facebook berada di posisi kedua dengan 22 persen, diikuti Instagram sebesar 14 persen dan TikTok sebesar 7 persen.
Para peneliti memperingatkan pergeseran dari media tradisional menuju ekosistem media sosial yang terfragmentasi dapat memperdalam polarisasi masyarakat selama masa konflik.
Namun di sisi lain, mereka menilai perkembangan tersebut juga membuka peluang bagi generasi muda untuk membangun perspektif yang lebih kritis apabila didukung oleh pendidikan literasi media yang memadai.
"Meskipun lingkungan media baru dapat memperdalam polarisasi dan menantang kohesi sosial selama masa perang, hal itu juga dapat menciptakan peluang bagi generasi muda untuk mengembangkan identitas yang lebih inklusif dan perspektif kritis jika mereka dibekali keterampilan literasi media yang lebih kuat," tulis tim peneliti dalam laporan tersebut.
Laporan itu merekomendasikan penelitian lebih lanjut mengenai pengaruh WhatsApp dan media sosial terhadap pembentukan opini publik serta perlunya program literasi media yang lebih kuat untuk mengurangi perpecahan sosial di Lebanon.
(Tribunnews.com/Andari Wulan Nugrahani)