Dari Sampah Jadi Cuan! Intip Produksi Baju Ramah Lingkungan di Bujey Butik
Untung SofaMaulana June 04, 2026 11:42 AM

- Satu langkah kecil yang dibangun Zainab, pelaku industri kreatif di Tanjung Selor, Bulungan, Kalimantan Utara, kini justru mampu menambah penghasilannya.

Pemilik Bujey Boutique ini mulai merambah dunia fesyen daur ulang dari limbah produksi di rumah produksinya sejak kurang lebih satu tahun terakhir.

Perempuan yang rajin menjajakan hasil karyanya di setiap kesempatan pameran ini mengakui, pada awalnya ia hanya ingin mencoba karena melihat banyak kain sisa produksi yang sayang jika dibuang, padahal kondisinya masih bagus.

Zainab kemudian mulai mengumpulkan limbah kain sisa produksi tersebut dan menyulapnya menjadi berbagai kreasi busana yang indah dan unik.

Instingnya tidak pernah salah. Bermodalkan kreativitas dengan memanfaatkan limbah kain sisa produksi yang tidak terpakai, Zainab mampu meraup penghasilan Rp5 juta hingga Rp10 juta per bulan.

Saat ditemui dalam sebuah kegiatan peduli lingkungan, Zainab tak henti-hentinya menawarkan hasil produksinya. Sejumlah busana dengan desain outer kasual dan office look dipajang di stan miliknya dengan beragam warna.

“Sebenarnya koleksi kami sudah cukup banyak dan sebagian besar sudah terjual. Selebihnya kami lebih fokus ke sistem custom atau pesanan, jika ada pelanggan yang ingin dibuatkan,” kata Zainab beberapa waktu lalu saat ditemui awak TribunKaltara.com.

Lebih lanjut, Zainab mengatakan bahwa produk kreasinya tidak hanya berupa busana, tetapi juga tas.

“Bahannya berasal dari sisa kain dan kebetulan kami juga memproduksi sendiri. Awalnya saya melihat sampah kain sisa produksi menumpuk dan terasa sayang jika terus dibuang, padahal masih bagus. Akhirnya saya kreasikan menjadi barang yang tetap memiliki nilai jual,” terangnya.

Dalam hal ini, ia memastikan seluruh hasil karyanya merupakan produk ramah lingkungan. Pasalnya, tidak hanya menggunakan sisa kain produksi atau limbah, tetapi untuk dasar pola Zainab juga memanfaatkan tote bag ramah lingkungan.

Dengan demikian, saat dicuci, air bekas cucian tidak menjadi limbah berbahaya bagi lingkungan.

“Selain membutuhkan sisa-sisa kain, saya juga menggunakan tote bag ramah lingkungan. Jadi ketika dilarutkan dengan air dan dibuang, limbahnya tidak berbahaya jika meresap ke tanah,” jelasnya.

Ia menjelaskan, proses pembuatan busana berbahan dasar limbah kain sisa produksi pada dasarnya sama seperti membuat pola busana pada umumnya. Namun, tingkat kerumitannya jauh lebih tinggi.

“Karena bahannya berupa potongan kain kecil-kecil yang digunting, prosesnya lebih ke pengaturan warna dan motif. Kain tersebut dijahit dengan dilapisi tote bag karena memang berasal dari sisa kain,” ungkapnya.

Sejauh ini, segmen pasar produk Zainab masih terbatas pada pegiat lingkungan dan komunitas tertentu. Bahkan, Zainab pernah diminta menjadi perwakilan Kalimantan Utara untuk membuka stan pameran di Jakarta.

Harga produk yang ditawarkan pun bervariasi, bergantung pada model dan desain.

“Untuk outer kami banderol Rp250 ribu. Namun, untuk pesanan custom, harganya menyesuaikan dengan desain yang diminta,” tandasnya.

Program: Local Experience
Editor: Untung Sofa Maulana

#localexperience #umkm #kalimantanutara #usaha #sisalimbah #limbahkain #limbah #butik #butikbujey

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.