Akhir Hayat Mbah Slamet Suradio, Masinis Tragedi Bintaro, Dipenjara, Berpulang Tanpa Dapat Keadilan
ninda iswara June 04, 2026 12:38 PM

TRIBUNTRENDS.COM - Kabar duka datang dari sosok masinis legendaris yang dikenal luas dalam peristiwa Tragedi Bintaro 1987, Mbah Slamet Suradio.

Ia meninggal dunia pada Rabu (3/6/2026) dini hari dalam usia 87 tahun.

Mbah Slamet mengembuskan napas terakhirnya di Bekasi setelah menjalani masa tuanya dengan tenang.

Kepergiannya menjadi kehilangan bagi banyak pihak yang mengenal perjalanan hidup dan pengabdiannya di dunia perkeretaapian Indonesia.

Setelah wafat, jenazah Mbah Slamet diberangkatkan menuju kampung halamannya di Desa Gintungan, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah.

Desa tersebut kemudian menjadi tempat peristirahatan terakhir bagi sosok yang namanya lekat dalam sejarah perkeretaapian nasional.

Informasi mengenai wafatnya Mbah Slamet dengan cepat menyebar dan mengundang perhatian masyarakat.

Baca juga: 5 Wanita Tangguh Korban Kecelakaan Kereta di Bekasi Timur, Tulang Punggung, Dapat Kenaikan Pangkat

Kabar duka itu juga telah dikonfirmasi oleh perangkat Desa Gintungan yang menerima informasi mengenai pemakamannya.

Sekretaris Desa Gintungan, Jafar, membenarkan bahwa Mbah Slamet dimakamkan di desa tersebut.

"Ya, tadi malam sekitar pukul 02.00 dini hari kami mendapatkan kabar Mbah Slamet meninggal dan dimakamkan di desa kami," kata Jafar, Sekretaris Desa Gintungan dikutip Kompas.com.

Dengan kepergiannya, masyarakat kembali mengenang perjalanan hidup Mbah Slamet Suradio yang menjadi bagian dari catatan sejarah perkeretaapian Indonesia.

Terlibat dalam Tragedi Bintaro 1987

Mbah Slamet Suradio adalah masinis KA 225 rute Rangkasbitung-Tanah Abang yang terlibat dalam Tragedi Bintaro pada 19 Oktober 1987.

Saat itu, kereta yang di bawah kendalinya terlibat tabrakan dengan KA 220 Patas Merak di kawasan Pondok Betung, Bintaro.

Peristiwa tersebut menjadi salah satu kecelakaan kereta api terburuk dalam sejarah Indonesia.

Lebih dari 130 orang meninggal dunia dan ratusan lainnya mengalami luka-luka akibat tabrakan tersebut.

Slamet Suradio memang bertugas sebagai masinis saat itu, namun tragedi tersebut disebut terjadi karena kesalahan komunikasi antarstasiun.

Hal itu berdasarkan dari beberapa kajian. 

Namun demikian, tragedi tersebut mengubah jalan hidupnya.

Selain harus menghadapi trauma akibat kecelakaan besar itu, ia juga menanggung stigma sosial selama bertahun-tahun.

Mengabdi di Dunia Perkeretaapian

Slamet Suradio lahir pada 18 Agustus 1939.

Ia mulai bekerja di Perusahaan Negara Kereta Api (PNKA), yang kini menjadi PT Kereta Api Indonesia, pada tahun 1964.

Kariernya dimulai dari pekerjaan perawatan kereta sebelum keberangkatan.

Pada 1966, ia lulus ujian asisten masinis dan terus meniti karier hingga resmi menjadi masinis pada tahun 1971 dengan pangkat pengatur muda.

Selama bertahun-tahun, ia mengabdikan diri di sektor perkeretaapian hingga akhirnya terlibat dalam peristiwa yang mengubah hidupnya secara drastis.

Dipenjara dan Kehilangan Pekerjaan

Pasca Tragedi Bintaro, Slamet Suradio harus menghadapi proses hukum.

Pada 1988, ia dijatuhi hukuman lima tahun penjara dan menjalani masa tahanan di Lapas Cipinang.

Hukumannya kemudian mendapat remisi sehingga ia menjalani masa tahanan sekitar 3,5 tahun sebelum dibebaskan.

Setelah keluar dari penjara, ia tidak lagi menjalankan tugas sebagai masinis dan hanya diwajibkan melapor ke kantor.

Pada 1996, Departemen Perhubungan menerbitkan Surat Keputusan Nomor 4/KP.602/Pnb-96 yang memberhentikannya secara tidak hormat.

Ia pun tidak mendapatkan uang pensiun. 

Menjalani Hidup Sederhana

Di masa tuanya, Mbah Slamet dikenal hidup sederhana.

Ia sempat berjualan rokok di terminal untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

Meski namanya selalu dikaitkan dengan Tragedi Bintaro, banyak pihak menilai dirinya juga merupakan korban dari kegagalan sistem yang menimbulkan salah satu bencana transportasi terbesar di Indonesia.

Kini, setelah puluhan tahun hidup dalam bayang-bayang tragedi tersebut, Mbah Slamet Suradio telah berpulang.

(TribunTrends/TribunJakarta)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.