Prabowo Bongkar Awal Kecurigaan ke Dadan Hindayana, Dulu Kesayangan Kini Jadi Tersangka Kasus MBG
Rita Lismini June 04, 2026 04:44 PM

TRIBUNBENGKULU.COM - Presiden Prabowo Subianto akhirnya buka suara soal pencopotan sekaligus penangkapan Dadan Hindayana eks Kepala Badan Gizi Nasional (BGN).

Diketahui, tak hanya Dadan, dua mantan Wakil Kepala BGN yakni Lodewyk Pusung dan Sony Sanjaya juga turut ditangkap oleh Kejaksaan Agung. 

Ketiganya ditangkap atas dugaan jual beli titik dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).

Padahal, ketiga orang ini dulu 'kesayangan' Presiden karena dianggap mampu menjalankan tugas untuk negara mengatur program MBG. 

Secara terang-terangan Prabowo Subianto mengaku sedih atas keputusan mencopot Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Dadan Hindayana serta 2 Wakil Kepala BGN Lodewyk Pusung dan Sony Sonjaya. 

Prabowo saat memberikan pidato terkait program pemenuhan gizi di Sentul International Convention Center (SICC), Bogor, Jawa Barat, Rabu (3/6/2026) mengatakan ketiganya adalah pejabat kepercayaan yang disayanginya.

Prabowo mengatakan dirinya sedih harus mencopot pimpinan BGN. Apalagi orang orang tersebut sangat ia percayai dan sayangi. 

“Saya tidak bisa tutupi bahwa saya dalam keadaan sedih. Karena saya terpaksa mengganti orang-orang yang saya sebenarnya saya sayangi, orang yang saya percaya, orang yang saya berikan tugas untuk negara yang sangat berat,” katanya.

Menurut Prabowo para pejabat yang diganti tersebut merupakan figur-figur yang sebelumnya sangat ia andalkan dalam menjalankan program strategis.

Karena itulah, langkah mencopot Dadan Hindayana Cs diakui Prabowo sebagai keputusan yang sangat berat.

"Orang yang saya percaya. Orang yang saya berikan tugas untuk negara yang sangat berat," ujarnya.

Namun, hal itu terpaksa diambil demi menjaga integritas jalannya pemerintahan, terutama pada program-program krusial yang bersentuhan langsung dengan masyarakat.

Menurut Prabowo mencopot Dadan,  Lodewijk Pusung dan Sony Sanjaya tidaklah mudah. Namun ia selalu mengingat pesan sang ayah yakni untuk selalu berpihak kepada rakyat apabila menghadapi situasi yang dilematis.

“Tapi saya ingat kata-kata almarhum ayahanda saya, Profesor Sumitro, pernah mengatakan kepada saya: "Prabowo, kalau satu saat kau dalam keadaan bingung atau keadaan ragu-ragu, ingat: berpihaklah selalu kepada rakyatmu,” pungkasnya.

Prabowo mengatakan dirinya mencopot pimpinan lembaga yang menjalankan program Makan Bergizi Gratis (MBG) tersebut setelah bertemu dengan Kepala Badan Pemeriksa Keuangan Pemerintah (BPKP) Muhammad Yusuf Ateh dan juga Kepala Kepala Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) Ivan Yustiavandana.

Dirinya memanggil kedua pejabat tersebut untuk meminta agar dilakukan penelusuran terhadap dugaan penyimpangan di BGN. Ia meminta hal tersebut setelah sebelumnya banyak mendapat laporan miring mengenai BGN.

“Waktu saya mendapat laporan-laporan itu saya panggil Kepala BPKP (Badan Pemeriksa Keuangan Pemerintah) dan juga Kepala PPATK, dan saya panggil berapa pejabat lain, saya tanya:

"Tolong saya mendapat laporan tentang BGN (Badan Gizi Nasional),” katanya pada acara Building Indonesia's Future Generations Through Nutrition’ yang diselenggarakan di Sentul International Convention Center (SICC), Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat, pada Rabu, (3/6/ 2026). 

Berdasarkan penelusuran Tribunnews, Presiden memiliki jadwal bertemu kepala BPKP dan Kepala PPATK pada Senin malam (1/6/2026) sekitar pukul 19.00 WIB di Istana Jakarta. Namun pertemuan tersebut dijadwal ulang menjadi keesokan harinya. 

Pada Selasa 2 Juni Presiden kemudian bertemu dengan Kepala PPATK dan BPKP di rumah dinas Widya Chandra. Pertemuan digelar siang sebelum Presiden rapat tertutup di Wisma Danantara. 

Pada malam harinya Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi didampingi Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya dan Kepala Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom RI) Muhammad Qodari mendadak menggelar konferensi pers untuk mengumumkan pencopotan pimpinan BGN.

Pengumuman pencopotan tersebut dilakukan di Kantor Presiden tepat di bawah ruangan Presiden biasanya menggelar sidang kabinet paripurna.

Prabowo mengatakan sudah lama dirinya mendapat laporan mengenai adanya kekurangan dan penyelewengan di lembaga tersebut. Menurut Prabowo bila lembaga atau organisasi tidak berjalan baik maka hal itu dipengaruhi oleh pimpinan. 

“Dalam setiap organisasi selalu pengaruh pimpinan sangat, sangat besar.

Pemimpin baik, organisasi baik. Pemimpin tidak baik, organisasi tidak baik. Apalagi pemimpin tidak bener, tidak kompeten, atau tidak jujur,” katanya.

Dadan Hindayana Jilat Omongan Sendiri

Sebelumnya, pada 5 Agustus 2024, Dadan pernah menyampaikan:

"Nggak mungkin ada korupsi di Makan Bergizi (Gratis), karena kita sudah bikin virtual account. Virtual account harus ditandatangani oleh berdua, oleh mitra dan oleh Badan Gizi."

Ia juga menjelaskan bahwa dana MBG tidak disimpan di rekening BGN, melainkan langsung dikirim dari KPPN ke virtual account SPPG.

"Jadi untuk kasus-kasus penyalahgunaan anggaran kecil sekali kemungkinan terjadi pada program Makan Bergizi (Gratis), apalagi uang itu tidak disimpan di dalam rekening Badan Gizi tapi dikirim dari KPPN langsung ke virtual account," kata Dadan.

Ia juga menegaskan bahwa sistem pengawasan MBG dilakukan ketat termasuk audit oleh BPKP jika terjadi mark up.

Kini, pernyataan tersebut kembali menjadi sorotan setelah Dadan ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus yang berkaitan dengan program tersebut.

Kontroversi Dadan Hindayana 

Kontroversi Dadan Hindayana saat menjabat sebagai Kepala BGN. 

Pemerintah  menemukan sejumlah persoalan serius di tubuh BGN.

Mulai dari pelanggaran prosedur operasional standar (SOP), tata kelola organisasi yang dinilai belum optimal, hingga masalah dalam menjaga kualitas makanan program MBG.

Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi mengungkapkan bahwa keputusan perombakan ini tidak diambil secara tiba-tiba.

Pemerintah telah melakukan proses monitoring dan evaluasi yang berjalan selama hampir satu setengah tahun.

Berbagai catatan merah yang terkumpul selama masa evaluasi tersebut menjadi pertimbangan utama bagi Presiden Prabowo untuk menyegarkan lini kepemimpinan BGN.

"Tentunya selama 1,5 tahun melakukan monitoring dan evaluasi, banyak catatan-catatan yang kemudian itu menjadi dasar pertimbangan oleh Bapak Presiden untuk melakukan pergantian ini, dengan harapan catatan-catatan tersebut dapat segera untuk kita perbaiki," kata Prasetyo, Selasa (2/6/2026).

Prasetyo kemudian merinci beberapa aspek krusial yang menjadi perhatian serius pemerintah selama pelaksanaan program MBG.

Masalah pertama yang disoroti adalah ketidakdisiplinan jajaran pengurus lama dalam menjalankan standar operasional yang telah ditetapkan.

Selain itu, manajemen tata kelola internal organisasi dinilai masih berantakan.

Pemerintah melihat perlunya perbaikan mendasar agar program strategis nasional ini bisa berjalan lebih efektif, transparan, dan akuntabel.

"Ada yang berkenaan dengan masalah kedisiplinan dalam menjalankan SOP, ada yang berkenaan dengan masalah kedisiplinan dalam menjalankan tata kelola," ujar Prasetyo.

Bukan hanya masalah manajemen internal, aspek teknis di lapangan juga menyisakan persoalan besar.

Kualitas makanan yang disalurkan kepada para penerima manfaat program MBG dilaporkan tidak konsisten.

Prasetyo menegaskan bahwa standar mutu makanan merupakan hal yang mutlak dan tidak boleh ditawar.

Sebab, program ini berkaitan langsung dengan pemenuhan gizi anak-anak serta kelompok rentan di Indonesia.

"Termasuk kedisiplinan di dalam menjaga kualitas dari makanan yang seharusnya sudah ditetapkan oleh Badan Gizi Nasional," tegasnya.

Meski membeberkan poin-poin evaluasi tersebut, Prasetyo enggan merinci lebih jauh mengenai bentuk pelanggaran spesifik atau temuan kasus per kasus yang terjadi selama masa kepemimpinan Dadan Hindayana.

Namun, catatan-catatan itulah yang menjadi alasan kuat di balik keputusan pemerintah untuk mengumumkan pergantian pimpinan BGN.

Dalam perombakan ini, posisi Kepala BGN kini resmi dijabat oleh Nanik S Deyang yang ditunjuk untuk menggantikan Dadan Hindayana.

Penyegaran organisasi juga menyasar pada posisi wakil.

Pemerintah menunjuk Agustina Arumsari dan Mayjen TNI Trenggono sebagai Wakil Kepala BGN yang baru, menggantikan pejabat sebelumnya yaitu Lodewik Kusung dan Soni Sanjaya.

Prasetyo menambahkan, pergantian jajaran pimpinan ini diharapkan mampu menjadi momentum untuk membersihkan dan memperbaiki berbagai masalah yang muncul selama 1,5 tahun terakhir.

Langkah tegas ini juga diambil demi mempercepat realisasi program prioritas pemerintah di bidang gizi sekaligus mendongkrak kualitas pembangunan sumber daya manusia.

"Beberapa hal tersebut yang menjadi dasar pertimbangan dalam 1,5 tahun ini," tandas Prasetyo.

Isi Garasi dan Harta Kekayaan Dadan Hindayana

Menurut Laporan Harta Kekayaan Negara (LHKPN) yang dilaporkan Dadan ke Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) hanya memuat tahun 2024 tepatnya saat Dadan mulai menjabat sebagai Kepala BGN. 

Saat awal menjabat sebagai Kepala BGN, harta Dadan sudah mencapai Rp.9.022.400.000

Harta tersebut terdiri dari tanah dan bangunan senilai Rp5.900.000.000 yang terletak di Bogor. 

Dadan juga memiliki tiga alat transportasi yakni dua mobil Mazda dan satu mobil HR-V. Total harta transportasi Dadan Rp1,4 miliar. 

Harta Dadan lainnya yang terdaftar di LHKPN yakni harta bergerak lainnya senilai Rp322.400.000, serta kas dan setara kas Rp1,4 miliar.

Sehingga total harta Dadan senilai Rp.9.022.400.000 miliar. 

Setelahnya laporan terbaru harta Dadan setelah menjadi Kepala BGN tidak tercantum di KPK.

Padahal pejabat negara dan penyelenggara negara diwajibkan melaporkan LHKPN (Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara) secara periodik setiap tahun mulai 1 Januari hingga 31 Maret.

 

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.