BANJARMASINPOST.CO.ID- Dampak pelemahan rupiah terhadap sektor pariwisata sangat terasa, yaitu bagi perusahaan jasa perjalanan atas berkurangnya permintaan tiket maupun paket perjalanan keluar negeri.
Disampaikan Aisyah, Direktur Camesa, Banjarmasin, kondisinya adalah wisatawan mancanegara lebih senang berwisata ke negara kita, sedangkan masyarakat kita bepergian keluar negeri malah menurun.
"Ya, wisatawan asing cenderung senang berwisata ke Indonesia, karena liburan di Indonesia murah, sebaliknya kita yang mahal untuk keluar negeri," kata Aisyah yang juga Ketua Aspperwi Kalsel.
Warga Indonesia yang berpergian keluar negeri hanya yang ingin berobat ata menjenguk keluarga yang sakit dan juga tugas dinas yang harus dilaksanakan.
Baca juga: Lowongan Kerja Trakindo Utama, Ada Penempatan Kalimantan, Jakarta hingga Sulawesi, Cek Syaratnya
Baca juga: Aksi Heroik Raihan di Kebakaran Bakarung HSS, Nekat Terobos Api Untuk Selamatkan Sang Nenek
"Sementara ini tidak ada juga yang berlibur baik kawasan domestik maupun yang internasional," katanya.
Kondisi ini memang menjadi tantangan, lanjut Aisyah, sehingga kita harus berpikir apa yang harus dilakukan agar dapur tetap ngebul.
"Menarik minat masyarakat, kami dari Aspperwi membuka paket-paket tur inbound Kalsel, supaya mereka lebih mengenal obyek wisata yang ada di banua dan tetap kami tawarkan juga untuk keluar negeri antara lain Malaysia. Paket wisata Kalsel juga ditawarkan rekan-rekan pengusaha travel di Malaysia," paparnya.
Promosi juga dilakukan di media sosial dan share di WAG pariwisata masing-masing provinsi dengan memberikan informasi destinasi yang siap dijual baik alam, religi, Geopark .eratus juga budaya.
Menurut Aisyah, wisatawan mancanegara saat ini belum ada yang masuk ke travel mereka, karena biasanya yang masuk lebih banyak wisata mandiri dan langsung berhubungan dengan para guide di Kalsel.
"Harapan kami, pemerintah tetap support untuk destinasi yang ada dengan lebih baik lagi dan berkelanjutan. Juga tetap merangkul kami sebagai ujung tombok untuk menjual wisata-wisata yang ada di Kalsel," tandasnya.
Haidar, warga Jl Pramuka, Banjarmasin, mengungkapkan, sementara ini ia tidak melakukan perjalanan keluar negeri untuk urusan dagang, karena biaya tiket pesawat lagi tinggi.
"Sementara ini saya hanya berhubungan lewat telepon dan video call saja dengan mitra bisnis di India," kata pedagang konveksi yang biasanya dua bulan sekali bepergian keluar negeri ini.
Menurutnya, komunikasi via video call cukup menggantikan kehadiran dirinya untuk memilih barang dan lagi ia sudah percaya dengan mitra bisnisnya.
(banjarmasinpost.co.id/salmah saurin)