Saran Pakar UGM soal MBG untuk Kepemimpinan Baru BGN
Joko Widiyarso June 04, 2026 08:14 PM

 

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Pakar Kebijakan Publik Universitas Gadjah Mada (UGM), Agustinus Subarsono mendorong reformasi tata kelola program Makan Bergizi Gratis (MBG) di bawah kepimpinan Nanik S Deyang.

Menurut dia, pencopotan pimpinan Badan Gizi Nasional (BGN) beberapa waktu lalu merupakan political will dan respons pemerintah untuk penyempurnaan program MBG.

"Penting bagi publik saat ini untuk melihat ke depan sepak terjang pengelola MBG yang baru di bawah komando Nanik S. Deyang. Apakah akan terjadi reformasi tata kelola MBG dan efisiensi anggaran atau sekedar melanjutkan model tata kelola lama yang banyak dikritik oleh publik," katanya, Kamis (4/6/2026).

Subarsono menyoroti tiga hal yang perlu direformasi. Pertama, berkaitan dengan reorientasi target penerima manfaat MBG. Menurut dia, program MBG tidak perlu mencakup semua siswa, namun difokuskan kepada murid dari keluarga miskin dan daerah 3T.

Ia memandang perlu ada efisiensi anggaran pada program MBG. Efisiensi dapat dilakukan dengan mempersingkat waktu penerimaan MBG, misal menjadi tiga atau empat hari sekolah.

Terakhir, komponen menu MBG juga perlu diperbaiki. Dengan demikian menu MBG memenuhi standar gizi yang sehat.

Untuk itu, perlu ada desain sistem kontrol yang jelas dan sistematis BGN terhadap Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang tersebar di seluruh Indonesia.

"Kalau toh tidak terjadi reformasi tatakelola MBG, minimum BGN harus lebih transparan dan akuntabel dalam menggunakan anggaran publik, serta mampu membuat prioritas anggaran yang tepat," terangnya.

Ditangkapnya mantan kepala dan dua mantan wakil ketua BGN mestinya membuat pemimpin baru BGN lebih berhati-hati dalam mengelola MBG.

Kendati demikian, ia meragukan reformasi tata kelola yang signifikan. Pasalnya Nanik S Deyang merupakan bagian dari pengelola lama.
 
"Saya meragukan karena kepala BGN yang baru juga bagian dari pengelola MBG lama, dan terbiasa menggunaka tatakerja dan mekanisme lama. Berbeda kalau kepala BGN baru berasal dari luar BGN, maka dia memilki perspektif baru dan tidak terikat pada budaya oragnisasi lama, sehingga bisa melakukan inovasi, reformasi dan restrukturisasi karena tidak terikat pada kebiasan lama," pungkasnya. 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.