TRIBUNMANADO.CO.ID - Polres Kepulauan Sangihe terus mendalami kasus dugaan pasokan sianida yang diduga terkait aktivitas tambang emas ilegal di kawasan Bowone.
Dalam penyelidikan ini, polisi mengamankan enam karung sianida dan memeriksa oknum Kapitalaung Kampung Matutuang berinisial NM.
Sementara itu, seorang narapidana berinisial RB alias Ridho yang sempat melarikan diri dari Lapas Kelas III Enemawira, Sangihe, berhasil ditangkap kembali pada hari yang sama.
Narapidana kasus perlindungan anak itu diduga kabur melalui tembok belakang lapas saat berada di area penjemuran pakaian.
Kabar baik datang dari sektor telekomunikasi.
Proses pemeliharaan jaringan kabel laut yang menghubungkan Tahuna dan Melonguane resmi selesai dilaksanakan.
Polres Kepulauan Sangihe terus mendalami dugaan keterlibatan oknum Kapitalaung Kampung Matutuang berinisial NM dalam kasus penemuan enam karung sianida. Bahan kimia berbahaya itu diduga berkaitan dengan aktivitas tambang emas tanpa izin di kawasan Bowone, Kecamatan Tabukan Selatan Tengah, Kabupaten Kepulauan Sangihe, Sulawesi Utara.
Saat ini, NM masih menjalani pemeriksaan intensif. Penyidik berupaya mengungkap asal-usul sianida tersebut. Polisi juga menelusuri kemungkinan keterlibatan pihak lain.
Kasat Reskrim Polres Kepulauan Sangihe, Iptu Stefi Sumolang, SH, MH, mengatakan pihaknya masih mengkaji pasal yang dapat diterapkan dalam kasus ini.
"Kita sementara mencari pasalnya dan mencari formulanya apakah dia pelaku usaha menjual tanpa izin, apakah dia masuk di Undang-Undang Kesehatan atau lingkungan," ujar Stefi kepada wartawan, Selasa (3/6/2026).
Stefi memastikan enam karung sianida tersebut telah diamankan dalam proses penyelidikan. Namun, polisi masih mendalami siapa pemilik sebenarnya dari barang tersebut.
"Tetapi yang pasti itu berproses. Ditemukan enam karung sianida. Sebenarnya masih ada jejaring yang lebih besar berdasarkan informasi yang kami dapat. Karena sudah terangkat di media, kemungkinan ada pihak-pihak yang mengurungkan niatnya," katanya.
Meski ditemukan bersama NM, penyidik belum menyimpulkan kepemilikan barang tersebut. Polisi masih menelusuri sumber pasokan dan pihak yang berada di balik pengiriman sianida itu.
"Dia sekarang masih pemeriksaan dan dia masih mengingkari kepemilikan itu, walaupun didapat sama-sama dengan dia. Kami masih telusuri siapa sebenarnya yang punya barang, dari mana barang ini berasal, dan siapa yang berada di belakang dia," jelasnya.
Polisi juga menduga ada jaringan yang lebih besar di balik distribusi sianida tersebut. Dugaan itu mengarah pada pemasok bahan kimia untuk kebutuhan tambang emas ilegal di kawasan Bowone.
Baca selengkapnya
Seorang warga binaan pemasyarakatan berinisial RB alias Ridho sempat melarikan diri dari Lapas Kelas III Enemawira, Kabupaten Kepulauan Sangihe, Rabu (3/6/2026). Namun, narapidana tersebut berhasil ditangkap kembali beberapa jam kemudian.
RB diketahui merupakan narapidana kasus perlindungan anak. Ia sedang menjalani hukuman penjara selama tujuh tahun.
Berdasarkan informasi yang diperoleh, sekitar pukul 08.30 WITA, RB berada di area brandgang lapas untuk menjemur pakaian.
Namun saat petugas melakukan pengecekan, yang bersangkutan sudah tidak berada di lokasi.
Petugas kemudian melakukan pemeriksaan di sekitar area lapas. Hasilnya, RB diduga berhasil melarikan diri melalui tembok bagian belakang.
Mengetahui adanya narapidana yang kabur, Kepala Lapas Kelas III Enemawira langsung membentuk tim khusus untuk melakukan pencarian.
Tim gabungan kemudian menyisir sejumlah lokasi yang diduga menjadi tempat persembunyian RB.
Upaya tersebut membuahkan hasil pada sore hari. Sekitar pukul 16.30 WITA, RB berhasil ditemukan dan diamankan di kawasan sekitar Pelabuhan Tahuna.
Setelah ditangkap, RB langsung dibawa kembali ke Lapas Kelas III Enemawira.
Pihak lapas selanjutnya melakukan pemeriksaan terhadap yang bersangkutan untuk mendalami kronologi pelarian tersebut.
Baca selengkapnya
Proses pemeliharaan jaringan kabel laut yang menghubungkan Tahuna, Kabupaten Kepulauan Sangihe, dengan Melonguane, Kabupaten Kepulauan Talaud, resmi selesai pada Kamis (4/6/2026). Layanan telekomunikasi yang sempat terdampak kini telah kembali beroperasi normal.
Kepastian tersebut disampaikan Tim Humas BAKTI Komdigi melalui pembaruan resmi terkait progres pemeliharaan jaringan kabel laut Tahuna–Melonguane.
BAKTI Komdigi menjelaskan, tahapan kritikal terakhir berupa penurunan kabel ke dasar laut atau Final Bight telah berhasil diselesaikan sesuai rencana.
Setelah seluruh pekerjaan rampung, pemantauan melalui Network Operation Center atau NOC menunjukkan kondisi jaringan dalam keadaan normal dan stabil.
"Seluruh rangkaian pekerjaan pemeliharaan jaringan kabel laut Tahuna–Melonguane telah selesai dilaksanakan. Hasil monitoring menunjukkan jaringan beroperasi dengan normal dan stabil," demikian keterangan Tim Humas BAKTI.
Dengan selesainya pekerjaan tersebut, layanan telekomunikasi di wilayah Sangihe dan Talaud kembali berjalan optimal.
Kondisi ini diharapkan dapat mendukung aktivitas masyarakat, pelayanan pemerintahan, hingga berbagai layanan publik yang bergantung pada konektivitas jaringan.
Baca selengkapnya