Harga Oli Mesin Juga Naik hingga Rp10 Ribu di Mamuju Tengah
Nurhadi Hasbi June 05, 2026 09:47 AM

 

TRIBUN-SULBAR.COM, MAMUJU TENGAH - Warga Kabupaten Mamuju Tengah dikejutkan dengan kenaikan harga oli mesin dalam beberapa pekan terakhir.

Jika sebelumnya harga ganti oli berkisar antara Rp45 ribu hingga Rp55 ribu per liter, kini melonjak menjadi Rp61 ribu hingga Rp65 ribu.

Kenaikan ini dikeluhkan langsung para pengendara yang merasakan dampaknya saat melakukan perawatan kendaraan.

Baca juga: Harga Oli di Pasangkayu Naik Pascalebaran, Pemilik Bengkel Sebut Terjadi Bertahap

Baca juga: Penuh Keakraban, Gubernur Sulbar dan Kepala BKN Prof Zudan Santap Malam Bersama di Maleo Waterpark

Wahid, seorang warga Desa Tobadak, Kecamatan Tobadak, mengaku terkejut saat hendak mengganti oli kendaraannya di sebuah bengkel setempat, Jumat (5/6/2026).

"Saya baru tahu harganya naik pas mau bayar. Biasanya beli Rp50 ribu, sekarang sudah Rp61 ribu. Naik sekitar Rp10 ribu lebih," ujar Wahid.

Ia mengaku belum mengetahui secara pasti penyebab kenaikan harga ganti oli tersebut.

Namun, ia tetap terpaksa membeli karena kondisi oli kendaraannya sudah harus segera diganti.

"Ya, mau tidak mau tetap beli, karena kalau tidak ganti oli, motor bisa rusak di jalan," keluhnya.

Pengendara Keluhkan Kenaikan Harga Oli

Pengendara lainnya, Herni, warga Kecamatan Karossa, juga merasakan dampak serupa.

Ia mengaku baru mengganti oli sepeda motornya dua hari lalu dan harus merogoh kocek lebih dalam dari biasanya.

"Dulu saya ganti oli cuma Rp55 ribu, sekarang sampai Rp65 ribu. Ini lumayan memberatkan, apalagi buat saya yang tiap hari pakai motor untuk kerja," tutur Herni.

Ia berharap harga oli mesin segera kembali normal.

"Semoga cepat turun lagi. Tidak terasa kalau naiknya sedikit, tapi ini hampir 30 persen lebih. Kasihan masyarakat," imbuhnya.

Berdasarkan informasi yang dihimpun, kenaikan harga oli mesin tidak hanya terjadi di Mamuju Tengah, melainkan juga terjadi secara nasional.

Harga pelumas kendaraan saat ini mengalami kenaikan yang cukup signifikan, yakni antara 10 persen hingga 30 persen.

Beberapa faktor menjadi pemicu utama kenaikan ini, antara lain melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang memengaruhi harga komoditas impor, lonjakan harga minyak dunia yang menjadi bahan baku utama pelumas, serta tingginya biaya distribusi bahan baku pelumas impor hingga ke daerah-daerah.

Para pengendara berharap pemerintah dapat memantau stabilitas harga bahan pokok dan kebutuhan kendaraan bermotor sehingga masyarakat tetap bisa memenuhi kebutuhan perawatan kendaraan tanpa terbebani lonjakan harga yang tidak wajar.(*)

Laporan wartawan Tribun Sulbar, Sandi Anugrah

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.