BANJARMASINPOST.CO.ID- Para peternak sapi di Desa Danda Jaya, Kecamatan Rantau Badauh, Barito Kuala (Batola), Kalimantan Selatan sudah lama menghadapi kondisi kesehatan sapi yang bisa berubah drastis.
Sapi-sapi yang tampak sehat di pagi hari, kadang mendadak terlihat lesu beberapa hari kemudian.
Saat gejalanya mulai terlihat jelas, kondisinya sering kali sudah terlambat ditangani.
Bagi peternak, keterlambatan mendeteksi penyakit bukan perkara sepele.
Harga seekor sapi yang semula bernilai puluhan juta rupiah bisa anjlok drastis ketika sakit. Bahkan tak jarang berujung kematian ternak.
Kondisi itulah yang ditemui lima mahasiswa Program Studi Informatika Universitas Muhammadiyah Banjarmasin (UMB) saat melakukan observasi lapangan bersama Gabungan Kelompok Ternak (Gapoknak) Wijaya Kusuma.
Kelompok peternak yang dipimpin Musodikun itu membina sekitar 50 peternak dengan total 125 ekor sapi.
Namun, persoalan kesehatan ternak masih menjadi tantangan yang berulang setiap musim pemeliharaan.
“Dari cerita peternak, kami melihat ada kebutuhan nyata untuk membantu mendeteksi kondisi sapi lebih cepat sebelum penyakit berkembang,” ujar Ketua Tim PKM, Muhammad Radhi, Kamis (4/6/2026).
Berangkat dari persoalan tersebut, Radhi bersama Devi Wahyuni, Annisa Fitri Purnama, Diva Aulia Nisa, dan Yusuf kemudian mengembangkan MooSmartHealthGuard, sebuah kalung pintar berbasis Internet of Things (IoT) yang dirancang khusus untuk memantau kondisi kesehatan sapi secara otomatis.
Kalung itu bukan sekadar aksesoris yang menggantung di leher ternak. Di dalamnya tertanam berbagai sensor yang mampu membaca suhu tubuh, memantau detak jantung, hingga mengamati aktivitas fisik sapi sepanjang hari.
Data tersebut kemudian dikirim ke sistem berbasis web yang bisa diakses peternak melalui perangkat digital.
Jika suhu tubuh meningkat, detak jantung berada di luar batas normal, atau sapi menunjukkan pola aktivitas yang tidak biasa, sistem akan mengirimkan notifikasi lebih awal kepada peternak. Dengan begitu, penanganan bisa dilakukan sebelum kondisi ternak semakin memburuk.
Menurut Radhi, teknologi tersebut sengaja dirancang menyesuaikan kondisi peternakan di daerah, termasuk keterbatasan infrastruktur dan kebiasaan peternak yang selama ini masih mengandalkan pengamatan manual.
“Kami ingin teknologi ini mudah digunakan dan benar-benar menjawab kebutuhan di lapangan, bukan sekadar menjadi proyek penelitian,” katanya.
Inovasi tersebut mengantarkan tim UMBJM meraih pendanaan nasional melalui Program Kreativitas Mahasiswa Bidang Penerapan IPTEK (PKM-PI) Kemendiktisaintek Tahun 2026.
Saat ini, MooSmartHealthGuard direncanakan diterapkan pada tujuh ekor sapi milik mitra sebagai tahap awal uji coba.
Apabila hasilnya sesuai target, model serupa berpotensi diperluas ke seluruh sapi yang berada di bawah binaan Gapoknak Wijaya Kusuma.
Di bawah bimbingan dosen pendamping Ayu Ahadi Ningrum, kelima mahasiswa tersebut berharap inovasi yang mereka kembangkan tidak berhenti sebagai karya akademik semata. (Banjarmasinpost.co.id/rifki soelaiman)