Tekan Angka Putus Sekolah, Disdikbud Lampung Uji Coba Program Kelas Cangkok
Reny Fitriani June 05, 2026 11:19 AM

Tribunlampung.co.id, Bandar Lampung - Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Provinsi Lampung menyiapkan sejumlah program strategis guna mengatasi angka putus sekolah. 

Baca Juga: Angka Putus Sekolah Tinggi, Akademisi Unila Ingatkan Pentingnya Pengawasan Berkelanjutan

Sejumlah program yang sudah disiapkan seperti Kelas Cangkok dan SMA Terbuka.

Diketahui, Disdikbud Lampung resmi merilis petunjuk teknis (juknis) dan linimasa Sistem Penerimaan Murid Baru 
(SPMB) Tingkat SMA Negeri Se-Provinsi Lampung Tahun Ajaran 2026/2027.

Pendaftaran SPMB SMA jalur reguler dibuka pada 15-19 Juni 2026.

Adapun jadwal SPMB jenjang SMP di Bandar Lampung dibagi menjadi dua gelombang.

Gelombang pertama untuk jalur afirmasi dan prestasi dibuka pada 22-24 Juni 2026.

Lalu gelombang kedua untuk jalur domisili dan mutasi dibuka pada 1-3 Juli 2026. 

Jadwal pendaftaran jenjang SD dibuka pada 17-19 Juni 2026. Sementara jenjang TK dibuka pada 9 Juni hingga 1 Juli 2026.

Di momen pendaftaran SPMB tahun ajaran 2026/2027, Kepala Disdikbud Lampung Thomas Amirico sedikit 
terusik dengan data tingginya angka putus sekolah.

Berdasarkan catatan Pusat Data dan Teknologi Informasi (Pusdatin) hingga pertengahan 2026, angka putus sekolah di Lampung mencapai 20.534 siswa, mulai dari jenjang SD, SMP, hingga SMA. Rinciannya, tingkat SD sebanyak 5.081 siswa yang putus sekolah, tingkat SMP 10.531 siswa, dan tingkat SMA 4.742 siswa. 

Sementara dari data Badan Pusat Statistik (BPS) Lampung, jumlah siswa yang mengeyam pendidikan tingkat SD pada tahun pelajaran 2023/2024 tercatat 798.892 orang, tahun pelajaran 2024/2025 sebanyak 797.968 orang, dan tahun pelajaran 2025 sebanyak 797.865 orang.

Adapun siswa MI pada tahun pelajaran 2022/2023 tercatat 131.368 orang, tahun pelajaran 2023/2024 sebanyak 131.678 orang, dan tahun pelajaran 2025 sebanyak 133.177 siswa.

Di tingkat SMP, pada tahun pelajaran 2023/2024 tercatat 336.944 siswa, tahun pelajaran 2024/2025 sebanyak 342.821 siswa, dan tahun pelajaran 2025/2026 ada 343.606 siswa.

Sementara siswa MTs pada tahun pelajaran 2022/2023 berjumlah 114.145 orang, tahun pelajaran 2023/2024 terdapat 111.699 orang, dan tahun pelajaran 2025/2026 ada 102.900 orang.

Berdasarkan Data Pokok Pendidikan (Dapodik), terdapat 794.493 siswa SD pada tahun ajaran 2023/2024, 794.882 siswa pada tahun pelajaran 2024/2025, dan 795.773 siswa pada tahun pelajaran 2025/2026.

Adapun siswa SMP pada tahun pelajaran 2023/2024 berjumlah 334.742 orang, tahun pelajaran 2024/2025 berjumlah 339.494 orang, dan tahun pelajaran 2025/2026 terdapat 341.094 orang.

Jika merujuk pada data Desil 1 dan Desil 2, Thomas mengatakan angka indikasi putus sekolah memang sempat menyentuh kisaran 277.000 siswa. 

Namun, setelah ditelusuri, tingginya angka pada database awal kependudukan tersebut terjadi akibat adanya anomali administrasi di mana jutaan warga belum memperbarui status pendidikannya di kartu keluarga (KK).

"Ternyata di data Disdukcapil kita ini, ternyata ada lulusan SMA kemudian dia sudah kuliah, tetapi di KK-nya masih statusnya SD," kata Thomas, Selasa (2/6/2026).

Ia mengatakan, Disdikbud saat ini tengah melakukan supervisi kepada instansi terkait di kabupaten/kota agar memperbaiki proses pendataan.

"Ada jutaan orang yang posisi di KK-nya masih SD padahal dia sudah tamat SMP. Ada yang di KK-nya masih lulusan SMP status pendidikannya, tetapi dia sudah tamat SMA maupun kuliah. Ini yang harus di-upgrade," tutur Thomas.

Menurut dia, dalam pemetaan cakupan pendidikan di Lampung, terdapat ketimpangan yang cukup terlihat antarwilayah. 

"Daerah yang mencatat tingkat cakupan pendidikan tinggi hingga ke jenjang perguruan tinggi ada tiga, yaitu Bandar Lampung, Pringsewu, dan Metro," sebut Thomas.

Sementara, kata Thomas, ada sejumlah wilayah yang angka lanjutan sekolahnya terpantau masih cukup rendah.

"Yang rendah itu seperti Mesuji, sebagian Pesawaran, sebagian Tanggamus, Lampung Utara, Way Kanan, dan Pesisir Barat," lanjutnya.

Dari hasil evaluasi, Thomas menegaskan bahwa persoalan ini bukan disebabkan oleh keterbatasan daya tampung sekolah. 

"Daya tampung gabungan antara sekolah negeri dan swasta di Lampung sebenarnya sudah sangat mencukupi, bahkan banyak sekolah swasta yang kekurangan murid," imbuh dia.

Menurut Thomas, akar masalah utama anak putus sekolah di lapangan murni dipicu oleh faktor nonteknis, seperti masalah budaya, kondisi ekonomi, kenakalan remaja, serta pengaruh lingkungan sekitar.

Guna mengatasi problem putus sekolah tersebut secara menyeluruh, Disdikbud Lampung menerapkan sejumlah langkah taktis. 

Langkah pertama adalah membentuk Tim Percepatan Penurunan Angka Putus Sekolah yang bertugas berkeliling ke kabupaten/kota guna menyosialisasikan pembaruan data Disdukcapil.

"Jadi mereka melakukan sosialisasi, perbaikan data, dan melakukan supervisi ke dinas kabupaten/kota yang memegang kewenangan tingkat SD dan SMP," kata dia.

Selain pembenahan data, Disdikbud Lampung juga terus mendorong peran pusat kegiatan belajar masyarakat (PKBM) untuk memaksimalkan program kesetaraan paket A, B, dan C. 

Di samping itu, Disdikbud Lampung juga melakula terobosan baru berupa program SMA Terbuka. 

"SMA Terbuka ini akan dimulai pendaftarannya pada bulan Juli mendatang," kata Thomas.

Ia menjelaskan, program ini menyasar anak usia sekolah maupun warga di atas usia 20 tahun yang ingin kembali bersekolah, dengan tempat pendaftaran di SMA atau SMK terdekat di seluruh kabupaten/kota.

Thomas menjelaskan, SMA Terbuka dirancang berbeda dengan sistem kejar paket biasa karena mengusung konsep yang sangat fleksibel demi mengakomodasi keterbatasan ruang dan waktu para siswa di lapangan.

"Beda dengan sistem paket, SMA Terbuka ini menyesuaikan dengan kebutuhan siswa. Jadi mereka bisa belajar daring, luring, bisa di balai desa atau di mana pun, jadi lebih adaptif dan fleksibel," papar Thomas.

Untuk melengkapi aspek penanganan dari sisi finansial, Disdikbud Lampung juga mengawal Program Indonesia Pintar (PIP) dari pemerintah pusat agar berjalan optimal guna meringankan beban pembiayaan orang tua yang tidak mampu. 

Sementara untuk mendorong motivasi siswa berprestasi agar bisa melanjutkan pendidikan hingga ke jenjang perguruan tinggi, Disdikbud Lampung tahun ini mulai menguji coba program bernama Kelas Cangkok.

"Kita ada program Kelas Cangkok di tahun ini, yang menginisiasi anak berprestasi bisa melanjutkan kuliah, jadi mereka akan kita biayai pendidikannya," jelas Thomas.

Ia mengatakan, program Kelas Cangkok ini bakal mulai diuji coba pada tahun ajaran baru mendatang.

"Mudah-mudahan ke depan, kalau fiskal kita bagus, insya Allah nanti kita akan siapkan beasiswa dan lain-lain untuk bagaimana mendorong anak kita bisa melanjutkan kuliah," pungkas Thomas.

(Tribunlampung.co.id/Hurri Agusto)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.