Penulis: Juliya Safila, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa
---
Intisari hadir di whatsapp channel, follow dan dapatkan berita terbaru kami di sini
---
Intisari-Online.com -Bayangkan setiap pagi kita meminum segelas susu, memakan roti gandum, atau menyeduh minuman kemasan favorit. Tanpa kita sadari, di balik kenikmatan sederhana itu tersimpan serangkaian proses panjang yang memiliki peran penting untuk memastikan bahwa makanan tersebut benar-benar aman, bergizi, dan layak sampai ke tangan kita.
Inilah yang disebut sebagai analisis pangan, sebuah ilmu yang bekerja dalam menjaga kualitas dan keamanan makanan yang kita konsumsi setiap harinya.
Dan pernahkan kita bertanya, dari mana datangnya klaim "tinggi protein", "rendah lemak", atau "tinggi serat" yang tertera di kemasan produk pangan itu? Label-label itu bukan sekadar strategi pemasaran, melainkan hasil dari serangkaian pengujian ilmiah yang ketat dan terstandar.
Analisis pangan hadir sebagai jembatan antara produk yang diproduksi dengan kepercayaan yang diberikan konsumen.
Tak sekadar uji laboratorium
Kata "analisis" berasal dari bahasa Yunani "analusis" yang artinya "memisahkan kembali". Analisis pangan merupakan serangkaian proses pemeriksaan makanan menggunakan berbagai metode ilmiah, baik metode fisik, kimia, dan biologi untuk mengetahui kandungan yang terdapat di dalam suatu makanan, mulai dari kandungan gizi, bahan tambahan, hingga zat berbahaya yang mungkin tersembunyi di balik tampilan yang menarik.
Analisis pangan bukan sekadar pemeriksaan di laboratorium. Ia adalah bentuk tanggung jawab industri pangan untuk memastikan produk pangan yang dihasilkan aman dan layak dikonsumsi masyarakat.
Dengan menggunakan alat-alat yang sudah terstandar, mengutip Purwasih dalam Analisis Pangan (2021), industri pangan bekerja keras untuk memastikan bahwa setiap produk yang beredar di pasaran telah memenuhi standar keamanan dan kualitas yang ditetapkan.
Supaya orang semakin percaya
Sebelum sebuah produk pangan sampai ke tangan konsumen, produk pangan harus melewati serangkaian proses pengujian untuk memastikan kualitas dan keamanannya.
Menurut Nielsen dalam Nielsens’ Food Analysis (2024), analisis pangan memastikan bahwa setiap produk telah memenuhi standar nasional seperti SNI dan BPOM, serta standar internasional yang berlaku. Lebih dari itu, analisis pangan menjadi dasar dari informasi nutrisi yang tertera di kemasan, mulai dari kadar gula, lemak, hingga protein yang menjadi panduan penting bagi konsumen dalam memilih makanan yang bijak dan sehat.
Selain itu, analisis pangan berperan penting dalam pengendalian mutu atau quality control (QC) yang mencakup pengawasan bahan baku, proses pengolahan, hingga hasil akhir produk, meliputi rasa, tekstur, warna, dan aroma. Analisis pangan juga berperan mendeteksi keberadaan cemaran berbahaya, seperti logam berat, pestisida, dan toksin. Sehingga keamanan pangan dapat terjamin hingga ke tangan konsumen.
Sains aktor utamanya
Analisis pangan dilakukan melalui berbagai metode yang dipilih berdasarkan tujuan pengujian serta sifat dan karakteristik bahan pangan yang diuji. Mengutip Harini dalam penelitiannya pada 2019, analisis pangan dilakukan dengan menggunakan dua metode utama, yaitu metode analisis kimia dan analisis fisik, masing-masing metode memberi gambaran berbeda tetapi saling melengkapi terhadap kualitas suatu produk pangan.
Dalam analisis kimia, terdapat uji proksimat yang mengungkap kandungan makronutrien pangan. Kadar karbohidrat diukur melalui metode Luff Schoorl atau HPLC, kadar protein dianalisis dengan metode Kjeldahl, kadar lemak diuji melalui metode Soxhlet, sementara kadar air, abu, dan serat kasar masing-masing memiliki metode khasnya sendiri yang telah terstandar secara ilmiah.
Setiap metode tersebut merupakan hasil akumulasi pengetahuan generasi ilmuwan yang mendedikasikan hidupnya untuk memahami apa yang kita makan.
Di level yang lebih mendalam, uji spesifik mengenai kandungan mikronutrien secara terperinci. Sebagaimana dijelaskan oleh Ando et al. dalam “Laboratory Analysis of Glucose, Fructose, and Sucrose Contents in Japanese Common Beverages for the Exact Assessment of Beverage-Derived Sugar Intake” yang tayang di Fujita Medical Journal. Vol. 9 pada 2023, kadar gula mencakup glukosa, fruktosa, dan sukrosa diuji untuk memahami pengaruhnya terhadap nilai gizi, rasa, dan daya simpan produk.
Sementara itu, mengacu pada penjelasan Rimadani Pratiwi dalam “Metode Analisis Kadar Vitamin C” yang tayang di Farmaka Vol. 16 (2018), kandungan vitamin diuji karena ketidakstabilannya terhadap panas, cahaya, dan oksidasi. Selain itu, analisis asam lemak juga menjadi bagian penting dalam evaluasi mutu pangan.
Berdasarkan penelitian Untari dan Ainna berjudul “Penentuan Kadar Asam Lemak Bebas dan Kandungan Jenis Asam Lemak dalam Minyak yang Dipanaskan dengan Metode Titrasi Asam Basa dan Kromatografi Gas” pada jurnal ilmiah Bakti Farmasi (2020), pengujian asam lemak dilakukan untuk membedakan lemak sehat dari lemak berbahaya.
Adapun mineral esensial seperti zat besi, kalsium, dan magnesium, sebagaimana menurut Astriani et al. dalam “Profil Nutrisi Mineral dan Kandungan Logam Berat Rumput Laut Cokelat Sargassum sp” pada Jurnal Kelautan Tropis Vol. 27 (2024), diukur berdampingan dengan deteksi logam berat yang berpotensi mencemari makanan kita.
Adapun analisis fisik yang dilakukan dengan mengukur karakteristik secara langsung serta dapat dirasakan konsumen, seperti warna yang diuji melalui colorimetri atau spektrofotometer, serta tekstur yang dianalisis menggunakan texture analyzer. Pada akhirnya, makanan yang baik bukan hanya aman secara kimiawi, tetapi juga menyenangkan secara indrawi.
Jika diabaikan, fatal akibatnya
Bisa Anda bayangkan bagaimana dunia tanpa analisis pangan: produk yang beredar di pasaran bisa saja mengandung mikroba berbahaya, bahan kimia yang melampaui ambang aman, atau bahan tambahan pangan yang berlebihan tanpa sepengetahuan konsumen.
Label "tinggi protein" atau "rendah lemak" pun hanya akan menjadi klaim kosong yang tak bisa dipertanggungjawabkan. Tanggal kadaluarsa kehilangan maknanya. Kemudian, kepercayaan yang menjadi aset terbesar dalam industri pangan akan perlahan runtuh.
Bagi industri pangan, tidak adanya analisis pangan akan menjadi awal kehancuran industri pangan karena produk yang tidak memenuhi standar keamanan akan ditarik dari pasar, nama perusahaan tercoreng, dan kepercayaan konsumen yang dibangun bertahun-tahun dapat hancur dalam sekejap. Lebih dari sekadar urusan bisnis, analisis pangan adalah soal kesehatan dan keselamatan jutaan orang yang setiap harinya mempercayai produk yang ada di tangan mereka.
Analisis pangan adalah investasi nyata untuk kesehatan dan kepercayaan masyarakat. Proses tersebut bukan sekadar prosedur teknis, melainkan komitmen mendalam terhadap nilai kebenaran, kejujuran, dan keselamatan.
Di balik setiap makanan yang aman dan bergizi yang kita nikmati hari ini, terdapat proses pengujian panjang yang dilakukan oleh para ilmuwan pangan yang berdedikasi.
Wal-akhir, mari kita apresiasi peran sains pangan yang sering kali tak terlihat namun tak ternilai ini. Mari bersama-sama mendukung penguatan sistem analisis pangan di negeri kita, agar setiap suapan yang kita nikmati bukan hanya lezat, tetapi juga menjadi bukti nyata bahwa sains bekerja untuk melindungi kita semua.