Bukan Kopi, Minuman Kekinian ala Kafe Ini Ternyata Jamu! Rasanya Ramah Anak dan Bebas Kafein
Hironimus Rama June 05, 2026 11:35 AM

Laporan Arie Puji Waluyo

TRIBUNNEWSDEPOK.COM, JAKARTA - Minuman tradisional jamu jarang sekali ditemui di mal-mal besar, khususnya di Jakarta karena selalu dipenuhi dengan outlet atau kedai kopi.

Namun kali ini, minuman sehat tersebut bisa dinikmati di mal beken seperti di Gedung East Mal Grand Indonesia, di kawasan Thamrin, Jakarta Pusat.

Minuman tersebut bisa dirasakan di gerai atau restoran Acaraki, yang merupakan pelopor konsep Jamu New Wave yang mengangkat jamu Indonesia melalui pendekatan modern, kreatif, dan berbasis pengalaman.

Baca juga: Viral Pedagang Jamu Keliling di Kelapa Dua Depok Diduga Kerap Getok Harga, Manfaatkan Iba Pembeli

Di gerak ini, minuman tradisional warisan leluhur disulap menjadi sajian yang modis, segar, bahkan ramah di lidah anak-anak. Acaraki mencoba mendekatkan kembali ramuan herbal Nusantara ke tengah gaya hidup generasi muda.

Menariknya, mereka mencoba menggabungkan bahan rempah-rempah dipadupadankan dengan susu, yang dibuat oleh seorang peracik dengan alat-alat membuat kopi.

Alhasil rempah-rempah seperti temulawak, serai, madu, jahe, kunyit, dan lainnya jadi sebuah menu Minuman sehat yang kekinian.

Puji Sulistyowati selaku Manajer Marketing Acaraki menyampaikan, pihaknya memang ingin menjadikan jamu sebagai minuman yang digemari masyarakat, karena sangat menyehatkan.

"Kami tuh mau membuat jamu jadi gaya hidup anak muda lah. Makanya kami melakukan inovasi jamu agar disukai semua orang," kata Puji Sulistyowati kepada Wartakotalive.com di gerainya, Kamis (4/6/2026).

Mengusung tema Jamu New Wave karena Acaraki memadukan bahan rempah kering dengan bahan modern, menu minumannya pun masih terasa bahan alaminya.

Puji menyadari sebagian orang tidak suka meminum jamu karena rasa pahit dan getir yang tertinggal di tenggorokan. Tapi mereka mengemasnya dengan sangat estetik dan lezat.

Salah satu menu andalan Acaraki adalah 'Alea Smile', minuman ini meramu temulawak kering yang diekstrak menggunakan teknik rok presso, kemudian dipadukan dengan serai dan madu.

Hasilnya adalah segelas minuman dingin dengan cita rasa yang segar, ringan, namun tetap membawa manfaat baik dari temulawak.

Tak kalah unik, ada pula 'Moringacha Latte'. Nama ini terinspirasi dari kepopuleran matcha latte di kalangan anak muda, dengan menggunakan 100 persen daun kelor lokal yang diolah sedemikian rupa hingga menyerupai bubuk matcha.

Menariknya, penyajian menu ini juga mengadopsi ritual ala matcha ceremony.

"Keunggulannya, Moringacha Latte ini bebas kafein sehingga lebih ramah bagi lambung, sekaligus menjadi cara kami mengangkat potensi tanaman herbal lokal Indonesia," ucapnya.

Selain dua varian itu, Acaraki membuat terobosan dengan meluncurkan varian terbaru bertajuk 'Bananaya Series'. Menu ini mengawinkan kelembutan buah pisang dengan kehangatan rempah pilihan seperti kunyit dan jahe, berpadu yogurt atau susu segar.

Terdapat empat varian unik dalam minuman ini, pertama Bananaya Kunaya dan Bananaya Kunami Perpaduan pisang dan kunyit dengan yogurt atau fresh milk.

Kedua adalah Bananaya Jateya dan Bananaya Jatemi, dengan bahan kombinasi pisang dengan tiga jenis jahe sekaligus (ahe emprit, jahe gajah, dan jahe merah, berpadu keindahan visual bunga telang serta pilihan yogurt atau susu segar.

"Banyak pengunjung mal yang awalnya ragu karena mengira akan pahit. Namun setelah mencoba, mereka terkejut karena rasanya sangat segar, manis alami dari pisang, dan sangat ramah anak," jelasnya.


- Terinspirasi dari Era Majapahit -

Puji menjelaskan bahwa nama 'Acaraki' sendiri tidak dipilih sembarangan. Nama tersebut berakar dari bahasa Sanskerta yang tercatat dalam Prasasti Madhawapura dari zaman Kerajaan Majapahit.

"Di prasasti tersebut diceritakan berbagai profesi masa itu. Jika abasana adalah pembuat busana dan anggawari pembuat kuali, maka acaraki adalah sebutan untuk profesi peracik jamu," ujar Puji Sulistyowati.

Berdiri sejak tahun 2018, Acaraki berkomitmen menghidupkan kembali profesi legendaris ini dengan sentuhan masa kini.

Keunikan langsung terlihat dari meja bar mereka. Alih-alih menggunakan panci besar, proses meracik jamu di sini hampir seluruhnya menggunakan peralatan seduh kopi manual, seperti V60 hingga alat tekan presisi Rok Presso.

Geliat Jamu New Wave ini akan semakin semarak melalui gelaran 'Acaraki Jamu Festival (AJF) 2026', yang didukung penuh oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).

Festival perayaan jamu terbesar ini akan berlangsung pada akhir pekan ini, tepatnya tanggal 6–7 Juni 2026 di Hutan Kota GBK, Jakarta Pusat.

Acara ini dirancang sebagai ruang kolaborasi inklusif yang memadukan unsur kesehatan, budaya, kuliner, dan seni. Pengunjung dapat menikmati berbagai aktivitas menarik, mulai dari fun walk & fun run.

Tidak hanya itu saja, ada kegiatan lokakarya meracik jamu, seni kaligrafi aksara Nusantara, kompetisi jamu mixologist, permainan tradisional, parade jamu gendong, hingga area free flow jamu racikan langsung dari para laskar ibu jamu gendong.

Melalui inovasi menu harian hingga festival berskala besar, Puji Sulistyowati berharap persepsi masyarakat terhadap jamu perlahan-lahan berubah.

"Kami ingin jamu tidak hanya dicari saat tubuh sedang kurang fit, melainkan benar-benar tumbuh menjadi bagian dari gaya hidup sehat harian masyarakat yang juga diakui di kancah dunia," kata Puji Sulistyowati. (Ari).

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.