TRIBUN-BALI.COM, JEMBRANA - Warga Banjar Kembangsari, Desa Tukadaya, Kecamatan Melaya, Jembrana meninggal dunia diduga atau suspek rabies.
Adalah Ni Ketut Sari (38) yang sebelumnya memiliki riwayat gigitan HPR yakni kucing liar.
Sebelum meninggal dunia, korban sempat dirawat di RSU Negara dan menderita gejala klinis rabies seperti takut dengan air dan angin hingga akhirnya meninggal dunia tak lama setelah masuk rumah sakit atau pada 24 Mei 2026 dinihari lalu.
Menurut informasi yang diperoleh, peristiwa tersebut bermula saat Ni Ketut Sari menjemur pakaian di depan rumahnya pada bulan April 2026 lalu.
Baca juga: 4 Bulan Catat 23 Kasus Positif Rabies, Vaksinasi Rabies Dikebut, Libatkan Tim Eksternal
Saat itu, korban sempat diserang atau digigit oleh kucing liar yang tak diketahui asal muasalnya. Kucing liar tersebut menyerang korban pada bagian betis kaki kanan.
Saat itu, yang bersangkutan diinformasikan tak membawa dirinya ke faskes terdekat karena menganggap luka gigitan yang kecil. Dan ia memilih hanya mencuci luka gigitan dengan sabun dan di air mengalir.
Tak disangka, sebulan kemudian pasca kejadian atau 23 Mei 2026 lalu, korban justru sakit dengan gejala klinis mengarah ke penyakit rabies.
Seperti takut minum air hingga gelisah. Pihak keluarga lantas bergegas membawa korban ke Puskesmas terdekat dan dirujuk ke RSU Negara untuk pengobatan lebih lanjut sore hari saat itu.
Baca juga: PASCA Teror Gigitan Anjing! 96 HPR di Banyuning Mulai Divaksin Anti Rabies
Tak lama, atau esok paginya korban dinyatakan meninggal dunia.
"Pasien datang dengan keluhan utama takut terhadap air sejak satu hari sebelum dibawa ke RSU," ungkap Kabid Pelayanan Medik dan Kendali Mutu RSU Negara, dr Gustu Ngurah Putu Adnyana saat dikonfirmasi, Jumat 5 Juni 2026.
dr Ngurah menyebutkan, gejala lainnya adalah gelisah ketika terkena angin. Sesuai keterangan keluarga, pasien tersebut sebelumnya ada riwayat gigitan hewan penular rabies (HPR) yakni kucing liar di rumahnya sekitar satu bulan sebelum sakit.
"Setelah mendapat perawatan, pasien meninggal dunia esok harinya, waktu dinihari. Jadi hanya sebentar mendapat perawatan," ungkapnya.
Baca juga: ADA 2 Anjing Positif! Vaksinasi Rabies di Denpasar Capai 17.981 Ekor
Terpisah, Kabid Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH) Dinas Pertanian, Perikanan dan Pangan Jembrana, I Gusti Ngurah Putu Sugiarta membenarkan hal tersebut.
Bahwa, warga Desa Tukadaya tersebut sempat diserang hewan penular rabies (HPR) jenis kucing. Laporan tersebut diterima dua hari lalu atau sehari sejak dilakukan vaksinasi rabies emergency di sekitar lokasi.
"Sejak menerima laporan (adanya warga meninggal dunia suspek rabies), kita lakukan vaksinasi emergency di sekitar lokasi atau rumah warga tersebut," kata Sugiarta saat dikonfirmasi.
Dia menyebutkan, dari pelaksanaan vaksinasi dan kontrol populasi tersebut, pihaknya berhasil menyasar 21 ekor HPR untuk divaksinasi rabies dan 4 ekor dilakukan kontrol populasi.
Dengan kejadian ini, pemerintah mengimbau seluruh masyarakat agar tidak sekali-sekali meremehkan kasus gigitan HPR seperti anjing, kucing bahkan monyet kepada manusia. Sebab, jika tidak ditangani dengan maksimal akan bisa berakibat fatal.
"Kami imbau tidak meremehkan gigitan HPR. Jika misalnya terkena gigitan, warga diminta segera mencuci luka dengan air mengalir dan sabun, serta wajib melapor ke puskesmas terdekat untuk mendapatkan penanganan medis dan suntikan VAR maupun SAR untuk meminimalisir risiko," tandasnya.
Untuk diketahui, kepergian ibu rumah tangga tersebut menyisakan duka mendalam bagi keluarganya. Ia meninggalkan dua anaknya yang masih duduk di bangku SMA dan SD untuk selama-lamanya. (*)