Ketika Krisis Iklim Sampai ke Destinasi Wisata
GH News June 05, 2026 05:08 PM
Jakarta -

bukan sekadar tema Hari Lingkungan Hidup 2026. Bagi Indonesia yang hidup dari wisata alam, ini adalah pengingat bahwa ketika bumi berubah, destinasi wisata pun ikut dipertaruhkan.

Pada akhir November 2025, tepatnya 25-30 November, Aceh dan Sumatra Utara dihantam banjir dan longsor akibat hujan ekstrem yang dipicu pengaruh Siklon Tropis Senyar. Itu sebuah fenomena yang tidak lazim, tetapi memberi dampak sebesar itu di wilayah Sumatra bagian utara.

BMKG mencatat curah hujan ekstrem terjadi di sejumlah wilayah Aceh dan Sumatra Utara, memperparah banjir, longsor, dan gangguan mobilitas. Bagi wilayah yang juga bertumpu pada wisata alam, cuaca yang semakin tidak menentu menjadi pengingat bahwa perubahan iklim bukan lagi ancaman yang jauh.

Kemudian, pada 10-12 September 2025, Bali, ikon utama pariwisata Indonesia, mengalami banjir besar di sejumlah wilayah seperti Denpasar, Badung, hingga Gianyar setelah hujan ekstrem melanda Pulau Dewata.

Peristiwa itu tidak dimaknai sebagai peristiwa tunggal, tetapi memunculkan perdebatan mengenai daya dukung lingkungan, tata ruang dengan berkurangnya hutan dan sawah yang disertai masifnya pembangunan bangunan beton, dan kesiapan destinasi wisata menghadapi krisis iklim di tengah tekanan pembangunan pariwisata yang begitu besar.

Arsip berita petaka di hutan BatangtoruArsip berita petaka di hutan Batang Toru (Tangkapan layar)

Di wilayah timur Indonesia, Raja Ampat, yang selama ini dipromosikan sebagai salah satu surga bawah laut dunia, mulai menghadapi tekanan lain. Di sana terjadi peningkatan suhu laut dan ancaman pemutihan karang

Penelitian konservasi terbaru pada 2025 menunjukkan sebagian terumbu di Raja Ampat mulai menghadapi tekanan suhu yang semakin tinggi, meski beberapa spesies karang mash menunjukkan ketahanan yang relatif baik.

Tak hanya di Indonesia, destinasi dunia juga terdampak perubahan iklim. Pada 1 Juli 2025, sebagian area puncak Menara Eiffel di Paris ditutup sementara akibat gelombang panas ekstrem yang melanda Eropa. Suhu di Paris saat itu diperkirakan mencapai sekitar 38-40 derajat Celsius, membuat otoritas membatasi akses wisatawan demi keselamatan.

Tak lama berselang, pada 8 Juli 2025, otoritas Yunani menutup sementara kawasan wisata ikonik Acropolis di Athena selama beberapa jam pada siang hari ketika suhu menyentuh kisaran 40-41 derajat Celsius. Wisatawan diminta menghindari paparan panas berlebih, sementara pemerintah memberlakukan pembatasan aktivitas luar ruang di sejumlah wilayah.

Apa yang dulu terasa seperti cuaca musiman perlahan berubah menjadi tantangan baru bagi industri perjalanan, bagaimana tetap membuat destinasi nyaman dikunjungi di tengah bumi yang semakin panas.

Bagi Indonesia, ini bukan persoalan kecil. Sebab, Indonesia adalah negara yang menjual alam sebagai wajah utama pariwisata, pantai tropis, laut biru, pulau kecil, pegunungan, hutan hujan, hingga keanekaragaman hayati yang menjadi alasan jutaan wisatawan datang.

Karena itu, Hari Lingkungan Hidup 2026 dengan tema semestinya tidak sekadar menjadi momentum refleksi lingkungan, tetapi juga refleksi serius bagi masa depan pariwisata Indonesia. Sebab, yang sedang dipertaruhkan bukan hanya lingkungan hidup. Tetapi juga masa depan sektor yang hidup dari keindahan alam itu sendiri.

Sesungguhnya, dunia sudah lama diingatkan.

Laporan Our Common Future yang dipublikasikan pada 1987 menegaskan bahwa lingkungan, ekonomi, dan kesejahteraan sosial tidak pernah benar-benar berdiri sendiri. Ketika alam terganggu, yang terdampak bukan hanya ekosistem, tetapi juga sumber penghidupan, rasa aman, hingga keberlangsungan sektor-sektor yang bergantung pada alam-termasuk pariwisata.

Hari ini, pesan itu terasa semakin relevan. Apalagi, tahun 2024 tercatat sebagai tahun pertama ketika suhu rata-rata global tahunan melampaui ambang 1,5 derajat Celsius dibanding era pra-industri, batas psikologis penting untuk mencegah dampak iklim yang lebih buruk.

Di balik angka itu, ada konsekuensi nyata. Dalam penelitian Stefan Gosling dan Daniel Scott pada 2024, menunjukkan hubungan antara pariwisata dan perubahan iklim diteliti sejak 1970-an, meskipun perhatian serius baru meningkat dalam dua dekade terakhir. Dalam penelitian itu ditunjukkan satu kesimpulan penting bahwa perubahan iklim bukan lagi ancaman abstrak bagi pariwisata, melainkan realitas yang mulai mengubah daya tarik, kenyamanan, dan bahkan kelayakan sebuah destinasi wisata.

Pada abstrak penelitian oleh Cris de Freitas yang dipublikasikan tahun 2003 ditunjukkan bahwa pariwisata sangat dipengaruhi oleh komponen iklim yang bersifat termal, fisik, dan estetika. Suhu udara menentukan kenyamanan wisatawan, mulai dari curah hujan, badai, hingga angin mempengaruhi pengalaman perjalanan. Sementara itu, kualitas visual lingkungan menjadi bagian penting dari daya tarik sebuah destinasi.

Nah, perubahan pada faktor-faktor ini kemudian berdampak pada motivasi wisatawan, pilihan destinasi, lama musim wisata, hingga kepuasan perjalanan. Artinya, ketika bumi semakin panas dan cuaca semakin sulit diprediksi, pengalaman wisata ikut berubah.

Risiko yang dihadapi pariwisata juga semakin kompleks. menjelaskan bahwa perubahan iklim mempengaruhi pariwisata melalui dua jalur besar, risiko fisik dan risiko karbon

Risiko fisik mencakup gelombang panas, banjir, kebakaran hutan, kenaikan muka laut, abrasi, kehilangan biodiversitas, hingga pemutihan karang Sementara itu, risiko karbon berkaitan dengan meningkatnya biaya perjalanan akibat kebijakan pengurangan emisi, terutama pada transportasi udara yang menjadi tulang punggung industri wisata global.

Kesadaran akan persoalan ini membuat World Tourism Organization, United Nations Environment Programme, dan World Meteorological Organization pada 2008 menyebut perubahan iklim sebagai tantangan terbesar bagi pariwisata berkelanjutan

Namun hingga kini, banyak kebijakan pariwisata di berbagai negara dinilai belum cukup sinkron dengan kebijakan iklim. Fokus terhadap pertumbuhan wisatawan, devisa, dan ekspansi destinasi masih sering lebih dominan dibanding upaya mitigasi emisi maupun adaptasi terhadap risiko iklim.

Karena itu, semestinya masa depan pariwisata tidak cukup dibangun dengan promosi destinasi. Merujuk tema Hari Lingkungan Hidup 2026 Inspired by Nature, For Climate, For Our Future, adaptasi menjadi sangat penting.

Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa langkah-langkah adaptasi itu bisa dilakukan melalui pemetaan kerentanan iklim perlindungan ekosistem, pengelolaan air, penguatan kapasitas masyarakat lokal, hingga pembangunan destinasi yang lebih tangguh terhadap perubahan iklim.

Dengan kata lain, di tengah bumi yang semakin panas, pariwisata masa depan tidak cukup hanya indah, tetapi juga harus mampu bertahan.

Destinasi wisata perlu dipersiapkan agar lebih tangguh menghadapi banjir, abrasi, panas ekstrem, hingga krisis air. Tata ruang harus lebih sensitif terhadap risiko iklim. Perlindungan kawasan pesisir, mangrove, terumbu karang, dan hutan tidak lagi bisa dipandang sebagai pelengkap promosi wisata, melainkan fondasi keberlanjutan pariwisata itu sendiri.

Kementerian Pariwisata pun sudah semestinya tidak hanya menjadikan jumlah wisatawan, okupansi hotel, dan devisa sebagai ukuran keberhasilan pariwisata seperti yang jadi andalan laporan kepada DPR RI dan video tayangan laporan bulanan selama ini. Sudah saatnya, Kemenpar membeberkan langkah dan pencapaian di destinasi wisata sudah mampu atau belum dalam menghadapi perubahan iklim demi destinasi wisata berkelanjutan.

Kembali kepada tema Hari Lingkungan Hidup, Inspired by Nature, For Climate, For Our Future juga meyakini laporan Our Common Future pada 1987 oleh tim yang dipimpin oleh mantan Perdana Menteri Norwegia Gro Harlem Burndtland bahwa bumi cuma satu dan pembangunan yang memenuhi kebutuhan generasi saat ini tanpa mengorbankan kemampuan generasi mendatang untuk memenuhi kebutuhannya sendiri, promosi wisata dan banyak-banyakan jumlah wisatawan yang datang ke Indonesia saja tidak cukup.

Kemenpar dan stake holder pariwisata lain juga wisatawan mesti meyakini bahwa destinasi wisata itu tidak hanya indah, tetapi juga harus tangguh. Dan, seperti kerusakan destinasi, tangguhnya sebuah destinasi juga bisa dilakukan oleh tangan pembuat kebijakan, pengusaha, masyarakat termasuk di dalamnya wisatawan, serta media, yang oleh Bappenas disebut sebagai Pentahelix.

Karena itu, penting bagi praktisi media, policy makers, hingga digital content creators untuk memahami dinamika ini dan menggunakannya secara lebih bertanggung jawab. Bukan semata demi viralitas, popularitas sesaat, atau eksploitasi komersial, tetapi bisa menjadi inisiator sekaligus pelaku dalam membangun kesadaran bersama, memperkuat pemahaman lintas budaya, sekaligus menumbuhkan cara berwisata yang lebih peduli terhadap lingkungan.

Dan, semua itu mau tidak mau harus dilakukan untuk menjaga alasan mengapa sebuah tempat masih layak dikunjungi, dicintai, dan diwariskan.

[Gambas:Instagram]

----

Femi Diah
Jurnalis detikcom. Jurnalis detikcom
© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.