Dinas Pariwisata Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, menyiapkan paket wisata khusus mendukung rencana reaktivasi Bandara Adisutjipto sebagai pintu masuk wisatawan.
Paket yang dikembangkan adalah paket wisata bernilai tinggi berbasis gastronomi dan kebugaran (wellness).
Kepala Bidang Pemasaran Dinas Pariwisata Sleman Kus Endarto di Sleman, mengutip dari Antara, Jumat (5/6/2026) mengatakan bahwa pihaknya telah menyusun strategi khusus untuk menangkap peluang dari kembalinya operasional penerbangan di bandara tersebut.
Menurutnya, fokus pariwisata saat ini telah bergeser dari sekadar kuantitas jumlah kunjungan menjadi kualitas belanja dan durasi tinggal (length of stay) wisatawan.
"Kami sudah berkolaborasi dengan universitas, hotel, dan destinasi wisata untuk mengembangkan wisata gastronomi dan wellness.Kami targetkan paket wisata premium dengan estimasi minimal Rp2,5 juta per orang," kata Kus Endarto.
Ia mengatakan wisata gastronomi yang dikembangkan bukan sekadar kuliner biasa, melainkan pengalaman yang mengangkat filosofi dan narasi di balik makanan, termasuk penyajian hidangan yang terinspirasi dari relief candi di wilayah setempat.
Selain itu, reaktivasi Bandara Adisutjipto dinilai akan menjadi stimulus bagi sektor Meeting, Incentive, Convention, and Exhibition(MICE) dan olahraga golf.
Kus Endarto optimistis aksesibilitas yang kembali dekat dengan pusat kota akan meningkatkan kunjungan ke Merapi Golf yang selama ini sempat terkendala jarak dari bandara utama di Kulon Progo.
"Kami akan bersinergi dengan KONI dan PJI untuk menggelar berbagai ajang golf, baik skala nasional maupun internasional. Harapannya, hotel-hotel yang selama ini terdampak oleh perpindahan bandara dapat kembali hidup dengan adanya peningkatan okupansi dari pelaku MICE dan wisatawan mancanegara," katanya.
Terkait data kunjungan, Kus Endarto mencatat perlunya akselerasi untuk mengejar capaian 2017 yang mencapai 8 juta wisatawan, sementara saat ini angka kunjungan domestik berada di kisaran 2 juta dengan jumlah wisatawan asing yang stagnan di angka 200.000 hingga 400.000 per tahun.
Ke depan, strategi pengembangan wisata ini akan disebarkan merata di seluruh kawasan Sleman, termasuk wilayah barat yang selama ini memiliki keterbatasan lahan untuk destinasi wisata konvensional.
"Kami akan manfaatkan potensi wilayah barat melalui pengembangan gastronomi dan wellness. Kami juga sedang mengkaji tantangan baru, yakni tren wisatawan yang lebih memilih homestay atau vila dibandingkan hotel saat ada kegiatan besar, agar nantinya berdampak positif bagi seluruh pelaku industri di DIY," katanya.
Pihaknya menargetkan seluruh kesiapan paket wisata tersebut akan diluncurkan pada Agustus mendatang, selaras dengan rencana reaktivasi bandara agar siap menyambut kedatangan wisatawan asing maupun domestik.





