TRIBUNNEWS.COM - Timnas Prancis punya segalanya untuk bisa memberikan kado perpisahan terindah bagi sang pelatih, Didier Deschamps.
Piala Dunia 2026 yang akan mulai digelar pada Jumat (11/6/2026) pekan depan, bakal terasa emosional bagi Deschamps.
Hal ini karena Piala Dunia edisi kali ini, diproyeksikan akan menjadi momen perpisahan Deschamps sebagai pelatih Les Bleus.
Sejak dipercaya melatih Timnas Prancis pada Juli 2012 silam, momen jatuh bangun telah dirasakan Deschamps dalam menjalankan tugasnya.
Usai kegagalan besar yang diderita Prancis di Piala Dunia 2010 (juru kunci di fase grup) yang berlanjut ke Euro 2012 (perempat final).
Eks pelatih AS Monaco, Juventus dan Marseille tersebut punya beban berat, untuk mengangkat kembali derajat Les Bleus di level internasional.
Baca juga: Game Changer Belanda di Piala Dunia 2026, Akhir dari Romantisme Masa Lalu Ronald Koeman
Perjalanan tidak mudah pun dirasakan Deschamps saat berjuang mati-matian, demi bisa membawa Prancis ke tempat yang semestinya.
Benar saja, selama hampir 14 tahun mengabdi sebagai pelatih negaranya sendiri, Deschamps akhirnya mampu mengembalikan jatidiri Prancis sebagai salah satu negara yang berprestasi di dunia sepak bola.
Gelar juara Piala Dunia 2018 dan trofi UEFA Nations League 2021, yang dilengkapi status runner-up Euro 2016 serta Piala Dunia 2022 menjadi bukti valid Deschamps telah mengangkat derajat sepak bola Prancis, yang sempat berada di titik nadirnya.
Statistik yang ditorehkan Deschamps selama menjadi pelatih Prancis, tergolong cukup mengesankan dan layak diacungi jempol.
Selama hampir 1,5 dekade melatih Les Bleus, Deschamps terhitung sudah mendampingi timnya dalam 178 laga di semua ajang.
Hasilnya, sangat ciamik. Deschamps setidaknya mampu mendominasi laga timnya dengan raihan kemenangan, ketimbang hasil imbang ataupun kekalahan.
Tak kurang dari 115 kemenangan alias hampir 64 persen persen laga yang dimainkan Prancis saat Deschamps menjadi pelatih, selalu berujung dengan hasil positif.
Sisanya, Prancis hanya meraih hasil imbang sebanyak 32 kali, dan kalah dengan jumlah lebih sedikit lagi yakni 31 laga.
Mampu mencetak 381 gol dan hanya kebobolan 161 gol dari 178 laga, menjadi rapor yang impresif bagi Deschamps selama melatih Prancis.
Jika dirata-rata, poin yang dipersembahkan Deschamps sebagai pelatih Prancis setiap laganya ialah 2,12 poin.
Jumlah rata-rata poin yang tidak terlalu mengecewakan bagi pelatih yang sudah mengabdi hampir 14 tahun di tim sekelas Prancis.
Melihat perjuangan, capaian hingga warisan yang ditinggalkan Deschamps selama mengabdi sebagai pelatih Les Bleus.
Tak salah, jika skuad Prancis bakal termotivasi lebih untuk mempersembahkan kado terbaik kepada Deschamps lewat Piala Dunia 2026.
Salah satu anggota Big Reds Regional Surabaya yang kebetulan juga penggemar setia Timnas Prancis sejak 2006, Difanda Pandu, mencoba berbagi sudut pandang terkait era Didier Deschamps selama menjadi pelatih Ayam Jantan.
Dalam sudut pandangnya, era Prancis sejak dilatih Deschamps, merupakan tim yang solid secara komposisi pemain.
Selain itu, gaya permainan Prancis juga dinilai oke, sehingga tak salah jika tim ini hampir selalu menjadi juara di setiap turnamennya.
Disisi lain, Deschamps punya pemikiran out of the box, yang mungkin sama sekali tidak dipikirkan oleh orang lain.
Hal itulah yang dikenang Difanda Pandu saat ditanya soal era Les Bleus selama dilatih Deschamps.
"Menurutku lumayan solid jika dilihat dari segi permainan dan komposisi pemain, eranya Deschamps melatih Prancis," kata Difanda Pandu selaku anggota Big Reds Surabaya, saat dihubungi Tribunnews pada Jumat (5/6/2026) hari ini.
"Tidak hanya itu, Deschamps juga bisa menekan ego pemainnya yang notabenenya banyak berstatus sebagai pemain bintang di klub dan liganya masing-masing,"
"Yang paling kuingat saat Prancis juara Piala Dunia 2018, dia berani memainkan Blaise Matuidi di sayap kiri setiap laganya, aku pribadi awalnya skeptis, apalagi saat itu ada opsi mewah seperti Dembele, Thauvin dan Nabil Fekir pada masa jayanya,"
"Tapi ya balik lagi, sepak bola bukan hanya faktor strategi di atas kertas, tapi bagaimana setiap pemain bisa mematuhi role-playnya pada saat di lapangan, atas dasar pelatih yang tidak lain saat itu diisi Deschamps," tambahnya.
Lebih lanjut, Difanda Pandu sangat berharap Prancis bisa melaju sejauh mungkin di Piala Dunia 2026, syukur-syukur final dan juara.
Karena jika mampu mengunci gelar juara di Piala Dunia 2026, hal itu bakal menjadi kado perpisahan sempurna bagi Deschamps.
"Ya, semoga Piala Dunia 2026, Prancis juara lagi ya, itung-itung sebagai kado perpisahan buat Deschamps, sekaligus cara sempurna menyambut era Prancis dilatih Zinedine Zidane nanti," harapnya.
Dapat dikatakan, peluang Prancis untuk membawa pulang gelar Piala Dunia 2026 cukup besar.
Apalagi skuad Prancis saat ini dihuni oleh banyak pemain elit yang menjadi andalan di klubnya masing-masing.
Pemain bintang seperti Kylian Mbappe, Ousmane Dembele, Desire Doue, Michael Olise, hingga William Saliba, membuat Prancis punya kekuatan yang cukup untuk berbicara banyak di Piala Dunia edisi kali ini.
Disisi lain, mental Prancis yang mampu lolos ke final Piala Dunia dalam dua edisi terakhir, termasuk memenangkan gelar tahun 2018, tentu membuat tim ini makin disegani.
Di Piala Dunia 2026 mendatang, Prancis tergolong masuk grup berlabel neraka, karena harus bertemu Senegal, Norwegia dan Irak di Grup I.
Laga perdana yang dimainkan Prancis yakni melawan Senegal selaku juara Piala Afrika pada Rabu (17/6/2026) jam 02.00 WIB.
(Tribunnews.com/Dwi Setiawan)