TRIBUNSUMSEL.COM -- Analis Komunikasi Politik Universitas Paramadina Jakarta, Hendri Satrio atau Hensa, menanggapi pertanyaan publik terkait tidak terseretnya Nanik S Deyang dalam kasus dugaan korupsi yang menyeret sejumlah petinggi Badan Gizi Nasional (BGN).
Kasus dugaan tindak pidana korupsi dalam tata kelola program Makan Bergizi Gratis (MBG) periode 2025–2026 sebelumnya menyeret mantan Kepala BGN Dadan Hindayana bersama dua Wakil Kepala BGN, yakni Lodewyk Pusung dan Sony Sanjaya. Namun, nama Nanik yang juga pernah menjabat sebagai Wakil Kepala BGN tidak ikut disebut dalam perkara tersebut.
Kondisi itu kemudian memunculkan berbagai pertanyaan di tengah masyarakat. Pasalnya, Nanik merupakan bagian dari jajaran pimpinan BGN sebelum akhirnya ditunjuk untuk memimpin lembaga tersebut.
Menanggapi hal itu, Hensa mengaku memilih melihat persoalan tersebut dari sisi yang positif. Menurutnya, salah satu kemungkinan yang dapat menjelaskan situasi tersebut adalah karena Nanik merupakan pejabat yang paling belakangan bergabung dalam struktur pimpinan BGN.
“Ada pertanyaan juga di masyarakat ini kenapa Naniknya enggak kena ya, kan gitu, yang tiga sudah masuk gitu ya, kalau saya sih positif thinking aja karena dia paling belakangan juga masuknya,” ungkap Hensa, Jumat (5/6/2026), dikutip dari YouTube tvOne.
Selain menyinggung waktu bergabungnya Nanik ke dalam jajaran pimpinan BGN, Hensa juga menilai sosok tersebut selama ini dikenal memiliki loyalitas yang kuat terhadap Presiden Prabowo Subianto.
Menurutnya, sikap tersebut menjadi salah satu faktor yang membuat Nanik mampu menjaga reputasi dan kepercayaan yang diberikan kepadanya.
“Dia tegak lurus ke Pak Prabowo, sehingga dia bisa menjaga marwah itu,” ucapnya.
Nanik sebelumnya dilantik sebagai Wakil Kepala BGN oleh Presiden Prabowo Subianto pada 17 September 2025 bersama Sony Sanjaya. Sementara itu, Lodewyk Pusung telah lebih dahulu mengisi posisi Wakil Kepala BGN setelah dilantik pada 22 Oktober 2024.
Di tengah dinamika yang terjadi di tubuh BGN, Nanik kini dipersiapkan untuk menduduki jabatan tertinggi di lembaga tersebut. Presiden Prabowo dijadwalkan melantik Nanik sebagai Kepala BGN yang baru pada Senin (8/6/2026).
Dalam agenda yang sama, Presiden juga akan melantik jajaran Wakil Kepala BGN, termasuk Mayjen TNI Trenggono dan Agustina Arumsari.
Setelah ditetapkan sebagai tersangka korupsi MBG, Sony sebelumnya sempat menyampaikan kepada Nanik atas jabatan baru sebagai Kepala BGN.
Ucapan selamat yang ditulis dalam sebuah surat tersebut diunggah Sony melalui Instagram pribadi miliknya @sonysanjayabdpada Rabu (3/6/2026).
Dalam unggahan surat tersebut, Sony juga menyampaikan apresiasi atas sebuah hadiah yang telah diberikan kepadanya, tetapi dia tidak menjelaskan secara rinci hadiah yang dimaksud itu.
"Kepada Yth: Ibu Nanik S Deyang. Selamat atas jabatan baru sebagai Kepala BGN. Terima kasih atas hadiah indah yang diberikan kepada saya," tulis Sony dalam surat.
Kemudian pada kolom caption Instagram, Sony menuliskan doa dan harapan untuk Nanik agar bisa menjalankan amanah barunya dengan baik.
"Sebuah kebahagian melihat sahabat dan rekan yang baik mendapatkan amanah yang lebih besar untuk mengabdi kepada bangsa," ujar Sony.
"Selamat atas jabatan baru sebagai Kepala Badan Gizi Nasional. Semoga senantiasa diberikan kesehatan, kekuatan, dan kemudahan dalam menjalankan tugas."
"Teruslah menjadi pribadi yang membawa manfaat bagi banyak orang. Doa terbaik selalu menyertai setiap langkah pengabdian untuk Indonesia," tulis Sony.
Pengamat Minta Prabowo Tetap Awasi Nanik di BGN
Sementara itu, Direktur Eksekutif Trias Politika, Agung Baskoro, meminta agar Prabowo tetap mengawasi Nanik sebagai Kepala BGN yang baru, meski keduanya telah menjalin persahabatan sejak lama.
Nanik dan Prabowo diketahui telah mengenal satu sama lain sejak lama.
Nanik sebelumnya pernah menjadi Wakil Ketua Badan Pemenangan Nasional (BPN) untuk pasangan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno pada Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019 lalu.
Mantan jurnalis tersebut, terus konsisten berada di barisan pendukung dan mengawal perjuangan politik Prabowo hingga memenangkan Pilpres pada 2024.
Sejak Prabowo menjabat sebagai Presiden RI, Nanik mendapatkan posisi-posisi strategis di pemerintahan, termasuk menjadi Wakil Kepala BGN, sebelum akhirnya kini menjabat sebagai Kepala BGN menggantikan Dadan Hindayana yang terjerat kasus korupsi Makan Bergizi Gratis (MBG).
Bahkan, jauh sebelum itu, pada Pemilu 2014 silam, Nanik yang saat itu masih menjadi jurnalis sudah menjalin hubungan erat dengan Prabowo. Sejak saat itulah, Nanik dikenal sebagai salah satu sahabat yang dipercaya Prabowo.
Dengan hubungan yang sudah berlangsung lama ini, Agung menilai bahwa terpilihnya Nanik sebagai Kepala BGN ini tidak terlepas dari alasan kedekatan personal dengan Prabowo.
"Relasi dengan Bu Nanik secara personal sudah lama ya terajut sejak masa kampanye Pilpres, setahu saya 2019.
Bahkan jauh dari itu, 2014 juga ada relasi ya persahabatan antara Bu Nanik dengan Pak Prabowo," ungkapnya dalam wawancara eksklusif bersama Tribunnews dalam program ON FOCUS, Kamis (4/6/2026).
"Jadi suka atau tidak memang ketika terjadi reshuffle ini motif politiknya lebih kuat ketimbang motif teknokratisnya," sambung Agung.
Meski keduanya sudah dekat sejak lama, Agung meminta agar Prabowo tetap mengawasi Nanik di BGN.
"Sehingga ini bisa menjadi masukan juga bagi Presiden untuk memonitor kinerja dari Mbak Nanik gitu ya. Apakah memang sudah sesuai tupoksinya? Apakah mampu memainkan peran untuk memastikan kualitas itu bisa tercapai gitu," ucapnya.
"Jadi suka atau tidak memang ketika terjadi reshuffle ini motif politiknya lebih kuat ketimbang motif teknokratisnya," sambung Agung.
Meski keduanya sudah dekat sejak lama, Agung meminta agar Prabowo tetap mengawasi Nanik di BGN.
"Sehingga ini bisa menjadi masukan juga bagi Presiden untuk memonitor kinerja dari Mbak Nanik gitu ya. Apakah memang sudah sesuai tupoksinya? Apakah mampu memainkan peran untuk memastikan kualitas itu bisa tercapai gitu," ucapnya.
(*)