TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA — Likuiditas yang kuat dinilai menjadi salah satu faktor utama dalam menjaga ketahanan dan keberlanjutan usaha di sektor jasa pertambangan, terutama di tengah kondisi pasar yang masih dibayangi fluktuasi harga komoditas dan meningkatnya kehati-hatian investor.
Penilaian tersebut mengemuka setelah PT Sinar Terang Mandiri Tbk (MINE) membukukan kinerja positif pada kuartal I 2026.
Selain mencatat pertumbuhan pendapatan, perusahaan juga menunjukkan peningkatan posisi kas serta perbaikan struktur permodalan.
Baca juga: IHSG 5 Juni 2026: Bursa Saham Kembali Ambrol 4,2 Persen ke Level 5.594
Kepala Riset Praus Capital Alfred Nainggolan menilai laporan keuangan kuartal pertama tahun ini mencerminkan kondisi fundamental yang semakin sehat.
Menurutnya, di tengah volatilitas pasar, investor cenderung lebih memperhatikan kualitas fundamental dan kekuatan neraca dibandingkan pergerakan harga saham dalam jangka pendek.
Sepanjang Januari-Maret 2026, perusahaan membukukan pendapatan sebesar Rp676,19 miliar, meningkat 18,1% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp572,8 miliar.
Laba usaha tercatat Rp87,98 miliar, sedangkan laba periode berjalan mencapai Rp61,95 miliar.
Alfred menilai pertumbuhan tersebut tidak hanya terlihat dari sisi pendapatan, tetapi juga dari kemampuan perusahaan memperkuat kondisi keuangannya.
Salah satu indikatornya adalah kenaikan kas dan setara kas menjadi Rp346,07 miliar pada akhir Maret 2026, dibandingkan Rp169,32 miliar pada akhir 2025.
Menurutnya, peningkatan likuiditas tersebut penting bagi perusahaan jasa pertambangan yang umumnya membutuhkan modal kerja dan belanja modal dalam jumlah besar untuk mendukung operasional.
Posisi kas yang lebih kuat memberikan fleksibilitas yang lebih besar dalam memenuhi kebutuhan bisnis sekaligus mengelola kewajiban keuangan.
Dari sisi permodalan, perusahaan juga mencatat perbaikan setelah melunasi pinjaman bank jangka pendek yang masih tercatat pada akhir tahun lalu.
Langkah ini turut menurunkan rasio utang terhadap ekuitas (debt-to-equity ratio/DER) menjadi sekitar 0,67 kali pada akhir Maret 2026, dari sekitar 0,87 kali pada akhir 2025.
Penurunan tingkat leverage tersebut menunjukkan ketergantungan terhadap pendanaan berbasis utang semakin berkurang.
Struktur modal yang lebih sehat dinilai dapat meningkatkan kemampuan perusahaan dalam menghadapi ketidakpastian pasar dan mendukung ekspansi usaha secara berkelanjutan.
Kinerja operasional perusahaan juga tetap terjaga. EBITDA kuartal I 2026 diperkirakan mencapai sekitar Rp210,6 miliar dengan margin EBITDA sekitar 31%, yang mencerminkan kemampuan bisnis inti dalam menghasilkan profitabilitas.
Alfred menilai kombinasi antara pertumbuhan pendapatan, peningkatan likuiditas, penurunan leverage, serta profitabilitas yang tetap kuat menjadi indikator membaiknya kualitas fundamental perusahaan.
Selain itu, kemampuan perusahaan membagikan dividen meski baru satu tahun melantai di bursa juga mencerminkan kapasitas arus kas yang memadai untuk mendukung pertumbuhan usaha sekaligus memberikan imbal hasil kepada pemegang saham.
Menurutnya, perusahaan yang mampu menjaga profitabilitas sambil memperkuat neraca keuangan umumnya memiliki profil risiko yang lebih sehat dan menjadi salah satu pertimbangan penting bagi investor dalam menilai prospek pertumbuhan jangka panjang.