TRIBUNJOGJA.COM, KULON PROGO - Presiden RI Prabowo Subianto menginstruksikan pengaktifan kembali atau reaktivasi Bandara Adisutjipto di Sleman, DIY untuk penerbangan komersial. Saat ini sebagian besar penerbangan komersial dilakukan di Yogyakarta International Airport (YIA) Kulon Progo.
Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kulon Progo, Sumantoyo melihat rencana itu sebagai hal yang meresahkan. Khususnya bagi industri perhotelan dan restoran di Bumi Binangun.
"Kami khawatir reaktivasi Bandara Adisutjipto justru berpotensi merusak ekosistem pendukung pariwisata di Kulon Progo," katanya pada wartawan, Jumat (05/06/2026).
Sumantoyo pun menilai rencana itu kontradiktif dengan upaya optimalisasi YIA yang hingga kini dinilai belum maksimal dalam mendapatkan penumpang. Kondisi itu berpengaruh pada okupansi hotel di Kulon Progo yang saat ini hanya di kisaran 25 persen.
Apalagi Bandara Adisutjipto secara lokasi lebih dekat dengan pusat Kota Yogyakarta. Jika bandara itu kembali melayani penerbangan reguler, maka psikologi pasar diyakini akan langsung berubah, di mana masyarakat akan memilih Bandara Adisutjipto ketimbang YIA yang lebih jauh.
"Khawatirnya nanti YIA semakin sepi, dan hotel-hotel di sekitarnya juga akan semakin sepi padahal okupansi rata-rata saja hanya 25 persen," jelas Sumantoyo.
Ia pun menilai YIA berpotensi ditelantarkan jika Bandara Adisutjipto benar-benar diaktifkan kembali. Padahal, membangun YIA membutuhkan investasi yang tidak sedikit.
Sumantoyo berpandangan pemerintah harusnya berupaya mencari cara untuk mengoptimalkan YIA. Terutama dari sisi pergerakan penumpang agar bisa lebih meningkat dan memberi efek ekonomi pada masyarakat.
"Seperti dengan memperbanyak rute penerbangan untuk skala domestik, regional, hingga internasional," ujarnya.
Bupati Kulon Progo Agung Setyawan memiliki pandangan berbeda terkait rencana itu. Ia justru meyakini efek reaktivasi Bandara Adisutjipto tidak akan banyak berpengaruh pada aktivitas di YIA.
Sebab untuk saat ini saja, Bandara Adisutjipto memang diaktifkan untuk penerbangan komersial. Namun di sana hanya digunakan untuk penerbangan dengan pesawat kecil seperti jenis baling-baling atau ATR.
"Pergeseran ekonomi pasti ada tapi saya yakin tidak signifikan karena YIA tetap jadi tumpuan utama," kata Agung.(alx)