TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN - Aksi damai dan diskusi publik Suara Ibu Indonesia bertajuk Nyerah Jadi WNI diwarnai orasi perwakilan anak driver ojok online (Ojol).
Sebagaimana diketahui, aksi damai yang dilaksanakan di Bundaran UGM, pada Jumat sore (5/6/2026) itu dihadiri berbagai elemen masyarakat termasuk para driver ojol perempuan.
Menariknya perwakilan anak-anak driver ojol juga ikut menyuarakan keresahannya melalui orasi singkat.
Dua anak itu begitu lantang menyampaikan kegelisahannya hidup dan tumbuh ditengah iklim demokrasi yang tidak berpihak kepada rakyat menengah kebawah.
"Hari ini kami menyampaikan keresahan yang lebih besar. Kami tidak ingin tumbuh di negeri ya g membuat rakyat kecil berjuang sendiri, kami tidak ingin tumbuh di negeri yang penuh korupsi," kata anak yang mengenakan topi saat menyampaikan orasinya.
Lebih lanjut dia menyampaikan keinginannya tumbuh di Indonesia yang berpihak pada keadilan, yang melindungi serta mendengarkan suara rakyatnya.
"Serta yang memberikan harapan bagi generasi mendatang," imbuhnya.
Perwakilan anak driver ojol itu juga meminta harapan kepada pemimpin di negeri ini supaya peduli dengan mimpi dan masa depan bangsa yang sedang diperjuangkan para generasi penerus.
Menurutnya perubahan bangsa menjadi lebih baik dimulai dari suara rakyat kecil yang tidak lagi diabaikan.
"Kepada pemimpin negeri dengarkanlah suara kami. Dibalik jaket hijau, kuning, orange atau apapun warnanya ada keluarga yang sedang memperjuangkan mimpi anak-anaknya. Kami percaya Indonesia bisa lebih baik, dan perubahan itu dimulai ketika suara rakyat kecil tidak lagi diabaikan," tegasnya.
Perlu diketahui, aksi damai ini turut menyuarakan beberapa tuntutan terhadap kebijakan pemerintah saat ini.antara lain mendesak pemerintah melakukan stabilisasi ekonomi dan penyelamatan pupiah, mendesak pemerintah dan Bank Indonesia segera mengambil langkah luar biasa (extraordinary measures) untuk menahan keterpurukan Rupiah yang kini telah menyentuh angka Rp18.000 lebih (per 5 Juni 2026).
“Kami menuntut kebijakan progresif yang hati-hati, dan mengalihkan anggaran program MBG, KDMKP, Danantara, Food Estate, dan perjalanan ke luar negeri untuk mensubsidi harga kebutuhan pokok dan biaya logistik pangan,” ujar Marsinah, selaku Koordinator Aksi Lelah Jadi WNI.
Kemudian meminta tegakkan independensi bank sentral, Bank Indonesia, dengan menjauhkannya dari nepotisme jabatan untuk menjaga disiplin moneter.
Langkah nyata ini menurut mereka sangat krusial untuk menjaga stabilitas harga di akar rumput dan menyelamatkan daya beli rakyat kecil yang kian terpuruk.
Meminta pemerintah evaluasi total dan penghentian program pemborosan anggaran di antaranya, penghentian sementara program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan KDMP karena belum menjawab persoalan mendesak di akar rumput.
Marsinah, mengatakan berdasarkan evaluasi lapangan, program MBG dinilai tidak tepat sasaran, rentan dikorupsi, dan justru membebani APBN tanpa dampak signifikan terhadap pengentasan kemiskinan, sementara KDMP hanya menjadi instrumen politik tanpa substansi pemberdayaan yang nyata.
"Kami mendesak pemerintah untuk mengevaluasi dan menghentikan segala bentuk pemborosan anggaran negara, termasuk memangkas biaya perjalanan dinas luar negeri yang tidak substansial, dan mengalihkan dana tersebut untuk memperkuat jaring pengaman sosial serta stabilisasi harga pangan rakyat,” terang dia.
Menuntut memperbaiki tata kelola pemerintah serta buruknya pengelolaan negara dan kebijakan fiskal yang tidak berpihak pada rakyat kecil.
Serta menuntut perlindungan hak sipil dan HAM, mengutuk keras dan mendesak penghentian segala bentuk teror, intimidasi, serta kekerasan oleh aparat maupun kelompok tertentu terhadap aktivis yang kritis menyuarakan keadilan.
"Merujuk pada kasus penyiraman air keras terhadap Andrie Yunus, kami menuntut negara untuk berhenti menggunakan mekanisme peradilan militer yang tertutup dalam mengadili kasus kekerasan terhadap warga sipil,” tegasnya.