TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN - Selama dua pekan terakhir, Laila Putri Rahma Dewi, tetangga sebelah utara rumah Agusyani, hanya bisa memandang cemas ke arah selatan. Dari balik rumah kontrakannya di Dusun Kasuran, Seyegan, Sleman, ia menyaksikan tetangganya setiap malam harus siaga menghadapi api yang muncul secara tiba-tiba dan acak.
Perempuan asal Magelang itu, semula tidak percaya bahwa titik api yang belum diketahui penyebab pastinya akan benar-benar merembet hingga ke kediamannya.
Kini, tepat dua pekan munculnya api di rumah Agusyani, titik api itu benar-benar muncul di belakang rumah kontrakan Laila. Titik api telah membakar dua barang yakni handuk dan kerudung warna hitam.
Laila bercerita, Kamis siang (4/6/2026) kemarin, kerudung hitam kesayangannya yang dijemur di sisi selatan rumah mendadak hangus sebagian. Ia baru menyadarinya saat hendak pergi belanja.
"Kerudung kemarin siang. Pasnya jam berapa, saya kurang tahu. Saya tahu pas mau saya pake buat belanja, loh ternyata sudah begini (memperlihatkan bekas terbakar)," kata Laila, ditemui Jumat (5/6/2026).
Kerudung hitam yang ditunjukkan Laila tampak jelas terdapat sisa bekas terbakar api. Api hanya membakar sebagian bahan sehingga bentuk kerudung masih bisa dikenali.
Soal titik api di rumah tetangga Agusyani ini, sebenarnya sudah mulai muncul sejak beberapa hari lalu, tepatnya Senin (1/6) sore. Sebuah tumpukan kayu yang diletakkan jauh di belakang rumah tiba-tiba terbakar.
"Kemarin, kata Mbak Fia, dia melihat kayu yang di belakang terbakar. Tapi saat itu saya tidak di rumah sehingga tidak terlalu (memperhatikan), mosok sampai sini sih. Terus kemarin menjemur di sana (seberang selatan rumah), kerudung hitam ini terbakar," katanya.
Rumah kontrakan Laila dengan rumah Agusyani hanya berjarak puluhan meter. Lokasinya tepat berada di sebelah utara ruko yang kini dimanfaatkan keluarga Agusyani untuk tempat pengungsian sementara.
Sejak kemarin, soal 'teror' kemunculan api, Laila mengaku sudah sempat diingatkan agar tidak menggantung atau menyampirkan barang atau pakaian yang mudah terbakar. Ia sudah mencoba mematuhi itu. Tapi pada Kamis (4/6) ia membiarkan handuk basah menggantung di tempat jamuran baju supaya kering. Jumat dini hari handuk tersebut terbakar.
"Handuk saya ditaruh (dicantelin) di tempat jemuran di sini (di belakang rumah). Biasanya handuk basah setelah mandi tak taruh sini biar kering. Posisinya tergantung. Kemarin sore sempat dibilangin jika ada barang tergantung untuk diminta disingkirkan. Tapi saya belum percaya kalau api sampai sini. Semalam baru (kejadian)," ujarnya.
Laila mengetahui jika handuknya terbakar Jumat (5/6) pagi. Setiap pagi hari, ia beraktivitas membersihkan belakang rumah kontrakannya. Ketika melihat ke arah tempat jemuran, ia mendapati handuk basah yang dijemur, sudah tidak ada. Beberapa meter, sebelah selatan dari tempat jemuran itu, ia melihat abu hitam sisa barang terbakar.
"Saya pastikan lagi ke dalam rumah nyari handuk, kok gak ada. Baru dibilangin suami, suami ke situ (ke rumah Agusyani) baru tahu jika handuk semalam terbakar," kata dia.
Kini sudah ada dua barang milik Laila yang terbakar yaitu handuk dan kerudung. Ia mengaku mulai merasakan takut dan khawatir. Bahkan mulai mengemas barang-barang di dalam rumah. Sebab Laila dan suami, tinggal di rumah tersebut hanya mengontrak satu tahun.
Kini sudah berjalan 11 bulan. Jika kemunculan api dianggap membahayakan, ia dan suami sudah bersiap untuk berpindah tempat tinggal.
"Takut, khawatir mesti ada ya. Tapi (ke depan) kita lebih hati-hati, kalau malam biasanya berjaga. Tadi malam jam 12 ketiduran. Jadi (nanti) lebih hati-hati lagi," katanya.
Jumat dini hari (5/6), jarum jam baru menunjukkan pukul 01.22 WIB. Mutfiana, anak dari Agusyani, sedang berjalan ke samping rumah tetangganya, Laila, untuk mengecek kucing peliharaannya. Alih-alih mendengar suara meong, matanya justru menangkap kilatan cahaya merah yang menari-nari di kegelapan pekarangan belakang rumah Laila.
"Saya mau mengecek kucing di samping rumah. Tau-tau ada api. Posisi api belakang rumah membakar handuk," kata Mutfiana.
Melihat handuk terbakar, ia memanggil bantuan. Personel BPBD yang mengetahui ada api dari rumah tetangga Agusyani, langsung bergegas mendatangi lokasi. Handuk yang diselimuti api lalu dibawa ke tempat aman dan dipadamkan apinya dengan cara diinjak.
Terbakarnya handuk Laila bukan sekadar insiden kecil biasa. Itu adalah titik api ke-100 sejak awal mula kemunculan api di dusun Kasuran Jumat (23/5) lalu. Tepat 14 hari sejak api misterius pertama melanda dusun Kasuran, sudah 100 kali kejadian kebakaran.
Api menyala tanpa korek, tanpa korsleting, dan membakar kain, sofa, buku, kardus, tikar, gulungan kabel, dan kini mulai merembet ke tetangga sebelah ruko.
"Sekarang kebakaran di sini sudah memasuki hari ke 14. Totalnya sudah 100 kejadian," kata Fia.
Meski sudah muncul dugaan awal penyebab–hasil penelitian sejumlah pihak–keluarga Agus belum benar-benar tenang. Ancaman titik terbakar masih menghantui, lantaran bisa muncul kapan saja, di mana saja.
Siaga 24 jam adalah cara satu-satunya untuk berjaga. Setiap sekian jam sekali, mereka berkeliling untuk mengecek apakah ada api yang muncul.
Air, handuk basah, hingga Alat Pemadam Api Ringan (APAR) adalah senjata utama upaya pemadaman api. Hari-hari melelahkan di Seyegan ini ternyata masih berlangsung. Entah sampai kapan. (*)