Laporan Wartawan TribunSolo.com, Andreas Chris Febrianto
TRIBUNSOLO.COM, SOLO - Toko jersey bola di Solo pernah mengalami masa kejayaan pada akhir 1990-an hingga awal 2010-an.
Salah satu pelakunya adalah Anastasia, perempuan lansia yang tinggal di Jalan Pangeran Wijil, Kelurahan Tipes, Kecamatan Serengan, Kota Solo.
Hingga kini, Anastasia masih menyimpan lebih dari 50 jersey atau seragam sepak bola hasil desainnya sendiri.
Koleksi tersebut menjadi saksi perjalanan panjang usahanya membangun toko jersey Bolamania yang pernah dikenal luas oleh pecinta sepak bola.
Puluhan jersey itu berasal dari berbagai tim, mulai dari klub lokal Solo hingga sejumlah tim yang berlaga di kompetisi sepak bola Indonesia.
Bahkan beberapa klub ternama pernah mempercayakan pembuatan seragam kepada dirinya.
Anastasia menuturkan, bisnis yang dirintis bersama almarhum suaminya berawal dari kecintaannya terhadap sepak bola sejak muda.
Kecintaan itu tumbuh saat dirinya bekerja sebagai wartawan di Jakarta dan kerap meliput pertandingan sepak bola.
Pengalaman yang paling membekas adalah ketika meliput laga Timnas Indonesia melawan Argentina pada 1978.
Sejak saat itu, ia semakin mengikuti perkembangan sepak bola, baik kompetisi dalam negeri maupun internasional.
Namun, hobinya tersebut sempat terhenti setelah menikah dan memutuskan kembali ke kampung halamannya di Solo.
Perjalanan hidup kemudian membawanya menikah untuk kedua kalinya dengan seorang penggemar sepak bola yang juga aktif di lingkungan sepak bola Kota Solo.
Dari sanalah lahir ide untuk membuka usaha penjualan jersey sepak bola.
Anastasia dan suaminya mendirikan toko jersey bernama Bolamania pada 1997.
"Bukanya tahun 1997, di tahun itu saya ingat betul saya sendiri menggambar Batistuta (eks penyerang timnas Argentina) untuk dipajang di depan toko. Jadi di tahun itu kita benerin rumah untuk jual kaos sepak bola," ungkap Anastasia saat ditemui TribunSolo.com, Jumat (5/6/2026).
"Kenapa saya memilih sepak bola untuk berbisnis itu karena saya suka sepak bola mulai dari tahun 1976. Itu saya di Jakarta untuk meliput sepak bola," lanjutnya.
Pada masa awal, Anastasia menjual jersey replika yang diproduksi rekan-rekannya yang bekerja di bidang konveksi dan jahit.
Ia mengaku desain jersey saat itu banyak terinspirasi dari majalah olahraga yang menampilkan klub-klub Eropa, khususnya dari Liga Italia yang sedang populer.
"Dulu kita nyari model kaos dari majalah. Zaman itu tim-tim Italia masih terkenal. Jadi kota cari terus kita bikin dan jual akhirnya laris. Jadi dari lihat poster-poster itu terus kita bikin," urainya.
Saat membuka usaha, sebenarnya sudah ada beberapa toko serupa di Solo.
Namun pengalaman suaminya yang pernah aktif dalam kepengurusan Persis Solo menjadi keuntungan tersendiri dalam memperkenalkan usaha tersebut.
"Sudah ada toko lain seperti di belakang Stadion Sriwedari tapi belum ramai. Mungkin karena pemiliknya tidak berkecimpung di sepak bola. Kalau suami saya kan bergaulnya dengan penggiat sepak bola," jelasnya.
Menariknya, jersey pertama yang berhasil terjual bukanlah klub-klub Italia yang saat itu sedang populer.
"Itu, manchester city Rp 15 ribu. Itu bikinan sendiri," sebutnya.
Seiring waktu, usahanya semakin berkembang.
Anastasia kemudian menemukan pemasok jersey berkualitas yang membuat penjualannya meningkat pesat.
"Habis itu saya tahu ada tempat kulakan, jersey-nya bagus bikinan austy. Saya modal Rp 9 ribu dan saya jual Rp 25 ribu langsung laku keras itu. Itu saya ingat banget yang laku keras jersey Bayern Munchen yang saya pajang di paling depan," imbuhnya.
Memasuki awal tahun 2000-an, perkembangan bisnis Bolamania semakin pesat.
Bersama suaminya, Anastasia bahkan mendirikan klub sepak bola lokal bernama POP Bolamania.
Klub tersebut merupakan kolaborasi antara komunitas sepak bola anggota kepolisian dengan Bolamania.
"Itu terkenal mulai buka, kebetulan karyawan saya hampir semua pemain sepak bola walaupun lokalan. Bahkan kalau ada turnamen lokal gitu kita ikut atas nama POP Bolamania," terangnya.
"Itu awalnya daripada kita cuma jadi sponsor saja ketika ada turnamen yaudah ikut sekalian. Ternyata sering juara," tambahnya.
Baca juga: Tergerus Persaingan, Toko Jersey Legendaris Bolamania Solo Tutup Setelah Puluhan Tahun Beroperasi
Perkembangan bisnis Bolamania tidak hanya berhenti pada penjualan jersey.
Anastasia dan timnya kemudian membangun konveksi sendiri dan mulai menerima pesanan pembuatan seragam tim.
Awalnya, pesanan datang dari berbagai kecamatan di Kabupaten Wonogiri.
"Yang pernah kita buatkan jersey itu awalnya mulai dari Wonogiri. Hampir semua kecematan di sana minta kami untuk membuatkan seragam. Satu tim itu kita buatkan 2 jenis seragam," urainya.
Kepercayaan kemudian datang dari klub-klub yang lebih besar.
"Setelah itu pertama kali pesan itu Persiba Bantul itu sekitar setelah tahun 2010-an. Setelah Persiba itu banyak yang pesan seperti PSS, Persis Solo, sampai Persipura Jayapura. Sempat juga kita didatangi timnas Timor Leste waktu main di Solo, kebetulan ketika mereka ketinggalan jerseynya," sebut dia.
Salah satu pengalaman paling berkesan adalah saat Timnas Timor Leste meminta bantuan mendadak karena perlengkapan mereka tertinggal.
Anastasia diminta membuat dua jenis jersey lengkap hanya dalam waktu satu hari.
"Minta tolong jadi sore kayak gini datang, besok sore minta harus jadi. Itu sekitar 60 pasang jersey," katanya.
Tantangan tersebut berhasil diselesaikan, termasuk pembuatan desain logo tim nasional yang dipasang pada jersey.
Puncak kejayaan Bolamania terjadi saat demam sepak bola nasional pada ajang Piala AFF 2010.
Ketika Timnas Indonesia diperkuat Cristian Gonzales dan Irfan Bachdim, permintaan jersey meningkat drastis.
"Waktu Indonesia diperkuat Gonzales dan Irfan Bachdim itu omzet saya per hari bisa sampai Rp 20 juta. Itu cuma dari jersey timnas. Bahkan buka sebentar langsung habis dalam berapa jam saja," kata dia.
Angka tersebut menjadi salah satu pencapaian terbesar dalam perjalanan bisnis yang dirintisnya selama puluhan tahun.
Baca juga: Mengenang Toko Jersey Bolamania Tipes Solo, Dulu Jadi Jujugan Pecinta Bola Kini Tinggal Nama
Masa kejayaan Bolamania mulai meredup setelah suami Anastasia meninggal dunia pada 2016.
"Itu ketika suami meninggal tahun 2016, ngelanjutin sudah kayak lemas gitu," sebutnya.
Selain kehilangan sosok pendamping, berbagai persoalan internal turut memengaruhi keberlangsungan usaha yang telah dibangun selama lebih dari dua dekade.
Akhirnya, pada 2019, Anastasia memutuskan menutup Bolamania meski saat itu masih menerima pesanan dari pelanggan.
"Dulu kita tutup dengan senyum padahal masih ada pesanan. Itu mungkin 2019," pungkasnya.
(*)