TRIBUN-BALI.COM, AMLAPURA - Wisuda menjadi momen yang tak terlupakan bagi setiap mahasiswa. Namun bagi I Kadek Yogi Suardana (21), perayaan kelulusannya dilakukan dengan cara yang tidak biasa.
Lulusan Program Studi S1 Pendidikan Jasmani, Kesehatan, dan Rekreasi Undiksha itu memilih berjalan kaki dari kampusnya di Singaraja, Buleleng, hingga rumahnya di Desa Sebudi, Kecamatan Selat, Karangasem.
Video Kadek Yogi saat melakukan aksi berjalan kaki dari Singaraja ke Karangasem itu sempat viral di media sosial.
Baca juga: Siapkan Layar Lebar, De Berry Bidik Ceruk Pasar Turis Asing di Piala Dunia 2026
Perjalanan sejauh puluhan kilometer itu tidak hanya menjadi tantangan fisik bagi Yogi. Langkah demi langkah yang ditempuh selama hampir 23 jam itu merupakan simbol perjuangan panjang yang telah dilaluinya selama menempuh pendidikan tinggi.
Yogi berhasil menyelesaikan kuliah dalam waktu 3,9 tahun dengan capaian akademik membanggakan, yakni IPK 3,93. Namun di balik prestasi itu, tersimpan cerita perjuangan yang tidak selalu berjalan mulus.
Baca juga: Proyek Marina Bay City Berbuntut Panjang, Investor Asing Lapor ke Polda Bali
Ia mengaku sempat mengalami masa sulit saat aktif berorganisasi di kampus. Kesibukan mengikuti berbagai kegiatan membuatnya tertinggal hingga 12 SKS. Kondisi tersebut sempat membuatnya kehilangan kepercayaan diri karena beberapa mata kuliah semester tiga harus diulang dan diambil kembali pada semester lima.
"Ketika itu saya sempat tidak percaya diri. Tapi saya berpikir harus tetap bangkit dan membuktikan bahwa saya bisa menyelesaikan kuliah tepat waktu," ujarnya, Jumat (5/6/2026).
Tekad itulah yang kemudian membawanya menuntaskan studi dengan hasil memuaskan. Sebagai bentuk rasa syukur atas pencapaian tersebut, serta sebagai bentuk sesangi "janji perribadinya" ia memutuskan melakukan perjalanan jalan kaki dari kampus menuju rumahnya di Karangasem.
Keputusan itu awalnya dianggap aneh oleh sebagian teman-temannya. Bahkan ada yang menganggapnya tidak masuk akal. Namun Yogi tetap mantap menjalankan niatnya.
"Saya bilang mau jalan kaki dari kampus sampai rumah. Banyak yang bilang saya gila atau nekat. Tapi saya ingin membuktikan bahwa saya bisa," katanya.
Tak hanya sebagai bentuk syukur, perjalanan tersebut juga dimanfaatkannya untuk menggalang donasi. Melalui aksi yang dibagikannya di media sosial, Yogi berhasil mengumpulkan sekitar Rp2 juta yang kemudian disalurkan kepada panti asuhan.
"Saya ingin menunjukkan bahwa sehat itu bisa berdampak. Ilmu yang saya dapatkan juga harus bermanfaat dan bisa dibagikan kepada orang lain," ujarnya.
Dalam perjalanan, berbagai tantangan harus dihadapi. Salah satu yang paling berat justru bukan tanjakan, namun jalan turunan yang membuatnya meraskan rasa sakit akibat gesekan pada kaki. Bahkan ia harus menyiasatinya dengan memasang pembalut di dalam sepatu agar lebih nyaman untuk berjalan.
"Momen paling berat saat kaki mulai lecet di Desa Pempatan (Kecamatan Rendang). Kalau tanjakan masih bisa dilawan dengan tenaga. Tapi saat turunan dan kaki sudah sakit, itu yang menjadi tantangan besar," kenangnya.
Selama perjalanan, Yogi juga menjaga kondisi tubuh dengan tidak makan berlebihan. Ia hanya makan sekali karena khawatir tubuhnya tidak siap jika terlalu banyak mengonsumsi makanan saat berjalan.
Ketika rasa lelah mulai datang, ia selalu mengingat perjuangan orang tuanya yang telah mendukung pendidikan hingga bisa menyelesaikan kuliah. Ayahnya, I Wayan Putu Astawa, merupakan pensiunan guru, sementara ibunya, Ni Komang Merta Asih, adalah ibu rumah tangga yang selama ini menjadi sumber semangat dan doa.
"Kalau mulai lelah saya ingat keluarga, terutama orang tua, yang sudah berjuang membantu saya kuliah. Itu yang membuat saya terus melangkah," ungkapnya.
Setelah hampir 23 jam perjalanan dengan beberapa kali beristirahat, Yogi akhirnya tiba di rumah. Kedatangannya disambut keluarga, tetangga, dan kerabat yang telah menunggu. Hal pertama yang dilakukannya setelah sampai adalah sembahyang sebagai ungkapan syukur.
Bagi Yogi, perjalanan tersebut menyimpan pesan penting bagi generasi muda. Ia berharap mahasiswa maupun pelajar tidak mudah pesimis ketika menghadapi kegagalan atau keterlambatan dalam proses pendidikan.
"Setiap perjalanan selalu dimulai dari langkah kecil. Kalau kita tidak percaya diri, semuanya akan terasa menjadi beban. Percaya pada kemampuan diri sendiri, jangan takut mencoba hal baru, aktif berorganisasi, tetapi tetap harus pandai mengatur waktu," pesannya.
Ke depan, Yogi bercita-cita melanjutkan pendidikan melalui jalur beasiswa dan mengabdikan diri sebagai tenaga pendidik. Ia ingin menjadi guru yang mampu membimbing generasi muda sekaligus memberikan dampak positif bagi masyarakat.
"Bagi saya, pendidikan bukan hanya untuk diri sendiri. Ilmu harus bisa dibagikan dan memberi manfaat bagi orang lain. Itu tujuan yang ingin terus saya perjuangkan," jelasnya. (mit)